Notula Distamling: Kenapa Manusia Tidak Bunuh Diri?

Published by KSM Eka Prasetya UI on

Oleh Departemen Kajian Literasi KSM Eka Prasetya UI 2018
Kamis, 15 Maret 2018 (17.00-20.15 WIB)

80177

Sebagai suatu entitas, manusia kembali dihadapkan pada pilihan-pilihan di dunia. Dengan melihat realita dunia yang semakin hari semakin tidak memihak, bukankah terpikir bunuh diri adalah suatu penyelesaian untuk masalah manusia? Pada kesempatan ini, Departemen Kajian Literasi KSM Eka Prasetya UI 2018 menyelenggarakan sebuah diskusi taman lingkar (distamling) dengan pembahasan mengenai “Kenapa Manusia Tidak Bunuh Diri?”. Dalam diskusi ini, terdapat dua pembicara, yaitu Yudhistira Oktaviandi (FMIPA 2014) dan Mbak Ikhaputri Widiantini, S.S., M.Si. (Dosen Filsafat UI). Moderator dalam diskusi ini adalah Joshua Gabriel (FPsi 2016) sebagai staf dari Departemen Kajian Literasi KSM Eka Prasetya UI 2018.

Diskusi dimulai dari pemaparan Yudhistira mengenai bagaimana adanya peran genetika yang mempengaruhi eksistensi makhluk hidup dan manusia untuk hidup. Dalam teori Selfish Gene (Richard Dawkins), pengertian evolusi bukanlah monyet berubah menjadi manusia, tetapi evolusi ialah seleksi eksistensi alam. Ada berbagai macam variasi, sifat, warna, serta gradien-gradien di dalamnya. Seleksi alam memusnahakan sebagian entitas. Selfish gene bukan membuat kita menjadi selfish, tetapi genes itu sendiri yang selfish (dia yang ingin mempertahankan). Hal tersebut diwujudkan melalui manusia yang melakukan reproduksi guna menurunkan gen dari generasi ke generasi.

Setelah itu, muncul kekacauan antar makhluk hidup sebagai alat alami guna menjaga keberlanjutan. Hal ini mengenai bagaimana manusia dapat mengonsumsi makanan lebih efisien sehingga memerlukan energi lebih sedikit dan membuat otak berkembang serta melakukan banyak hal lainnya. Pada awalnya manusia berada di tengah dalam strata, lalu langsung melompat sehingga hierarki kita jauh lebih tinggi dibandingkan singa, harimau, hiu, dan sebagainya. Karena manusia sudah berada di paling atas dan alam mengandung konsep top-down (yang atas mengontrol populasi bawah), begitu pun manusia menjadi pengontrol semua yang ada di bawah. Jika semua manusia di paling atas, maka siapa yang mengontrol kita? Jawabannya ialah manusia sendirilah yang mengontrol kaumnya dan diwujudkan dengan timbulnya kekacauan dalam masyarakat.

Kekacauan itu sendiri telah ada dalam tingkat gen, yaitu dengan adanya mutasi, bukan sebagai tolok ukur tetapi untuk seleksi alam. Mengenai bunuh diri itu sendiri jika melihat segi evolusi pada hewan, maka bunuh diri tidak seperti manusia melainkan bentuk pengorbanan (bunuh diri untuk kelompoknya). Misalnya, monyet (menggunakan istilah altruism/selflessness) yang melakukan hal tersebut untuk dimangsa predator untuk menyelamatkan kawananannya. Contoh lainnya tikus-tikus kecil di sabana, satu tikus sengaja berteriak agar pemangsa mendekati sumber suara dan dimangsa sehingga kawanannya sempat melarikan diri. Kalau manusia melakukan bunuh diri itu terdiri dari banyak faktor seperti pengorbanan menyelamatkan keluarganya yang dirampok atau faktor psikis seperti stres, depresi, dan lain-lain. Sementara itu, kalau bunuh diri merupakan sesuatu yang normal itu bergantung pada alasannya. Hal tersebut merupakan suatu anomali karena manusia (makhluk hidup) yang didesain untuk eksistensialisme tetapi dia melawan hal tersebut.

Penjelasan berikutnya, dari Mbak Ikhaputri menegaskan bahwa pendekatan biologis (bunuh diri altruistis) yang berjarak dari konstruksi sosial, norma-norma mengenai benar atau salahnya bunuh diri, konstruktif yang terbangun di dalam pikiran, dan akhirnya muncul persoalan absurditas, apakah hidup punya tujuan atau berjalan begitu saja? Hal ini merupakan paradoks sebab memilih pemikiran bunuh diri, bahwa dia tahu apa yang akan diperbuat. Masalah eksistensialisme itu terdapat pilihan-pilihan yang berbenturan dengan urusan orang lain. Ketika manusia berbenturan dengan pilihan dan tidak tahu harus melakukan apa, sering kali terdapat pilihan yang mematikan secara eksistensialis.

Kematian tidak hanya badan, melainkan ada juga kematian sosial. Misalnya, mengikuti aturan tetapi tidak mengandung makna. Dukungan bunuh diri saat ini hanya kematian tubuh karena perspektif normatif. Berdasarkan perspektif filsafat, ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa bunuh diri merupakan pilihan utama. Kelompok konfusianisme itu merupakan hal yang mulia. Sebaliknya, kelompok yang menolak konsep bunuh diri menganggap bahwa bunuh diri bukan sesuatu yang salah tetapi menghilangkan tujuan manusia untuk hidup. Ada hal yang manusia takuti untuk menghadapi eksistensialisme, yaitu ketika manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan. Sebagai contoh, bunuh diri sosial pada manusia munafik hanya demi citra yang ingin diciptakan. Dengan tujuan determinasi agama, menjadikan berpikir tersebut adalah tujuan utama. Hal itu merupakan bunuh diri eksistensialisme, yaitu mengenai pilihan-pilihan hidup yang dimatikan untuk tujuan citra atau keselamatan hidup manusia.

Pembahasan berikutnya, mengenai apakah terdapat pembenaran terhadap bunuh diri? Untuk menjawab hal tersebut, dikembalikan kepada individu yang melakukan tetapi pilihan bunuh diri bukanlah pilih eksistensialisme karena itu hanya berlaku pada saat manusia hidup. Saat ia memilih mengakhiri hidup, maka pilihan eksistensialis berakhir. Pilihan eksistensialis hadir saat semua manusia ada dan menunggu kematian dengan adanya pilihan dalam hidup.
Pandangan bunuh diri sebagai pilihan eksistensialisme tidak dapat dibenarkan karena secara logis tidak ada konsekuensi atas pilihan bunuh diri tersebut. Tidak ada nilai moral tetapi melihat pada pilihan atas eksistensialis atau pilihan hidup. Ada konsep memilih karena keterikatan dengan pilihan tersebut. Namun, memilih sebab ingin lari atau lepas dari pilihan atau tindakan sebelumnya (bunuh diri ada di wilayah ini). Jika bunuh diri adalah pilihan eksistensialisme, maka ini menjadi tidak konsisten karena tidak ada konsekuensi hidup yang dijalankan. Bunuh diri bukan eksistensialisme. Hal ini mirip dengan konsep orang ingin melarikan diri dari persoalan hidupnya tetapi tidak ada masalah saat orang ingin bunuh diri.

Banyak tokoh eksistensialis mengambil konsep bunuh diri tetapi tokoh eksistensialis menolak bunuh diri. Adanya penderitaan dalam hidup justru menjadikan manusia tetap hidup dan eksis dalam hidupnya. Jika dikaitkan antara bunuh diri dengan perasaan depresif dan penderitaan, maka penderitaan itu harus melihat perspektif orang yang menganggap hal tersebut sebagai derita. Namun, dalam penderitaan atau pencarian mendalam tersebut memunculkan jalan pintas yang salah satunya adalah bunuh diri. Oleh karena itu, perlu adanya kontrol emosi dalam diri manusia sehingga tidak terlalu ekstrem dalam bahagia maupun sedih. Perasaan yang timbul itu dapat membuat penilaian-penilaian terhadap sesuatu. Dalam karya eksistensialis tokoh yang kita lihat menderita, dalam perspektif lainnya si tokoh tersebut merasa biasa saja, Dengan demikian, akan sangat jelas dengan pemilihannya. Dia akan melihat konsekuensi mana yang akan dijalankan. Sebagai contoh, saat terlalu senang atau kecewa, maka kita akan mudah menilai dengan subjektivitas.

Mengenai perasaan altruis, konsep tersebut tidak dapat diterima secara eksistensialisme karena adanya konsep gambaran diri terhadap orang yang melakukan pengorbanan. Dalam pendekatan eksistensialisme, tidak ada bunuh diri dengan alasan apapun. Selain itu, apakah dapat dikatakan baik atau buruk, tergantung pada manusia yang akan bunuh diri. Pemberian kesan altruis dan orang yang rela berkorban karena hal tersebut hanya diberi makna oleh orang-orang yang masih hidup. Penderitaan yang dilakukan oleh orang bunuh diri tidak menempatkan orang lain itu penting. Orang-orang eksistensialis tidak pernah egois sebab apabila hanya memikirkan diri sendiri berarti dia tidak eksistensialis. Eksistensialisme tetap membutuhkan masyarakat. Oleh karena itu, bunuh diri tidak dapat dikatakan penderitaan karena itu bukan masalah eksistensialisme.

***
Editor: Departemen Hubungan Masyarakat, KSM Eka Prasetya UI.