Penggunaan Kata Wibu dalam Pendekatan Descriptivist?

Published by KSM Eka Prasetya UI on

[#KajianCUK]

“Penggunaan Kata Wibu dalam Pendekatan Desriptivist”

Oleh: Abdurrazzaq Fathur Luthan (Staf Departemen Penelitian, FPsi 2018)


Tebak, apa arti kata “wibu”? Banyak orang lumrah mengartikan wibu sebagai orang yang memiliki kegemaran hal yang berhubungan dengan Jepang secara umum. Akan tetapi, beberapa orang justru mendefinisikan wibu sebagai orang yang berlebihan kegemarannya kebudayaan Jepangnya (definisi yang ditekankan oleh banyak penggemar anime). Selain itu, hal yang awalnya digunakan sebagai panggilan antara sesama orang penggemar Jepang—terutama penggemar anime—sekarang digunakan oleh banyak orang; tidak sedikit orang kesal kepada orang lain karena adanya penggunaan wibu yang tidak tepat. Lalu, mengapa semua ini terjadi? Jawaban ada di dalam pendekatan descriptivist dalam pemakaian bahasa.

Pandangan descriptivist adalah pendekatan linguistik yang mencoba merangkum penggunaan bahasa yang berbeda-beda; perihal ini berbeda dengan pendekatan prescriptivist yang menekankan pada ketepatan penggunaan bahasa sesuai dengan tata bahasa (Calude, 2016). Pendekatan descriptivist menekankan pada karakteristik penggunaan bahasa. Gove & Merriam-Webster (2002) di dalam buku Websters Third New International Dictionary of the English Language, mengungkapkan karakteristik dari pendekatan descriptivist: bahasa selalu berubah, perubahan adalah hal yang normal, penekanan pada bahasa lisan, ketepatan terdapat pada penggunaan, dan penggunaan bahasa itu relatif.

Perkembangan descriptivist banyak digugat oleh berbagai pihak. Beberapa pihak yang menggugat adalah para prescriptivist dan Jacques Derrida dengan interpretasi pharmakon-nya yang membongkar bahasa lisan; semua ini terjadi karena adanya inkonsistensi logika pada pendekatan ini. Bisa dilihat dari penekanan pendekatan descriptivist awal memiliki beberapa permasalahan, di antaranya penggunaan siapa yang digunakan dan definisi siapa yang digunakan? Bisa dilihat dari kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Merriam-Webster, 大辞林国語 (Kamus Besar Bahasa Jepang), dan kamus bahasa lain, definisi dan penggunaan kata yang dipakai selalu terkait dengan institusi yang terikat dalam mendefinisikan penggunaan bahasa tepat.

Salah satu kesalahan pendekatan descriptivist awal ialah bahwa pendekatan ini mencoba memahami bahasa dengan pandangan positivistik, yaitu sesuai sains layaknya fisika dan biologi. Justru, permasalahan ini dapat dianalogikan dengan pandangan sains yang bertumpu pada kepercayaan. Apabila ada orang yang mempercayai listrik bergerak lebih cepat jika geraknya menurun, hal itu tentu menjadi sebuah teori yang harus diterima pula (Wallace, 2001). Pada kemudian hari, Pandangan descriptivist diperluas oleh adanya pragmatics, yaitu kemampuan bahasa untuk mengomunikasikan makna lebih dari apa yang diucapkan secara verbal (King, 2016) sebagai perluasan dari “penekanan pada bahasa lisan”. Serta, sang penafsir melalui teori resepsi (reception theory) oleh Hans Robert Jauss.

Teori resepsi oleh Hans Robert Jauss mendefinisikan teks sebagai “sesuatu yang membawa makna tidak selesai”. Fenomena ini bisa kita lihat dari perbedaan orang-orang dalam mengintepretasikan makna buku, film, dan musik, sebab manusia memiliki latar belakang budaya dan pengalaman hidup yang beragam (Mambrol, 2016). Dari situ, pendekatan descriptivist tepat digunakan sebagai kerangka pikiran dari cara kita menstruktur pandangan kita terhadap dunia dengan inovasi terkandung di dalam bahasa (Calude, 2016). Di antaranya adalah makna kata dalam kamus.

Masalah makna tidak tetap itu ada dari kritik bahasa positivistik sebab belum adanya kamus daring. Sekarang, banyak kamus bahasa berbasis pada pandangan descriptivist dalam mencatat makna bahasa yang dipermudah karena adanya kamus daring. Contohnya dapat dilihat dalam kamus daring referensi utama, seperti Merriam-Webster dan KBBI yang berbasis pada pandangan descriptivist. Kita bisa melihat berbagai penggunaan dan pencatatan kata yang tidak standar seperti irregardless dalam Merriam-Webster dari kata standarnya regardless dan expresso sebagai variasi dari penggunaan kata bakunya espresso. Lalu, kita juga bisa melihat penggunaan kata host yang memiliki makna tentara sekaligus pembawa acara. Dalam bahasa Indonesia, banyak sekali pencatatan kata yang tidak baku, seperti merk, resiko, dan materai, yang mendukung pula pencatatan secara descriptivist. Lagi pula, kamus bahasa gaul pun juga laris dipakai oleh banyak orang untuk mencari makna dari berbagai slang, seperti Kitab Gaul, Urban Dictionary, dan日本語俗語辞書 (Kamus Bahasa Gaul Jepang). Lantas, pertanyaan berikutnya adalah dari mana kata wibu itu berasal dan mengapa sekarang memiliki makna yang ambigu?

Wibu sendiri tidak serta merta memiliki arti penggemar anime atau budaya Jepang (yang kemungkinan fanatik). Wibu memiliki etimologinya dari akronim wapanese yang artinya wannabe Japanese (Phillip, 2019). Wapanese sendiri memiliki makna orang berkulit putih yang terobsesi oleh kebudayaan Jepang. Tentu, ini memiliki makna eksplisit terkait ras dan peniru. Kata ini terkadang juga me-”mantik” perpecahan di dalam diskusi daring; hal ini akan diperburuk ketika penggunaan wapanese diubah karena adanya word filter kata wapanese dalam forum daring. Kata wapanese diubah menjadi weeaboo yang diambil dari komiknya Nicholas Gurewitch berjudul weeaboo. Pengubahan weeaboo mempertahankan makna yang sama dari wapanese dengan penambahan makna tidak pantas dan layak dihukum. Tentu, makna kata ini memiliki makna yang hina di dalam pandangan banyak orang dan sama sekali berbeda dari penurunan kata Jepang yang mirip, yaitu otaku. Menurut kritikus Eiji Otsuka, otaku bermakna kata ganti orang kedua di dalam bahasa Jepang untuk mengajak berbicara orang yang memiliki kegemaran yang sama (Rich, 2016).

Berangkat dari konteks tersebut, tentu penggemar anime dan kebudayaan Jepang memiliki makna negatif dan mereka berusaha untuk menjauhi dirinya dari pemberian label seperti itu. Di Indonesia, penggunaan kata wibu (telah dipadankan sesuai pelafalan bahasa Indonesia) oleh penggemar anime dan kebudayaan Jepang sebenarnya juga ditolak oleh banyak penggemar anime dan digunakan secara ironis oleh sesama penggemar. Namun, kata wibu tidak terbatas penggunaannya oleh penggemar anime dan kebudayaan Jepang saja. Banyak orang selain penggemar pun turut menggunakan kata tersebut, walau dengan konotasi makna yang berbeda; konotasi tersebut adalah penggemar anime dan kebudayaan Jepang. Makna awal tergeserkan dan hilanglah konotasi ras serta konotasi kaum “hina” (walau tidak seluruhnya hilang) oleh banyak orang Indonesia yang mengingatkan kembali teori resepsi oleh Jauss, yaitu setiap orang selalu memaknai hal dengan pandangan yang berbeda-beda.

Dari landasan teori tersebut kita mengetahui bahwa bahasa yang kita gunakan tidak punya makna akhir. Banyak filsuf yang menggunakan bahasa sebagai hal yang bisa digunakan untuk menetapkan nilai yang bisa dianut oleh sebuah negara, seperti Johann Gottfried von Herder; ada pula yang memandang bahasa sebagai “permainan” (atau penggunaan berbeda untuk setiap penggunanya) oleh Wittgenstein. Sebagaimana Rick Roderick menjelaskan Derrida mengenai makna, “Meaning is not fixable or fixed even humanly in a certain way,” (Roderick, 2012). Makna kata wibu bisa diasosiasikan dengan “bau bawang” atau bisa diasosiasikan sebagai “diletan yang gigih”. Itu semua tergantung pada pengguna makna dalam kata.


DAFTAR PUSTAKA
[1] Calude, A. S. (2016). Does grammar matter? – Andreea S. Calude – YouTube. Retrieved April 18, 2019, from https://www.youtube.com/watch?v=Wn_eBrIDUuc.
[2] Gove, P. B., & Merriam-Webster, I. (2002). Webster’s third new international dictionary of the English language, unabridged (Unabridged.). Springfield  Mass.: Merriam-Webster. Retrieved from https://www.worldcat.org/title/websters-third-new-international-dictionary-of-the-english-language/oclc/965566313&referer=brief_results.
[3] King, L. A. (2016). The Science of Psychology: An Appreciative View (4th Ed.). New York City: McGraw-Hill Education.
[4]Mambrol, N. (2016). Reception Theory: A Brief Note | Literary Theory and Criticism. Retrieved April 18, 2019, from https://literariness.org/2016/11/02/reception-theory-a-brief-note/.
[5] Phillip. (2019). Weeaboo. Retrieved April 22, 2019, from https://knowyourmeme.com/memes/weeaboo
[6] Rich. (2016). OTAKU: What Japanese People Mean When They Say It. Retrieved April 23, 2019, from https://www.tofugu.com/japan/otaku-meaning/.
[7] Roderick, R. (2012). Rick Roderick on Derrida – The Ends of Man [full length] – YouTube. Retrieved April 18, 2019, from https://www.youtube.com/watch?v=LvAwoUvXNzU.
[8] Wallace, D. F. (2001, April). Tense Present: Democracy, English, and the Wars Over Usage, 39–58. Retrieved from https://harpers.org/wp-content/uploads/HarpersMagazine-2001-04-0070913.pdf.


Editor: Frederik Agnar Widjaja (Wakil Kepala Departemen Hubungan Masyarakat, FH 2017)
Ilustrator: Frederik Agnar Widjaja (Wakil Kepala Departemen Hubungan Masyarakat, FH 2017)


Salam,
KSM Eka Prasetya UI
Bernalar Membangun Negeri

Categories: KajianCUK