Sikap Jakarta Sentris dalam Berbahasa Indonesia

Published by KSM Eka Prasetya UI on

Oleh: Farid Mubarok (Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi, FIB 2017)

Sewaktu masih duduk di salah satu SMP, sekolah kami di salah satu wilayah Jabodetabek, menerima salah seorang murid yang berasal dari Jawa Timur. Sebut saja namanya Anto. Teman-teman di sekolah menjulukinya sebagai Anto “Jawa” karena logat medok yang dituturkannya. Lama kelamaan, panggilan tersebut cukup menjadi “Jawa” saja untuk memanggil dirinya. Padahal, Anto berbahasa Indonesia dan merupakan penutur jati bahasa Indonesia. Namun, mengapa Anto mendapatkan diskriminasi dengan teman-teman lainnya?

Fenomena kebahasaan yang dialami oleh Anto sejatinya hanyalah sebuah gambaran kecil tentang bagaimana konstruksi pola pikir masyarakat urban di wilayah Jabodetabek. Keragaman dialek dan rupa tutur bahasa Indonesia seolah mati ketika berhadapan dengan dialek Jakarta, yang merupakan ragam bahasa dominan di wilayah ini. Stigma dan stereotip langsung melekat ketika seseorang berbicara dengan dialek bahasa Indonesia yang bukan dialek Jakarta. Hal ini dapat dilihat bagaimana masyarakat di wilayah urban Jabodetabek melekatkan citra “kampungan” bagi mereka yang berbicara dengan logat yang medok, ngapak, atau nyablak. Bahkan, dalam tingkatan yang paling ekstrem, seseorang dianggap tidak berbicara dengan bahasa Indonesia dengan baik dan benar apabila tidak sesuai dengan bahasa Indonesia dialek Jakarta.

Masyarakat Indonesia adalah kelompok masyarakat yang memiliki tingkat multilingualitas yang amat tinggi. Menurut pemetaan dari Badan Bahasa, setidaknya terdapat 652 bahasa daerah yang masih eksis hingga saat ini (kemdikbud.go.id). Dengan tingkat variasi bahasa yang tinggi ini, setidaknya situasi kebahasaan di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, bahasa etnik, bahasa Melayu Tempatan, bahasa kolokial bahasa Indonesia, dan bahasa Indonesia standar. Bahasa etnik merupakan bahasa yang dituturkan oleh kelompok etnik atau yang biasa kita sebut sebagai bahasa daerah. Bahasa Melayu Tempatan adalah bahasa Melayu yang dijadikan lingua franca antar kelompok etnik di suatu daerah. Sementara, bahasa kolokial bahasa Indonesia, adalah bahasa Indonesia yang bersifat lisan dan dituturkan sehari-hari di suatu daerah.

Gufran Ali Ibrahim dan Luh Anik Mayani (2019), menyebutkan bahwa bahasa Indonesia Kolokial Jakarta, kini tengah menggerus keberadaan bahasa Indonesia, bahasa Melayu Tempatan, dan bahasa Etnik. Sebagai bahasa dengan varietas tengahan, bahasa Kolokial Jakarta melakukan penggerusan ke samping terhadap bahasa Melayu Tempatan, ke bawah terhadap bahasa etnik, dan ke atas terhadap bahasa Indonesia standar. Jika terus begini, lama-kelamaan situasi kebahasaan di Indonesia akan bergerak homogen dan akan mematikan keberagaman yang ada di negara ini. Tak hanya mematikan bahasa etnik dan Melayu  Tempatan, celakanya, penggunaan bahasa Indonesia yang memiliki dialek atau logat selain Jakarta, dianggap “lain” serta berbeda dari apa yang mereka definisikan sebagai “bahasa Indonesia”. Mengapa hal ini terjadi?

Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh Kumparan, mantan Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia Kolokial Jakarta, akan meningkatkan prestise seseorang. Hal inilah yang menyebabkan varietas bahasa ini semakin digandrungi oleh masyarakat yang tinggal di wilayah yang bahkan berjauh-jauh kilometer jaraknya dari Jakarta. Media massa berperan besar dalam mempromosikan bahasa Indonesia Kolokial Jakarta. Hal ini dapat kita lihat bagaimana berita-berita, film, sinetron, bahkan radio, yang terus menerus menampilkan corak berbahasa Indonesia ala Jakarta sebagai gaya hidup masyarakat urban ibukota.

Pierre Bourdieu (1991) mengatakan bahwa pertukaran bahasa selalu berhubungan dengan kuasa simbolik yang mana relasi kuasa antar para penutur atau masing-masing kelompok diaktualisasikan. Dominasi satu bahasa terhadap bahasa lain merupakan sebuah proses pertarungan antara masing-masing habitus dalam arena produksi kultural. Habitus dapat diartikan sebagai sebuah “cara” atau “kebiasaan” yang terinternalisasi pada diri seorang individu yang dihasilkan dari proses sosial dan sejarah. Habitus pun dapat tereksternalisasi secara sadar atau tidak sadar pada diri seseorang. Sementara, arena adalah medan pertarungan antar habitus dengan senjata berupa akomodasi modal. Bourdieu mengklasifikasikan modal ke dalam empat bentuk, simbolik, kultural, ekonomi, dan sosial. Kemenangan suatu habitus di dalam arena ini melahirkan apa yang disebut sebagai kuasa simbolik, yaitu kekuasaan yang dimiliki suatu habitus terhadap suatu habitus lainnya yang terjadi secara tidak tampak dan diakui sebagai sesuatu yang sah.

Bahasa Indonesia Kolokial Jakarta merupakan hasil kultural dalam arena produksi kultural. Dominasi bahasa Indonesia Jakarta terhadap varietas bahasa lainnya di Indonesia, pada dasarnya adalah manifestasi dominasi kelas urban Jakarta. Kelompok ini berasal dari kelompok ekonomi kelas menengah-atas yang mendominasi kelas lainnya, bukan hanya di Indonesia, tetapi di Jakarta itu sendiri. Modal ekonomi ini dikonversikan ke dalam bentuk modal simbolik dan modal kultural kelompok ekonomi kelas menengah atas urban Jakarta. Hal ini dapat dibuktikan dengan ikut tergerusnya pula status bahasa Betawi sebagai bahasa Melayu Tempatan di Jakarta, oleh bahasa Indonesia Kolokial Jakarta. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Diar Luthfi Khairina (2015) menyebut, bahwa bahasa Betawi di daerah Condet, mengalami penurunan jumlah penutur dan tergantikan oleh bahasa Indonesia.

Bourdieu mengatakan, bahwa dalam arena produksi kultural, terdapat dua buah modal yang paling berperan, yakni modal simbolik (prestise, kekuasaan, kehormatan) dan modal kultural (pengetahuan, moral, dll.). Kelompok masyarakat urban Jakarta yang berasal dari kelompok menengah atas, memiliki akumulasi modal yang lebih besar daripada kelompok lainnya yang berada di luar Jakarta. Pertama, modal simbolik. Sebagai pusat pemerintahan, pusat kekuasaan negara berada di Kota Jakarta, sehingga kelompok ini mendapatkan kuasa yang lebih dibandingkan kelompok lainnya. Dikarenakan kehidupan ekonomi kelompok ini yang lebih baik, mereka mendapatkan penghormatan yang lebih di tengah masyarakat. Peran media seperti dalam industri film, yang mencitrakan kehidupan mewah kehidupan urban Jakarta, turut menambah prestise kelompok masyarakat ini.

Selain modal simbolik, modal selanjutnya yang terakumulasi sebagai hasil dari konversi modal ekonomi kelompok masyarakat ini adalah modal kultural. Karena memiliki uang, mereka dapat lebih mudah untuk mendapatkan modal kultural. Kaum kelas menengah-atas urban Jakarta, memiliki kemampuan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dibanding kelas di bawahnya. Sehingga mereka memiliki pengetahuan dan legitimasi moral yang lebih besar dibanding orang-orang yang tidak memiliki kesempatan tersebut. Sehingga, mereka memiliki kuasa yang lebih besar dalam mengeksternalisasi habitus yang mereka miliki di dalam arena produksi kultural. Oleh karena itu, bahasa Indonesia yang dituturkan masyarakat urban Jakarta ini, semakin mendapatkan dominasinya dibanding bahasa-bahasa yang lain.

Akumulasi modal kultural dan simbolik sebagai hasil konversi modal ekonomi yang dimiliki oleh kelompok menengah-atas urban Jakarta, melahirkan bahasa Indonesia Kolokial Jakarta sebagai bahasa yang dianggap lebih “prestise” dan menempati hierarki yang lebih tinggi dalam situasi linguistik di Indonesia. Kelompok masyarakat ini pun akhirnya melakukan kekerasan secara simbolik kepada kelompok lainnya, yang dianggap “tidak berbahasa dengan baik” – alias berbahasa Indonesia dengan dialek yang berbeda dengan yang ada di Jakarta. Sehingga, masyarakat di luar Jakarta pun, menjadi subordinat dan menganggap penggunaan bahasa Indonesia Kolokial Jakarta sebagai suatu bentuk yang lebih prestisius dibanding bahasa etnik mereka sendiri, bahasa Melayu Tempatan, dan bahasa Indonesia baku serta bahasa Indonesia dialek selain Jakarta.

Padahal, dalam dialektologi, tidak dikenal bentuk bahasa baik dan bahasa buruk. Pada dasarnya, bahasa adalah sebuah praktik ujaran yang lahir dari habitus yang membentuk para penuturnya dan menciptakan persepsi realitas bagi masing-masing individu. Ide mengenai purifikasi bahasa ini, disebut sebagai purism, di mana bahasa disaring dan dikelompokkan menjadi bahasa yang baik dan buruk. Apabila praktik ini terus menerus terjadi di masyarakat, purism akan berevolusi menjadi linguicism, yaitu bentuk diskriminasi terhadap kelompok bahasa yang berbeda. Stigma dan stereotip yang dilekatkan oleh masyarakat Indonesia terhadap kelompok berbahasa yang tidak bertutur bahasa Indonesia Kolokial Jakarta–seperti ngapak, medok, nyablak, dll–akan  berubah menjadi diskriminasi apabila tidak terbangun kesadaran di tengah masyarakat.

Fenomena Jakarta sentrisme dalam berbahasa di Indonesia, dapat mengancam situasi multilingualitas di Indonesia. Penegasian terhadap varietas bahasa yang bukan bahasa Indonesia Kolokial Jakarta dalam kelompok bahasa yang dianggap “baik”, akan menciptakan jarak antar masing kelompok bahasa di Indonesia. Akan ada kelompok masyarakat yang merasa “tidak bertutur bahasa Indonesia dengan baik” dan masyarakat yang “memiliki legitimasi terhadap bahasa Indonesia”. Padahal, penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, adalah suatu gagasan superfisial yang dirumuskan para pendiri bangsa untuk mempersatukan keberagaman bahasa yang ada di Indonesia. Segala bentuk perbedaan dialek dan logat adalah suatu keniscayaan yang menjadi berkah oleh bangssa Indonesia dan tidak boleh dimonopoli oleh suatu kelompok bahasa manapun!

Daftar Pustaka

Bourdieu, Pierre. 1991. Language and Symbolic Power. Amerika Serikat: Harvard University Press.

Diar, Khairina. 2015. Hubungan Bahasa Melayu dengan Bahasa Betawi di Wilayah Condet. Makalah pada Seminar Linguistik di Universitas Pendidikan Indonesia 2015.

Dwizatmiko. 2010. Kuasa Simbolik Menurut Pierre Bourdieu: Sebuah Telaah Filosofis. Skripsi pada Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Ibrahim, Gufran Ali & Mayani, Luh Anik. 2019. Perencanaan Bahasa Indonesia Berbasis Triglosia. Jurnal Masyarakat Linguistik Indonesia, Volume ke-3 No. 62.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Badan Bahasa Petakan 652 Bahasa Daerah di Indonesia. Dikutip dari https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2018/07/badan-bahasa-petakan-652-bahasa-daerah-di-indonesia pada Rabu, 20 November 2019 pukul 22.18 Waktu Eropa Tengah.

Kumparan. 2019. Lu, Gue, dan Fenomena Jakarta Sentris dalam Berbahasa Indonesia. Kumparan.com. Dikutip dari https://kumparan.com/kumparannews/lu-gue-dan-fenomena-jakarta-sentris-dalam-berbahasa-indonesia-1qpTVPOEIvR pada Rabu, 20 November 2019 pukul 22.22 Waktu Eropa Tengah.

Ningtyas, Eka. 2015. PIERRE BOURDIEU, LANGUAGE AND SYMBOLIC POWER. Jurnal Poetika Vol. III No. 2, Jogjakarta: Universitas Gadjah Mada.

Syaf, Edy Junaedy. 2017. PERTARUNGAN SIMBOL IDENTITAS ETNIS SEBAGAI KOMUNIKASI POLITIK DALAM PILKADA KOTA MAKASSAR. Jurnal Komunikasi KAREBA Vol. 6 No.2. Dikutip dari http://journal.unhas.ac.id/index.php/kareba/article/viewFile/5274/2845 pada Rabu, 20 November 2019 pukul 22.20 Waktu Eropa Tengah.

editor: Chika Virginia (Wakil Kepala Departemen Humas, FIB 2017)
ilustrator: Aida Safitri (Kepala Departemen Humas, Vokasi 2017)

Salam,

KSM Eka Prasetya UI

Bernalar Membangun Negeri