Ekonomi Libido, Widiyahusein, dan Passionate Capitalism

Published by KSM Eka Prasetya UI on

[#KajianCUK] “Ekonomi Libido, Widiyahusein, dan Passionate Capitalism” Oleh: Inka Evelyna (Staf Departemen Kajian dan Literasi, FIB 2018)
Ada yang menarik dari salah satu pengguna instagram dengan username widiyahusein. Ia merupakan salah satu penggiat puisi dan seringkali memberikan edukasi seputar filsafat. Namun, yang membuat saya tertarik membahasnya adalah, karena dalam beberapa postingannya terlihat cukup tabu untuk dikonsumsi warganet. Beberapa kali juga postingannya terhapus dari instagram karena warga net memandangnya tidak layak untuk diposting. Salah satu postingan yang terhapus adalah video seorang wanita berhijab syar’i yang sedang membacakan puisi karya widiyahusein berjudul ‘vagina’ sambil menghisap rokok. Suatu hal yang cukup kontroversial dan membuat banyak warga awam geram. Namun tidak sedikit juga yang mengapresiasinya sebagai sebuah seni. Kita dapat berdebat dan mengkaji seputar postingan tersebut dengan lebih dalam, tetapi yang menjadi fokus kajian saya disini adalah bagaimana Widiyahusein dapat menarik perhatian saya dan warganet lain. Saya mencoba untuk menebak apa motif dari postingan-postingannya tersebut. Dalam mengkaji fenomena tersebut, kutipan dari Felix Guattari kiranya menarik untuk disampaikan, bahwa:
“Kapitalisme membangun dan menciptakan model-model hasrat, dan keberlangsungannya sangat bergantung pada keberhasilannya menanamkan model-model ini pada massa yang dieksploitasinya” -Felix Guattari (Molecular Revolution: Psychiatry and Politics, Penguin Books, 1984, hlm. 228).
Maksud dari kutipan tersebut kiranya dapat dipaparkan seperti ini: model-model hasrat itu perlu dibangun dalam kapitalisme, karena kapitalisme tidak cukup untuk bertahan dengan kapitalisme itu sendiri. Justru supaya kapitalisme itu berjalan, bagian yang berkaitan dengan produksi misalnya, teknologi dan pengetahuan masyarakat harus diindividualisasikan atau ‘dideteriorisasi’. Dideteriorisasi, yakni semacam upaya agar model-model hasrat yang dibentuk tidak menyebar secara luas ke teritori lain. Maksudnya adalah, ingin memproduksi sepatu. Untuk kapitalisme, sepatu biasa saja tidak cukup, sepatu itu harus sepatu yang unik dengan produksi yang hanya dimiliki segelintir orang saja. Sepatunya tidak boleh diproduksi oleh semua orang. Jadi, sepatu yang diproduksi harus diindividualisasikan, agar menjadi semakin privat, dan kapitalisme akan semakin memegang kuasa akan hal itu, dan akan membuat para kapitalis dapat membuat represi kepada masyarakat. Dengan begitu, para kapitalis dapat membentuk trend dan memonopoli harga. Contohnya ialah PUMA. Sekitar tahun 2018, PUMA sebagai brand sneakers terkenal, bekerja sama dengan boygroup ternama asal Korea Selatan, BTS untuk merilis sneakers terbarunya. PUMA men-desain warna dasar sneakers barunya tersebut dari kulit paten putih dan hitam. Selain itu, BTS turut merancang logo khusus di beberapa bagian sepatu, dan tanggal debut boygroup ternama itu ditampilkan pada bagian tumit dengan warna emas sehingga membuatnya semakin terlihat menarik. Dari contoh tersebut, kita dapat mengetahui bahwa sepatu tersebut telah diindividualisasi. PUMA telah berhasil menciptakan model hasrat bagi para penggemar BTS khususnya, yang memandang produk baru PUMA ini sebagai suatu yang berharga yang seharusnya mereka beli, ada hasrat untuk membeli. Pada akhirnya, seperti kata Guattari, setiap individu harus punya masa kanak-kanak yang individual, situasi seksual, pandangan individual tentang cinta, kesetiaan, kematian, dan lain sebagainya sehingga para kapitalis bisa mengatur pola konsumsi dan apa yang ingin diproduksi. Pandangan-pandangan, selera, pengalaman yang individual tersebut dapat melahirkan penilaian individual, kemudian terciptalah konsumsi yang beragam. Dengan hal ini, akan ada banyak masyarakat yang sudah tidak memikirkan secara rasional mengenai suatu barang lagi karena direpresi oleh kapitalis. Ketidaktahuan masyarakat tentang pandangan alternatif, misalnya, akan menimbulkan hasrat ingin tahu, hasrat ingin memiliki, hasrat ingin mengalami sesuatu, dan sebagainya. Berbagai intervensi hasrat dan emosi dalam kapitalisme ini sebenarnya terkait erat dengan munculnya era postmodern. Jika kita lihat pada era modern; era sebelum postmodern, rasio menjadi suatu unsur yang paling diandalkan dari manusia. Era ini menjadi masa kejayaan rasio manusia. Manusia menjadi pusat dari semuanya atau disebut dengan antroposentris. Namun, mendekati era postmodern, kemenangan rasio dianggap mengakibatkan penindasan pada hal yang imajinatif, puitis, dan simbolis, bahkan terkadang etis karena manusia pada dasarnya tidak hanya memiliki rasio, tapi juga hasrat, emosi, perasaan. Manusia lebih banyak menggunakan emosinya. Emosi manusia lah yang membuat manusia menjadi manusia, bukan instrumen pengetahuannya, begitulah sekiranya menurut Kierkegaard dalam Concluding Unscientific Postscript (1846). Emosi manusia di era postmodern inilah yang dimanfaatkan para kapitalis untuk mendapatkan keuntungan. Memanfaatkan emosi, perasaan, hasrat manusia inilah yang dapat kita lihat buktinya dari postingan-postingan widiyahusein. Bagaimana ia menghadirkan puisi dan pemikirannya yang menggelitik, jahil, liar, tanpa basa-basi, dan terkadang tabu hingga mendapat berbagai macam respon publik. Namun, tidak sedikit yang menyukai karya-karya nya itu sehingga ia merilis sebuah buku berjudul “Penyair Jalang” dan menjualnya. Memang, karya-karya widiyahusein itu seperti mencari keseimbangan antara nilai agama yang mengajarkan “kebersihan” dengan dorongan alami manusia yang entah mengapa dipersepsikan “kotor”, begitulah kata Jason Ranti, pemusik asal Indonesia. Mungkin itulah yang membuat orang tertarik dengan karyanya yang unik. Hal itu menjadi gambaran sesungguhnya dari era postmodern, era yang didalamnya kebebasan hasrat dan seks diproduksi dan dikonsumsi. Ia mungkin saja menjadi contoh yang tepat dari bagaimana kapitalis era saat ini bekerja. Menggugah hasrat dan mungkin juga libido manusia dengan puisi dan pemikirannya lalu menjualnya. Menjadikan instagramnya sebagai hal yang menarik untuk ditelusuri. Widiyahusein menurut saya pantas jika disebut sebagai passionate capitalist. Kapitalis yang mampu menghubungkan suatu barang atau hal dengan mesin atau model hasrat. Widiyahusein mampu menggali setiap getaran libido dari tubuh untuk meraup keuntungan, namun dengan cara yang halus. Getaran-getaran hasrat menjadi bentuk komoditi yang diproduksi, didistribusi, dan dikonsumsi. Pelakunya dan bagaimana pelakunya memproduksi dan mendistribusi itu, menurut Foucault muncul dengan berbagai macam trik dan efek yang dihasilkan. Salah satu triknya yaitu dengan mengintensifkan daerah-daerah terlarang, daerah tabu, imoral, asosial dan menyebarluaskannya. Potensi kesenangan dan gairah yang tersimpan dalam dirimu tanpa takut akan tabu dan adat dimanfaatkan demi mendapatkan keuntungan. Kriteria moral/imoral, baik/buruk, nilai guna/nilai tukar dilepas dari sistem ekonomi dan hal ini disebut Lyotard sebagai Ekonomi Libido. Sistem ekonomi tersebut membuat kita tenggelam dalam nikmatnya dunia hasrat yang disuguhkan sehingga terkadang kita lupa dengan hal-hal yang seharusnya kita perhatikan, seperti kondisi alam yang sudah semakin memburuk, hewan-hewan yang terancam punah, dan sebagainya. Sebagai pembanding, tidak hanya ada passionate capitalism dengan ekonomi libidonya, tapi juga ada compassionate capitalism dengan kepedulian sosialnya. Jika passionate capitalism hadir dengan berfokus hanya kepada menggali hasrat untuk mendapatkan keuntungan, compassionate capitalism hadir dengan upaya menambahkan satu unsur yang kosong dalam kapitalisme, yaitu wajah sosialnya (kepedulian sosialnya). Ya, ibaratnya passionate capitalist itu bawang merah, dan compassionate capitalist adalah bawang putihnya dalam dongeng “Bawang Merah dan Bawang Putih”. Compassionate capitalism digambarkan de Vos sebagai perasaan simpati yang mendalam terhadap penderitaan orang lain, serta hasrat untuk meringankan penderitaan tersebut. Konsep de Vos tentang compassionate capitalism ini banyak terinspirasi dari Adam smith. Ia berkata bahwa meskipun manusia diatur oleh hasrat-hasrat (dan energi libido) mereka, namun ia juga memiliki kemampuan penalaran serta rasa belas kasih. Jika kita hubungkan kembali kepada pembahasan widiyahusein, mungkin dari kalian akan ada yang menganggap bahwa widiyahusein bukan passionate capitalist, melainkan compassionate capitalist karena ia juga memberikan edukasi dan informasi seputar filsafat dari postingannya kendati ia menjual karya “liar” nya lewat buku “Penyair Jalang”. Mungkin ada juga yang akan berpikir bahwa widiyahusein merupakan gabungan dari keduanya, atau bahkan bukan keduanya. Namun, alasan saya menempatkan Widiyahusein pada posisi passionate capitalist adalah  karena ia mampu menghadirkan model hasrat dan menghubungkannya dengan suatu barang berupa buku “Penyair Jalang”. Ia mampu menggali getaran-getaran hasrat dan mengemasnya dengan cara yang halus, lewat puisi dan pemikirannya. Untuk permasalahan mengenai apa yang harus kita lakukan dengan kondisi era postmodern saat ini, hal itu kembali pada diri kita masing-masing. Apakah memilih untuk menerimanya begitu saja dan beradaptasi dengan hal itu, atau memilih untuk mengubahnya. Akhir kata, sukses untuk kita semua, dan untuk widiyahusein, semoga saya masih bisa membeli bukumu.
DAFTAR PUSTAKA [1] Adlin, Alfathri. (2006). Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multi Perspektif. Yogyakarta & Bandung: JALASUTRA. [2]O’Donnell, Kevin. (2003). Postmodernism. Oxford: LION PUBLISHING. [3] Piliang, Yasraf A. (2004). Dunia Yang Berlari: Mencari “Tuhan-Tuhan Digital”. Jakarta: GRASINDO. [4] Piliang, Yasraf A. (2011). Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Bandung: MATAHARI. [5] Sugiharto, Bambang. (1996). Postmodernisme. Yogyakarta: KANISIUS.
Editor: Asep Wahyu (Staf Departemen Hubungan Masyarakat, FISIP 2018) Ilustrator: Frederik Agnar Widjaja (Wakil Kepala Departemen Hubungan Masyarakat, FH 2017)
Salam, KSM Eka Prasetya UI Bernalar Membangun Negeri
Categories: KajianCUK