Notula Distamling: Kekerasan dalam OSPEK, Masihkah Diperlukan?

Published by KSM Eka Prasetya UI on

Tulisan ini semata-mata merupakan bentuk notulensi dari diskusi taman lingkar yang diadakan oleh Kajian Akhir Zaman pada Selasa 12, September 2017.

Tahun ajaran baru tentunya identik dengan mahasiswa baru. Membicarakan mengenai mahasiswa baru, maka kita tidak dapat begitu saja memungkiri ada orientasi mahasiswa baru atau yang lebih kita kenal sebagai OSPEK. Kali ini, Kajian Akhir Zaman dari KSM Eka Prasetya UI menyelenggarakan sebuah diskusi taman lingkar dengan pembahasan utama mengenai OSPEK. Pada kesempatan kali ini, diundang lah tiga narasumber, yakni: Dhuha Ramadhani (FISIP 2013), Bhakti Eko, M.A (Koordinator Kemahasiswaan FISIP UI), dan Ivan Sujana, M.Psi (Dosen F.Psi). Diskusi ini dimoderatori oleh Fadhil Firjatullah (FEB 2016) selaku anggota dari departemen kajian.

distamling-ospek-mahasiswa-bar

Mengawali paparannya, Dhuha Ramadhani menceritakan terlebih dahulu bagaimana ‘sejarah’ dari OSPEK itu sendiri. Ada dua versi umum dalam menceritakan awal mula adanya OSPEK. Pertama, diawali dengan di Cambridge University. Dibutuhkannya OSPEK pada masa itu disebabkan oleh asumsi bahwa banyak mahasiswa Cambridge yang berasal dari kalangan atas dan terhormat yang sulit diatur. Versi kedua, di STOVIA, Indonesia, sudah ada mekanisme semacam OSPEK. Dapat dilihat bahwa pada dasarnya mekanisme OSPEK sendiri sudah lama ada. Lalu. seiring dengan perkembangan zaman, semakin berkembang sampai ke ranah SMP dan SMA dengan situasi yang ada hierarkinya.

Pelaksanaan OSPEK di lingkungan universitas ini identik dengan adanya KOMDIS (Komisi Disiplin)–pihak yang dipercaya ada untuk menegakkan peraturan dalam suatu kegiatan orientasi. Namun, apabila ditilik kembali, keberadaan KOMDIS ini tidak memiliki relevansi dalam kegiatan orientasi. Merujuk pada pengalamannya sebagai panitia OSPEK, Dhuha pun menyatakan bahwa eksistensi dari KOMDIS itu pada dasarnya sudah tidak lagi diperlukan, tapi nyatanya masih tetap diadakan.

Ketika membicarakan solusi untuk menghilangkan KOMDIS, hal itu pada dasarnya menjurus pada penghapusan dari OSPEK itu sendiri

Ketika membicarakan solusi untuk menghilangkan KOMDIS, hal itu pada dasarnya menjurus pada penghapusan dari OSPEK itu sendiri. Menghapuskan divisi KOMDIS saja tidak cukup untuk menghentikan ‘kekerasan’ dalam OSPEK. Nyatanya, kekerasan yang disisipkan melalui OSPEK itu terjadi di semua divisi. Konsep dari OSPEK sendiri pun sudah tidak sehat. Adanya sesuatu yang menempel atau atribut-atribut pada panitia berarti menandakan panitia itu berbeda dengan pesertanya – menegakkan tubuhnya, memantapkan langkahnya, seperti ada kasta yang tercipta di antara panitia dan juga peserta.

diskusi-ospek-mahasiswa-baru-2

Memang, kekerasan tidak bisa disalahkan seutuhnya, tapi ada situasi lain yang membuatnya menjadi salah. Adanya suatu intimidasi dan suatu tekanan sudah termasuk kekerasan. Hal itu tidak bisa dihilangkan dari ospek. Kita tidak membutuhkan divisi KOMDIS ini, karena calon mahasiswa itu punya kemampuan adaptasi – mereka sudah hidup selama 18 tahunan. Sudah dewasa untuk dapat menyesuaikan diri.

Panitia selalu mendapatkan alasan-alasan yang menguntungkan kalangan mereka sendiri, salah satunya masalah ketepatan waktu – diperintah untuk kumpul cepat dengan dalil takut macet. Apa-apa yang ada di OSPEK pada nyatanya tidak menampilkan apa-apa di kehidupan perkuliahan. Misalnya, di OSPEK kalau ada yang terlambat langsung di beri hukuman, padahal ketika di dunia perkuliahan yang terlambat konsekuensinya dia tidak boleh masuk kelas atau tidak boleh melakukan presensi. Alasan-alasan yang digunakan untuk mempertahankan divisi ini tentu pada akhirnya menjadi tidak rasional.

Ketidakfungsian divisi tertentu dalam ospek terjadi di dalam kepanitiaannya itu sendiri. Tapi selalu ada alasan untuk tetap mempertahankan divisi tersebut, alasannya yaitu sebagai parameter. Banyak hal lain yang keluar sebagai argumen untuk mempertahankan bahwa KOMDIS masih perlu ada, tapi sebenarnya itu tidak masuk akal. Pandangan-pandangan lain yang sebenarnya merupakan alasan tepat terhadap suatu hal, tidak diterima hanya karena tidak sesuai dengan konsep OSPEK mereka.

Setelah Dhuha Ramadhani menyampaikan sedikit paparannya, diskusi dilanjutkan dengan paparan dari Mas Bhakti. Mas Bhakti menyatakan bahwa OSPEK dalama artian pengenalan kampus masih lah diperlukan. Akan tetapi, apabila OSPEK yang dimaksud adalah dengan mendandani mahasiswa baru dengan pakaian-pakaian lucu itu pastinya tidak perlu, tapi dalam praktiknya masih banyak yang menyelenggarakan hal tersebut.  Pada dasarnya, KAMABA (Kegiatan Mahasiswa Baru) merupakan bagian dari program yang dicanangkan oleh KEMENRISTEKDIKTI– harus ada program untuk penyambutan mahasiswa baru. Yang jadi permasalah kemudian adalah, bentuk penyalahgunaan dari program itu sendiri yang pada akhirnya menimbulkan berbagai perdebatan.

Menurut saya, OSPEK saat ini sudah ada progress. Hal ini terlihat dari pembatasan jadwal OSPEK yang dibatasi paling pagi jam 07.00. Selain itu, atribut juga tidak terlalu memberatkan seperti dulu. — Bhakti Eko.

Penyambutan mahasiswa baru itu perlu dilakukan. Misalnya ada yang salah dari kegiatan OSPEK, maka itu terkait dengan kontennya. Bisa diibaratkan, jika ada yang salah dalam suatu kelas akibat dosen, maka kita tidak perlu meniadakan kelas tersebut. Begitu pula dengan OSPEK. Yang perlu diubah adalah konten yang ada di dalamnya.

Pembicara terakhir, Mas Ivan pun ikut melengkapi diskusi dengan pemaparannya sebagai berikut. KAMABA itu pada dasarnya adalah acara milik universitas (milik rektor) dan sudah ada dalam kalender akademik serta ada surat resmi dari rektor UI.

Legalnya, acara KAMABA yang menentukan adalah rector UI dan ada SK-nya. Dan surat ini ditembuskan dari rektor ke fakultas. Ketika mahasiswa baru tidak mengikuti KAMABA, maka yang dilawan bukanlah KOMDIS tapi rektor. Mahasiswa baru boleh saja melawan tidak mengikuti KAMABA, namun harus ada alasannya. Masalahnya, kebanyakan dari kita tidak mencari tahu pentingnya dari acara KAMABA ini.

Selama ini, banyak yang menyangka bahwa PSAF ini adalah acaranya BPM. Itu salah. Hal ini karena PSAF adalah acara rektorat yang pelaksanaannya dititipkan ke dekan, kemudian dekan menitipkan acara tersebut ke lembaga mahasiswa. Panitia PSAF itu diberikan surat tugas oleh dekan dan tidak ada acara yang diselenggarakan oleh lembaga mahasiswa yang diberikan surat tugas dari dekan kecuali PSAF.

Tujuan sebuah kegiatan yang ditentukan oleh pihak rektorat, berguna untuk mengontrol panitia. Yang membentuk itu bukan BPM, tapi panitianya sendiri. Hal ini guna menjaga supaya mahasiswa baru tidak diperlakukan sewenang-wenang. Ada rules yang di-set sendiri oleh panitia untuk mencegah mahasiswa baru diperlakukan tidak fair. Dalam pelaksanaannya, masih banyak yang bisa dikembangkan. Oleh sebab itu, mekanisme control harusnya dibuat berlapis supaya balancing di semua pihak.

diskusi-ospek-mahasiswa-baru

Selain itu, Anak-anak KOMDIS di fakultas bisa diajak kerjasama jika dibicarakan baik-baik. Mereka mendengar nasehat apa yang diberikan. Jangan sampai jika ada masalah, yang kita permasalahkan adalah semuanya.

OSPEK itu hanyalah konsep pembenaran dari kekerasan. 

Ancaman itu sudah termasuk mekanisme OSPEK. Banyak ancaman-ancaman yang diberlakukan ke mahasiswa baru supaya mahasiswa baru tersebut takut. Padahal hal itu adalah perpeloncoan belaka. OSPEK itu hanyalah konsep pembenaran dari kekerasan. Ada tekanan bahwa yang tidak ikut OSPEK akan menjadi mahasiswa pasif dan kehilangan teman-teman (karena teman-temannya berpikir bahwa OSPEK itu perlu), padahal tidak selalu.

Ada argumen bahwa nanti di pekerjaan akan ada senioritas juga, makanya kita diperkenalkan di kampus. Pertanyaannya adalah itu Anda bekerja dimana?

Ketika rektor sudah menyambut mahasiswa baru, sebenarnya mahasiswa baru sudah menjadi keluarga – Ikatan keluarga Mahasiswa. Akan tetapi, mahasiswa baru yang termasuk IKM tidak aktif itu dipaksa oleh seniornya supaya untuk mengikuti serangkaian acara senior, padahal cara paksaan itu tidak bermanfaat.

Kegiatan-kegiatan mahasiswa baru harusnya diajak untuk berpikir bebas, salah satu kontrolnya yaitu melibatkan IKM aktif atau pasif supaya menakut-nakuti. Harusnya mahasiswa baru jangan dicekokin dulu dengan pengkaderan politik.

Wajar seandainya seseorang ingin menjadi KOMDIS hanya karena ingin terlihat keren di depan mahasiswa baru. Sayang jika KOMDIS harus dihilangkan, karena hanya butuh penataan ulang. KOMDIS itu sebenarnya melakukan apa? Apa tujuannya?

Siapa yang paling salah diantara semua mahasiswa baru? Yaitu orang-orang yang mengerjakan tugasnya full, karena dia egois dan tidak membantu teman-temannya.

Enggak batal puasa kalau tujuannya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. KOMDIS itu harus menjaga fairness untuk mahasiswa baru (berlaku seadil-adilnya untuk mahasiswa baru), menjaga supaya tidak ada mahasiswa baru yang kenapa-kenapa (biarpun kena tonjok tapi tidak boleh dibales). Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak KOMDIS yang suka berlaku sewenang-wenang.

Jika kita ingin mengembangkan mahasiswa baru, caranya dengan mengeksplore dulu nilai-nilai apa yang harus diberikan supaya tidak terjadi hal sia-sia atau justru mendapat pertentangan.

Dalam masalah ini, mungkin sebaiknya bukan menggantikan, melainkan mengimbangi OSPEK itu sendiri dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Masih banyak nilai-nilai positif dari OSPEK itu. Namanya kan OSPEK, pengenalan sistem, maka itu harus ada, karena jika tidak ada, mahasiswa tidak akan terbantu untuk mengenal kampus barunya.

Namun, dalam pelaksanaannya seringkali panitia OSPEK mengajarkan sesuatu dengan tekanan. Hal itu kurang baik karena meskipun mereka menurut, sejatinya apa yang diajarkan itu tidak akan berkesan. Coba dengan cara lain.

Sebenarnya, masuk ke dalam OSPEK itu untuk melihat fenomena, observasi dengan kesadaran. Dan ketika kita telah masuk ke suatu sistem, lalu kita patuh pada sistem tersebut, itu bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi, kita mempunyai akal sehat untuk membedakan mana hal-hal yang boleh dilakukan dan yang tidak. Oleh sebab itu, ketika kita masuk ke suatu sistem harus disertai dengan kesadaran.

Masalah lain di OSPEK adalah ketidaksetaraan antara panitia OSPEK dan mahasiswa barunya. 

Masalah lain di OSPEK adalah ketidaksetaraan antara panitia OSPEK dan mahasiswa barunya. Ketika mereka berhadapan, panitia OSPEK mengenakan atribut-atribut yang sejatinya menunjukkan bahwa mereka berbeda dengan mahasiswa baru. Panitia OSPEK datang dengan status evaluator – mau apapun namanya – yang dianggap sebagai bentuk ketakutan mahasiswa baru. Ketidaksetaraan itulah yang menyebabkan kesalahan di OSPEK. Sistem pembinaanlah yang tidak bisa dihilangkan, bukan OSPEK-nya – OSPEK artinya bisa dihilangkan.

Jika kita lihat dari sisi kelegalan panitia KOMDIS, maka KOMDIS sebenarnya tidak punya sertifikasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Bisa dikatakan bahwa ada malpraktek dari KOMDIS terhadap mahasiswa baru. Ketika mahasiswa yang memegang kegiatan kamahasiswan baru ini dan menyuruh melakukan hal-hal konyol, lalu sang ahlinya datang – misal saja TNI, maka ruang bermain panitia akan diambil.

Kita tilik lagi apa sebenarnya yang menyebabkan KOMDIS masih diminati mahasiswa senior. Apalagi yang dicari selain eksistensi? Tapi tolong jangan berlebihan juga. Kekerasan itu ada konteksnya, ada porsinya masing-masing.

Bisa kita bayangkan, ketika semua orang beranggapan bahwa kekerasan dalam kebaikan itu akan memberikan dampak psikologis yang baik, seberapa kejamkah dunia ini nantinya? Kepribadian itu kompleks dan rumit. Kita tidak bisa memaksakan banyak hal hanya dalam waktu yang singkat, apalagi berharap kepribadian mahasiswa baru akan signifikan berubah secepat itu. Fokuslah terhadap sesuatu yang ingin diajarkan.

Tujuan OSPEK itu sebenarnya untuk menyadarkan mahasiswa baru bahwa membawa gaya lama ke dunia perkuliahan akan merepotkan diri sendiri. Waktu di SMA, jadwalnya lebih tertata, sedangkan waktu kuliah itu lebih repot. Sepenuhnya yang mengatur itu mahasiswa sendiri. Ada perbedaan pada PSAF. Panitia menyisipkan kegiatan-kegiatan yang diharapkan mampu menyadarkan mahasiswa baru bahwa membawa kebiasaan lama itu kurang baik. Menyadarkan dulu, mengubahnya nanti.

Perubahan pada mahasiswa baru tidak bisa berharap full personality. Masa orientasi itu hanya untuk menyadarkan dan mengenalkan karena kedewasaan itu belum terlihat di mahasiswa baru. Usianya sudah dewasa, tapi kelakuannya belum.

Akan tetapi, dalam praktiknya seringkali berbeda penampakan. Tujuan KOMDIS itu ingin membuat mahasiswa baru takut atau respect sama kita? Sebenarnya jika mahasiswa baru tidak respect pada panitia, itu mereka tidak respect sama dekan, terus kenapa dia mau masuk disini? Mungkin ada cara panitia yang salah.

OSPEK itu salah satu bentuk pembinaan, dan masih banyak alternatif lain – jika kita ingin mmenghapuskan OSPEK. Namun,dari OSPEK itu sendiri ada bagian-bagian untuk membina. Yang menjadi masalah adalah ada bagian-bagian kekerasan di dalamnya. Itulah masalahnya, bagaimana bagian yang rusak itu bisa diperbaiki.

Apabila kita melihat bagaimana OSPEK di negara tetangga, kita akan menemukan suatu kesamaan pada praktik OSPEK tersebut (tetapi tidak seluruhnya).

Jangan-jangan jika ada OSPEK seperti itu dimana-mana, mungkin ini adalah suatu budaya timur atau bahkan suatu konsep dari manusia yang baru mulai masuk dewasa. Budaya.

Banyak yang bisa digali dari kegiatan OSPEK ini, tetapi harus hati-hati sekali. Jika berbicara tentang rasionalitas, banyak kegiatan-kegiatan OSPEK yang memang tidak rasional. Kita hanya menjalani tradisi dan mencari-cari alasannya mengapa kegiatan tersebut masih tetapi dilaksanakan. Masalahnya adalah bagaimana mahasiswa baru itu mampu paham dan menyadari kesalahannya dimana. Jika mereka tahu, mereka akan menjalani hukumannnya dengan senang hati.

Kita lihat dari aspek lain. Orang tua sekarang juga terlalu tidak mendidik anak-anaknya. Jadinya si anak merasa “I’m special”. Jadi, guru atau pembimbing pun sulit memberitahu dan menyadarkan orang tuanya. Kalau ingin ditarik lebih jauh, maka kita akan menyalahkan humanisme. Si anak akan menjadi terlalu bebas. Anak itu harus belajar disiplin dan lainnya dengan cara non-humanisme, Ketika anak tidak terbiasa dengan konsekuensi, maka mereka akan menjadi liar. Orang yang paling bertanggung jawab adalah orang tuanya. Kesalahasuhan anak. Tujuh tahun pertama yang paling dekat dengan anak adalah orang tua. Humanistik tidak bisa pakai oleh KOMDIS, tetapi kadang-kadang masih perlu juga KOMDIS, tetapi harus ada alasan yang benar, bukan mencari-cari alasan.

Banyak point of view yang berbeda. Namun, ada satu pertanyaan yang sama yaitu bagimana orientasi ini bisa bermanfaat bagi mahasiswa baru, terserah mau pakai perkara apa dan dari sudut pandang yang mana. Kalau KOMDIS masih dibutuhkan, pakai, kalau tidak ya tidak. Kembali lagi ke tujuan adanya orientasi ini, baru kita tentukan pakai KOMDIS atau tidak.

Berbagai sudut pandang ini akan menjadi bahan refleksi besar untuk KOMDIS. KOMDIS ditiadakan bisa saja, tapi perlu keberanian dan kebesaran hati dari KOMDIS itu sendiri. Agak sulit kalau kita hanya melihat KOMDIS tanpa elemen yang lain.

Kemungkinan adanya chaos itu besar. Apalagi kalau mahasiswa baru tiba-tiba memberontak. Mahasiswa baru punya mindset pasti akan dikerjain. Kalo kita tidak memaksa, mereka tidak akan patuh. Kalau kita baik-baik, mereka akan curiga. Butuh ketegasan, keberanian, dan monitoring yang konsisten.

Jika masalah OSPEK hanya dibahas bersama orang-orang itu saja, ya hasilnya juga itu-itu saja, bagaimana mau ada perubahan? Perlu ada orang baru supaya bisa ada perubahan.

Kesimpulannya tidak berhenti begitu saja dalam diskusi ini, pemikiran-pemikiran yang berkeliaran harus tetap bergulir.

Notulen: Departemen Kestari
Disunting seperlunya oleh penyunting.