Menikahi Keluarga

Published by KSM Eka Prasetya UI on

[#KajianCUK]

“Menikahi Keluarga”

Oleh: Christy Lavenia (Wakil Kepala Departemen Penelitian, FMIPA 2017)


Hubungan “satu darah” incest bukanlah hal yang asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia. Incest tidak hanya dikarenakan ketertarikan yang akan dibawa menuju ke jenjang pernikahan, namun tindakan kekerasan yang memberikan dampak traumatis bagi korban. Pada dasarnya incest dibagi menjadi dua kategori, yaitu hubungan antara orang tua dan anak (parental incest dan hubungan antara saudara kandung (sibling incest). Kategori incest dapat diperluas lagi dengan menambahkan pihak yang bukan merupakan keluarga inti, seperti paman, bibi, kakek, nenek, dan sepupu (family incest) [1].

Keberadaan incest di Indonesia merupakan suatu hal yang dianggap tidak bermoral dan melanggar hukum. Banyaknya kasus kekerasan dan abuse seksual pada masa anak-anak dari keluarga dekat menjadikan incest semakin ditolak di mata masyarakat. Namun, keberadaan incest menjadi keharusan bagi suatu golongan atau suku tertentu sebagai jalan untuk mempertahankan regenerasi golongan atau suku tersebut. Keharusan tersebut berkaitan dengan hukum adat yang menjadikan incest merupakan perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan oleh si pelaku dan sanksi sosial bagi yang melanggar.

Suku Batak merupakan salah satu suku yang memperbolehkan adanya family incest dengan melakukan perkawinan pariban untuk mempertahankan regenerasi sukunya. Perkawinan pariban merupakan hubungan yang melibatkan pengantin laki-laki yang merupakan anak kandung ibu dengan pengantin perempuan yang merupakan anak kandung saudara kandung laki-laki ibu atau pengantin perempuan yang merupakan anak kandung ayah dengan pengantin laki-laki yang merupakan anak kandung saudara kandung perempuan ayah. Perkawinan pariban termasuk dalam incest family dan sah menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 2 Ayat 1 dan 2 tentang Perkawinan Lembaran Negara Republik Indonesia [3]. Sistem garis keturunan ayah (patrilineal) yang dianut oleh Suku Batak memposisikan anak laki-laki menjadi pihak yang sangat penting sebagai penerus marga. Namun, perkawinan incest semarga dianggap tabu bagi Suku Batak karena perempuan dan laki-laki yang memiliki marga sama dianggap sebagai saudara kandung.

Di balik pro dan kontra adanya incest di kalangan masyarakat Indonesia, faktanya masyarakat hanya tahu bahwa incest merupakan hal yang tidak bermoral dan melanggar hukum, tanpa mengetahui dampak yang diberikan dari hubungan tersebut. Secara biologis, hubungan sosial yang paling menonjol pada suatu populasi dibagi menjadi tiga yaitu, perkawinan acak yang membebaskan individunya memilih pasangan (non-random mating), perkawinan tidak acak dengan memilih individu yang memiliki kesamaan sifat, hobi, dan lain-lain (assortative mating), dan perkawinan tidak acak dengan memilih individu yang memiliki genetik yang dekat (inbreeding) [2]. Berdasarkan ketiga hubungan seksual tersebut, incest dapat dikaitkan dengan inbreeding (hubungan sekerabat). Konsekuensi yang diberikan dari inbreeding adalah frekuensi keturunan yang heterozigot lebih kecil dibandingkan random mating.

Penjelasan dibalik hal itu adalah bahwa gen merupakan unit pewarisan sifat yang diturunkan dari orangtua ke keturunannya. Sifat yang diturunkan tersebut memiliki dua kemungkinan yaitu, sifat dominan atau sifat resesif (hasil penyilangan gen paternal dengan gen maternal). Pada kasus penyilangan satu sifat (monohibrid) random mating, apabila paternal memiliki sifat dominan dan maternal memiliki sifat resesif, kemungkinan keturunan akan memiliki sifat dominan heterozigot. Apabila keturunan tersebut menikah dengan sifat yang dominan heterozigot juga, hasil keturunan yang akan didapat adalah 75% dominan dan 25% resesif, yang mana 2 sifat dominan merupakan heterozigot (perpaduan antara sifat dominan dan resesif), sehingga kemungkinan sifat resesif muncul kecil. Akan tetapi, hasil tersebut tidak berlaku pada kasus penyilangan satu sifat (monohibrid) inbreeding, yang mana frekuensi keturunan yang heterozigot lebih kecil dibandingkan random mating, sehingga kemungkinan sifat resesif muncul lebih besar.

Menurut hukum Hardy-Weinberg, salah satu syarat agar jumlah individu suatu populasi itu konstan adalah adanya random mating (perkawinan acak) [2]. Hal ini berkaitan dengan apabila suatu populasi mengalami isolasi reproduksi yang menyebabkan populasi daerah tersebut harus melakukan “hubungan kerabat”, maka kemungkinan penurunan jumlah individu di populasi tersebut tinggi. Hal ini berkaitan dengan adanya rasa keharusan suatu golongan atau suku untuk mempertahankan regenerasinya dengan melakukan incest. Akibat dari perilaku incest ini adalah adanya karakteristik sifat yang dominan pada suatu golongan atau suku, misalnya Suku Asmat dengan kulitnya yang berwarna gelap dan Suku Tionghoa dengan kulitnya yang berwarna terang. Hubungan “satu darah” dapat mempertahankan suatu sifat pada suatu golongan atau suku yang mungkin saja dapat menjadi bumerang dengan mengurangi jumlah individu suatu golongan atau suku tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
[1] Widayati, Lidya Suryani. 2009. Revisi
Pasal Perzinaan dalam Rancangan KUHP: Studi Masalah Perzinaan di Kota Padang dan Jakarta. Jurnal Hukum No. 3 Vol. 16: 311-336 hlm.
[2] Hartl, D.L. & Jones, E.W.. 2006. Genetics: Principles and Analysis, 4th ed. Jones and Bartlett Publishers, Sudbury, Massachusetts. xxiv + 829 hlm.
[3] Megawati, Rena. 2013. Tinjauan Yuridis Mengenai Keabsahan Perkawinan Pariban dalam Hukum Adat Batak Toba Dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Jurnal Wawasan Hukum No. 1 Vol. 28: 662-475 hlm.


Editor: Aulia Nafitri (Staf Departemen Hubungan Masyarakat, FISIP 2018)
Ilustrator: Aida Safitri (Kepala Departemen Hubungan Masyarakat, Vokasi 2017)


Salam,
KSM Eka Prasetya UI
Bernalar Membangun Negeri

Categories: KajianCUK