Menjalani Kehidupan Stoa: Tips Terbebas dari Stres sebagai Mahasiswa

Published by KSM Eka Prasetya UI on

[#KajianCUK]

“Menjalani Kehidupan Stoa: Tips Terbebas dari Stres sebagai Mahasiswa”

Oleh: Rafi Muhammad Akbar (Staf Departemen Kajian dan Literasi, FT 2018)

            Kita mungkin sering dipusingkan dengan segala lika – liku kehidupan yang tidak kunjung usai dan tekanan dari orang – orang sekitar turut memperburuk keadaan. Remaja maupun orang dewasa tidak lepas dari penatnya hidup di zaman yang serba kompetitif dan terus memaksa kita untuk dapat beradaptasi. Tidak mengherankan jika situasi seperti ini dapat menyebabkan stres tak terkecuali pada mahasiswa yang notabenetermasuk ke dalam kalangan muda. 

            Menurut Dilawati (dalam Syahabuddin, 2010) stres adalah suatu perasaan yang dialami apabila seseorang menerima tekanan. Tekanan atau tuntutan yang diterima mungkin datang dalam bentuk mengekalkan jalinan perhubungan, memenuhi harapan keluarga dan untuk pencapaian akademik[1]. Seperti yang kita ketahui, pencapaian akademik merupakan salah satu bentuk tekanan yang paling sering dialami oleh mahasiswa dan tidak sedikit yang berujung pada stres. Sebagian orang mungkin memandang bahwa persoalan akademik hanyalah sebuah fase yang dapat dilalui dengan disertai usaha yang beragam. Namun, bagi sebagian yang lain hal ini dapat menjadi persoalan yang tak kunjung usai.

            Salah satu ketakutan yang menimpa sebagian besar mahasiswa terutama yang berada pada tingkat akhir adalah mengerjakan skripsi. Berdasarkan penelitian Rosdiana Putri Arsaningtias dari Universitas Airlangga terhadap 221 mahasiswa, diketahui bahwa mereka mengalami stres dengan berbagai macam level ketika sedang mengerjakan skripsi. Ia mengatakan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami stres berat (25,8%), sedangkan sisanya merasakan stres normal (23,1%), stres ringan (12,7%), stres sedang (15,8%), dan stres sangat berat (22,6%)[2]. Tidak sampai di situ, stres berkepanjangan mengenai persoalan ini yang ditambah dengan tekanan lainnya mampu mendorong seseorang untuk mengakhiri hidupnya. 

            Seperti kasus bunuh diri yang dilakukan oleh salah seorang mahasiswa tingkat akhir Unpad berinisial RWB (24) pada penghujung tahun 2018 lalu. Berdasarkan kesaksian kekasih korban, laki-laki berusia 24 tahuntersebut sempat mengeluhkan soal kondisi keuangan keluarga dan skripsi yang belum selesai[3]. Dapat kita lihat bahwa persoalan skripsi dan keuangan dapat membuat seseorang bertindak nekat untuk mengakhiri hidupnya.

Ini hanyalah salah satu kasus dari sekian banyak kejadian yang diakibatkan karena seseorang mengalami tekanan atau bahkan depresi. Sebelumnya kita perlu mengetahui hal apa yang menjadi penyebab seseorang terus merasa stres. Penilaian atau interpretasi keliru seseorang terhadap hal – hal yang memicu stres merupakan penyebab utama orang larut dalam masalah yang dihadapinya. Menurut Lazarus dan Folkman (1984), Penilaian terhadap suatu peristiwa yang mendatangkan stres itu dapat berpangkal pada tiga pemikiran, yaitu penilaian tentang kerugian dan kehilangan (harm-loss), pemikiran tentang ancaman (threat), dan pemikiran tentang tantangan (challenge)[4].

            Berbagai permasalahan hidup semacam ini dapat kita kaji dari salah satu ilmu filsafat yaitu Stoisisme. Stoisisme adalah bagaimana kita bertahan dan mengatasi masalah atau penderitaan yang sedang kita alami (Janaro dan Althusler, 2003:493). Stoisisme sendiri dibawa oleh Zeno dari Citium (Siprus) sekitar tahun 300 SM dan berlanjut hingga 200 M. Hanya beberapa fragmen dari karya-karya para tokoh Stoa awal yang dapat diselamatkan, tetapi karya-karya para pengikutnya seperti Seneca, Epitectus, dan Marcus Aurelius di awal abad pertama dan kedua Masehi dapat selamat seutuhnya sehingga dapat diteliti secara mendalam. (Russel 2002:344)[5]. Konsep Stoisisme tidak hanya dapat diterima oleh suatu golongan saja karena konsep ini bersifat universal, bisa kita lihat contoh penganut Stoisisme Marcus Aurelius yang seorang kaisar Romawi dan Epictetus yang hanya seorang budak. 

            Inti dari ajaran Stoisisme adalah menggunakan rasio atau akal sehat dengan mengesampingkan emosi (perasaan) ketika merespon segala hal yang terjadi di hidup kita. Salah satu istilah yang sangat terkenal dalam Stoisisme adalah dikotomi kendali. Maksudnya adalah segala hal dalam hidup ini dibagi menjadi dua yaitu hal yang berada dalam kendali kita dan yang berada di luar kendali kita. Tugas kita adalah memaksimalkan apa yang berada dalam kuasa kita tanpa pusing atau depresi memikirkan hal sebaliknya.

            Henry Manampiring dalam bukunya yang berjudul Filosofi Teras memberikan sebuah kerangka berpikir yang disingkat STAR. Kepanjangan dari STAR adalah Stop, Think & Assess, dan Respond[6]. Langkah – langkah ini memudahkan kita dalam menerapkan ajaran Stoa di keseharian kita. Ketika kita terjebak dalam suatu masalah dan kalut dalam amarah, frustasi, atau emosi negatif lainnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan arus emosi tersebut. Saat emosi tak lagi berkuasa, kita bisa mulai berpikir dan menilai apakah perasaan-perasaan yang muncul secara spontan tadi benar atau tidak. Setelah kita mampu bernalar kembali, kita tinggal memutuskan respon terbaik untuk situasi tersebut. Mungkin terlihat mudah dipahami tetapi sebenarnya memerlukan latihan agar kita terbiasa untuk menerapkan cara hidup orang Stoa ini.

            Salah seorang filsuf dari Jerman, Nietzsche, mengemukakan sebuah ungkapan yaitu Amor Fati yang secara sederhana berarti mencintai takdir meski sebuah penderitaan. Ungkapan ini tentu berbanding terbalik dengan kebanyakan orang yang tersiksa karena penderitaan. Contoh sederhana yang diberikan Henry Manampiring tentang ungkapan tersebut adalah seekor anjing yang terikat pada sebuah gerobak. Ketika gerobak itu melaju, anjing tersebut memiliki pilihan untuk melawan arah gerak gerobak yang mungkin dapat menyakiti dirinya atau ikut kemana gerobak tersebut melaju dan tetap dapat menikmati keindahan perjalanan tanpa merasakan sakit. 

            Contoh lain yang sebagian dari kita mungkin sering mengalaminya yaitu berdesakan di dalam kereta demi sampai ke tempat tujuan tepat waktu. Pada situasi tersebut, orang – orang memiliki beberapa pilihan untuk merespon penderitaan mereka mulai dari ngedumel, mengeluh, hingga marah – marah ketika kakinya tak sengaja terinjak oleh penumpang lain. Namun, mereka memiliki pilihan lain seperti menikmati derita perjalanan sembari membaca e-book, mengedukasi diri dengan membaca atau menonton berita, dan melakukan hal positif lainnya. Nah, dari sini kita dapat melihat bahwa respon terhadap masalah yang muncul juga dipengaruhi oleh cara pandang kita mengenai sebuah penderitaan. 

            Begitu banyak permasalahan yang sudah atau akan kita alami selama kita masih hidup. Sudah seyogyanya kita melatih respon kita terhadap masalah tersebut. Bukan berarti kita tidak perlu memperhitungkan resiko yang mungkin terjadi ketika kita membuat keputusan, tetapi tentang bagaimana emosi negatif tidak berperan ketika rencana dan usaha tidak berbanding lurus dengan hasil. Kita harus melihat diri kita sendiri sebagai orang yang bertanggung jawab atas takdir kita sendiri. Ini tidak berarti bahwa kita dapat menentukan sepenuhnya semua hal yang mempengaruhi diri kita; banyak peristiwa besar yang tidak dapat kita pengaruhi. Meskipun demikian, kita tetap saja bertanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap masa depan kita dalam jalan kehidupan yang masih terbuka. (Kaufman dan Raphael,1994:8)[7].

Referensi Bacaan:

[1]http://eprints.ums.ac.id/37501/6/BAB%20II.pdf, Diakses pada 9 Mei 2019 

[2]https://tirto.id/depresi-karena-skripsi-kampus-dosen-wajib-menolong-mahasiswa-ddqy, Diakses pada 9 Mei 2019 

[3]Putra, Wisma, 2018. Diduga Stres Skripsi, Mahasiswa Unpad Gantung Diri di Indekos. News.Detik.com.https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4357539/diduga-stres-skripsi-mahasiswa-unpad-gantung-diri-di-indekos, Diakses pada 8 Mei 2019 

[4]http://eprints.unm.ac.id/2478/1/Buku%20-%20Stres%20Belajar.pdf, Diakses pada 9 Mei 2019 

[5]http://journal.umsurabaya.ac.id/index.php/didaktis/article/view/253/197%20diakses%2017-4-2019%20pada%2015.03, Diakses pada 17 April 2019 

[6] Manampiring, H, 2018. Filosofi Teras : Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk MentalTangguhMasaKini. Jakarta: Kompas Media Nusantara. 

[7] Kaufman, G. D, 1994. Dinamika Kuasa. Jakarta: Gunung Mulia.

Categories: KajianCUK