Sobat Ambyar dalam Belenggu Simulacrum Reality

Published by KSM Eka Prasetya UI on

Oleh: Adli Muaddib Aminan (Staf Departemen Kajian dan Literasi, FIB 2018)

Semesta sepakat tahun 2019 adalah masa gemilang untuk orang-orang yang tengah dibuat porak-poranda oleh asmara. Ya, siapa yang tak kenal The Godfather of Broken Hearta.k.a Didi Kempot? Lagunya yang banyak mengisahkantentang patah hati, putus cinta, kerinduan tak berbalas, mencintai kekasih yang telah menjadi milik orang lain, serta topik sejenis lainnya, secara tiba-tiba mampu menjadi trenuntuk kalangan millenial. Realitas ini lantas menyentralkan suatu gerakan komunitas yang disepakati dengan nama “Sobat Ambyar”. Segala gejolak yang lekat berbau melankolia itu ditampung dalam sebuah wadah musik dengan tujuan utama: perayaan kesedihan secara kolektif.

Secara aklamatif, Sobat Ambyar menjadi satu-satunya nama komunitas penggemar musik yang menggandrungi lagu-lagu bertemakan patah hati ala Didi Kempot. Namun,  tidak bisa kita lupakan pula, Didi Kempot sebenarnya telah mendahului popularitasnya jauh sebelum embel-embel identitas itu disematkan. Mulai dari masa bapak-ibu kita hingga orang-orang di negara Suriname telah menjadikannya sebagai sosok idola terlebih dahulu.

Bagi Sobat Ambyar, eksistensi diri tidak lagi diukur dari keberhasilan dan kesuksesan, tetapi juga kegagalan dan kegamangan hidup. Makna dari idiom Sobat Ambyar mempertemukan dua realitas yang sebenarnya saling bertentangan: kesedihan dan goyangan. Tren mendengarkan lagu sambil bergoyang diiringi alunan musik koplo adalah stimulus untuk membuat ke-ambyar-an menjadi kaffah. Fenomena ini sebenarnya sangatlah profitable, dengan naiknya harkat martabat bahasa daerah yang digunakan oleh Didi Kempot dalam lagunya, yakni bahasa Jawa. Hal ini lantas mampu mendobrak pasar di dunia musik dengan penerimaan hangat oleh para pendengar (meskipun tak semua pendengar paham maknanya). Sebelumnya ketika ada seorang musisi membawakan karya dengan menyematkan bahasa daerah, hal ini mungkin akan dianggap konservatif, anti modernitas, dan sebagainya. Namun, fenomena yang sekarang terjadi seolah kontradiktif. Lagu-lagu Didi Kempot mampu diterima banyak golongan, dengan sumbangsih milenial yang berkoloni dalam satu wadah. Keberhasilan hal ini dibuktikan dengan tren lagu ini telah menginvasi panggung gigsdi mana-mana, baik itu festival musik indie yang digemari anak muda, sampai panggung jazz berlabel internasional.

Budaya masyarakat kontemporer dalam konteks Sobat Ambyar ini dapat dianalisis melalui teori sosial Jean Baudrillard. Baudrillard dalam risalah filosofisnya: Simulacra and Simulation, menjelaskantentang diskursus hubungan antara realitas, simbol, dan masyarakat. Hal ini memfokuskan pada signifikansi simbolisme budaya dan media yang terlibat dalam membangun pemahaman akan citra. Istilah simulasi dalam konteks wacana kebudayaan massa dijelaskan lewat bagaimana produksi, komunikasi, dan konsumsi itu saling bersinggungan dalam masyarakat konsumen. Budaya konsumerisme merupakan jantung dari kapitalisme yang di dalamnya terdapat ilusi, dikemas dalam wujud komoditi lewat strategi citraan. 

Kita lihat peran media saat ini sangatlah signifikan dalam mendistribusikan karya-karya yang dinikmati Sobat Ambyar. Sobat Ambyar menjadi konsumen yang tidak dapat lepas dari lagu-lagu melankoli. Di sinilah dunia hiperrealitas bekerja. Apakah benar kita ini sedang patah hati? Atau kita sedang larut dalam simulasi‘ambyar’yang menghegemoni? 

Celah lain dari fenomena ini menurut kacamata Baudrillard, masyarakat tidak lagi dikuasai oleh kelas sosial yang tunggal, melainkan telah berkembang dari fragmen-fragmen sosial budaya menuju massa yang lebih heterogen yang saling bersaing merebutkan hegemoni. Posisi Didi Kempot dengan karyanya hanya bersifat imanensi tanda daripada transendensinya. Kita amati banyak dari grup musik dangdut yang meng-cover karya-karya Didi Kempot hanya untuk menaikkan popularitas bermusik mereka. Penulis sebut disini Abah Lala MG 86, yang berhasil menggemparkan jargon “Cendol Dawet” lewat penyematannya di salah satu lagu Didi Kempot berjudul “Pamer Bojo”. Ini juga yang menjadi musabab trentotalnya Sobat Ambyar di kemudian hari.

Abah Lala mungkin masih bisa ditoleransi karena selain juga telah menaikkan pamor salah satu lagu Didi Kempot. Namun kita juga menyangsikan, banyak kemudian para peng-cover yang juga menumpang popularitas dari karya tersebut. Impotensi dalam berkarya nyatanya juga mampu masuk ke dalam sirkulasi pasar hiburan. Dapat dikatakan bahwa kita telah bergeser dari masyarakat yang didominasi oleh mode produksi menuju masyarakat yang dikontrol oleh kode produksi. Tujuannya telah beralih tidak hanya eksploitasi dan laba ke arah dominasi oleh tanda dan sistem yang menghasilkannya. Sobat Ambyar akhirnya hanyalah menjadi manusia-manusia yang hidup dalam simulasi melankoli manusiawi. Sementara pihak-pihak yang hanya mendayagunakan citranya adalah perlambang pemegang kapital sejati. 

Di masyarakat media dan konsumsi seperti ini, orang terjebak dalam permainan citra semu (simulacrum reality) yang semakin tidak berhubungan dengan realitas. Sehingga kenyataannya kita hidup di dunia simulacra, di mana citra suatu peristiwa telah menggantikan pengalaman dan pengetahuan empiris. Sobat Ambyar dipandang sebagai “lubang hitam” yang kehilangan seluruh makna, pesan, dan komunikasi, sehingga menjadikannya tak bermakna. Alhasil, jadilah mereka massa murung yang mengalami pseudo-melankolia. 

Namun ada hal yang perlu kita ingat, di era pascamodernisme seperti ini tampaknya kita ditakdirkan untuk menjalani hidup yang penuh simulasi, dan segala hal tentang “lubang hitam” yang tidak pernah kita pahami. Alternatif yang dapat kita formulasikan adalah dengan melakukan pertukaran simbolis. Simulacrum reality (realitas semu) tentang ke-ambyar­-an perasaan bisa kita geser ke dalam ke-ambyar-an yang riil.

Katakanlah ke-ambyar-an yang kita alami ini adalah tentang kesedihan dan kegelisahan dikarenakan kompleksitas masalah di sekitar kita: pendidikan, kasus-kasus pelanggaran HAM, narasi lingkungan sampai krisis iklim, dan lain sebagainya. Masalah-masalah ini notabene ada di depan kita, dan bukanlah wacana populis yang sekonyong datang lalu hilang. Dengan ke-ambyar-an riil ini harapannya akan timbul kepedulian mengawal dan turut menindak narasi-narasi tersebut. 

Mari kita akhiri petualangan di rimba ke-ambyar-an ini dengan mengutip salah satu quotes Muhammad Ali Ma’ruf, “perihal cinta kita semua pemula”. Ke-ambyar­-an kita ini pada hakikatnya berpangkal dari cinta. Dalam cinta yang kita semua di sini masih pemula, marilah kita isi dengan energi positif. Lantas dalam dunia yang dibelenggu simulasi ini, pertahankan pula ke­-ambyar­-an yang terisikan energi positif cinta: kepedulian terhadap kehidupan yang kompleks.

Salam, Sobat Ambyar!

Daftar Pustaka:

AR, Iqbal. (2019, September 13). Ketika Sobat Ambyar Semakin Banyak dan Menyebalkan. Diambil kembali dari mojok.co: https://mojok.co/terminal/ketika-sobat-ambyar-semakin-banyak-dan-menyebalkan/

Kellner, Douglas. (1989). Jean Baudrillard: From Marxism to Postmodernism and Beyond. Polity Press.

Sarup, Madan. (2003). Posstrukturalisme dan Posmodernisme, Sebuah Pengantar Kritis.Yogyakarta: Penerbit Jendela.

Wahyu, Tara. (2019, September 23). Cerita Abah Lala, Dibalik Jargon “Cendol Dawet”. Diambil kembali dari Kumparan.com: https://kumparan.com/bengawannews/cerita-abah-lala-dibalik-jargon-cendol-dawet-1rurEKoPJRa

editor : Aulia Nafitri (Staf Departemen Hubungan Masyarakat, FISIP 2018)

ilustrasi : Aida Safitri (Kepala Departemen Hubungan Masyarakat, VOKASI 2017)

Salam,

KSM Eka Prasetya UI