Orgasme Kaum Intelektual

Published by KSM Eka Prasetya UI on

[#KajianCUK]

“Orgasme Kaum Intelektual”

Oleh: Syahrul Ramadhan (Staf Departemen Kajian dan Literasi, FISIP 2018)


Seperti yang sama-sama kita ketahui, belakangan ini terjadi banyak sekali problematika yang melukai ibu pertiwi. Deretan luka yang melukai ibu pertiwi tak ayal dan tak dapat ditampikan justru datang dari pihak yang seharusnya menjaga dan mengayomi, merawat dan memperbaiki. Anak bangsa yang durhaka pada ibunya. Padahal peran seharusnya adalah menciptakan harmonisasi dan pluralisme, tetapi disalahgunakan untuk kepentingan sendiri dan sekelompok elit di tampuk kekuasaan yang disebut oligarki.

Deretan luka yang terjadi sekiranya tak perlu dimasukan dalam kajian ini. Penulis yakin para pembaca sudah mengetahui apa yang menjadi luka dari ibu pertiwi akhir-akhir ini. Bukan berarti bahwa penulis tidak tahu akan segala luka yang terjadi, tetapi kajian ini akan dipenuhi oleh luka dan duka jika semua permasalah dideskripsikan.

Lagipula, tujuan utama dalam kajian ini bukanlah untuk membahas substansi atau memberi solusi konkrit atas segala permasalahan yang terjadi. Penulis ingin mempertanyakan sekaligus mengkritik orang-orang dengan stereotip ‘kaum intelektual’.

Sesungguhnya, siapa orang-orang dengan stereotip ‘kaum intelektual’ ini? Jelas orang-orang yang hidup dan bekerja di lingkungan akademis. Seseorang yang memiliki akses terhadap dalamnya sumur dan luasnya lautan ilmu pengetahuan. Melihat segala luka yang terjadi pada ibu pertiwi, pertanyaan selanjutnya yang menyusul adalah: dimana ‘kaum intelektual’ kini dapat ditemui? Apa yang seharusnya mereka lakukan?

Keberkatan ‘kaum intelektual’ atas akses pengetahuan seharusnya dapat digunakan untuk menganalisis fenomena sosial secara kontekstual, terutama terhadap segala permasalahan yang sedang menimpa ibu pertiwi. Terlebih, ‘kaum intelektual’ seharusnya dapat menjadi motor penggerak bagi masyarakat luas, baik dari segi pembentukan wacana atau pergerakan yang inklusif. Mereka seharusnya tak lagi bisa ditemukan di gedung kelas ber-AC dengan segala fasilitas yang ada, karena tak ada waktu lagi untuk hal tersebut!

Mengapa hal ini menjadi suatu hal yang penting untuk dilakukan? Karena deretan luka yang menggores ibu pertiwi ini bukanlah suatu hal yang berdiri sendiri atau tanpa adanya agenda politis. Semua hal tersebut saling terhubung dan memiliki kepentingan oligarki di belakangnya. Hal ini bukanlah asumsi belaka, dapat dilihat pola-pola hubungannya. Mulai dari TNI-Polri yang ingin menjabat di sipil, perpindahan ibu kota, ‘pelemahan’ KPK dan menyusul pengesahan RUU bermasalah lainnya, tidak diselesaikannya kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi, hingga RUU KUHP yang memuat pasal mengenai penghinaan Presiden dan Wakil Presiden. Sebagai contoh, terdapat kepentingan oligarki yang melandasi segala permasalahan terjadi, seperti permasalahan pada isu pertambangan yang termuat dalam film Sexy Killer lalu. Semua hal tersebut menggugah nalar kita untuk bersikap skeptis dan tugas para ‘kaum intelektual’ adalah membongkarnya.

Kini kita tengah berhadapan dengan skema permasalahan yang lebih luas, yakni perubahan iklim dan krisis ekologi yang akan menyebabkan kepunahan massal ke-enam[1] serta pemanasan global yang tak hanya mengancam kehidupan ibu pertiwi, tetapi juga bumi. Sementara itu, implementasi agenda dan kepentingan oligarki pada kegiatan investasi dan pembangunan-pembangunan berkala tetap berlangsung. Tentu saja ini merugikan rakyat miskin yang tinggal di target pembangunan dan membahayakan masa depan karena industrialisasi. Pembangunan dan ambisi pertumbuhan membawa dampak pada kurangnya lahan penghijauan dan menyebabkan kerusakan lingkungan.

Pemerintahan yang dipilih guna merepresentasikan kebutuhan dan keinginan rakyat secara utuh kini telah rancu dan usang. Demokrasi kita dapat dikatakan hanya berada pada tataran formalistis dan menghasilkan aristokrasi baru yang tak melibatkan seluruh unsur dan elemen masyarakatnya. Selain itu, ‘kaum intelektual’ terus nyaman pada posisinya hingga tak dapat menjadi oposisi yang kuat terhadap segala kebijakan dan tindak-tanduk yang terjadi.

Di tengah segala permasalahan yang sedang melukai dan terus merobek-robek ibu pertiwi dan bumi, para ‘kaum intelektual’ seharusnya tak lagi orgasme dalam kelas dan pengajaran yang based on text book. Mereka seharusnya ditemukan dalam forum dan diskusi bebas yang dibuat secara inklusif bersama kawan-kawan yang tak memiliki ‘keberkahan’ yang sama. Belajar langsung bersama buruh, petani, dan masyarakat umum lainnya untuk membahas agenda dan kemana kita harus bergerak serta bagaimana sistem ekonomi-politik alternatif harus dikerahkan. Kita memerlukan demokrasi langsung, yang berjalan melalui citizen assembly dan beyond politics[2],seperti yang digagas oleh salah satu kelompok aktivis lingkungan terbesar di Eropa, Extinction Rebellion (XR).[3]

Semua ini untuk kita, ibu pertiwi dan bumi, keberlangsungan kehidupan setelah kita, anak dan cucu kita. ‘Kaum intelektual’ tak harus lagi berada di dalam kelas, tetapi  perkuliahan dan pembelajaran tetap harus dilakukan di jalanan, lapangan, dan forum-forum bebas. Melihat sedikit pada konteks perubahan sosial-ekonomi-politik Mei 68 di Prancis, peristiwa dimulai oleh pemogokan mahasiswa dan pelajar dari kelas-kelas dan lantas pembelajaran dilanjutkan di jalan-jalan.

Akhir kata, sekaligus penutup, akan mengutip Fellix Guattari: Semua untuk kita, untuk bumi kita, untuk demokrasi kita, untuk kelangsungan hidup manusia dan selain manusia, juga untuk anak-cucu kita. Kelas harus dihentikan, tetapi perkuliahan dilanjutkan di jalanan dan dalam forum bebas.[4]


DAFTAR PUSTAKA

[1] Bersumber dari https://cosmosmagazine.com/palaeontology/big-five-extinctions. Diakses pada 2 Oktober 2019, Pukul 2.19 WIB.

[2] TO, R. G. THE EXTINCTION REBELLION GUIDE TO CITIZENS’ASSEMBLIES.

[3] Berumber dari https://rebellion.earth/the-truth/demands/. Diakses pada 18 Oktober 2019, Pukul 2.08 WIB.

[4] Guattari, F. (2015). Lines of flight: For another world of possibilities. Bloomsbury Publishing.


Editor: Sarah Deborah (Wakil Kepala Departemen Humas, FKM 2017)

Ilustrator: Aida (Kepala Departemen Humas, Vokasi 2017)


Salam,
KSM Eka Prasetya UI
Bernalar Membangun Negeri