Aladdin dan Orientalisme: Antara Imajinasi dan Realitas

Published by KSM Eka Prasetya UI on

[#KajianCUK] “Aladdin dan Orientalisme: Antara Imajinasi dan Realitas” Oleh: Zainun Nur Hisyam Tahrus (Kepala Departemen Kajian dan Literasi, FISIP 2017)
Satu bulan terakhir, jagat hiburan dunia diramaikan oleh pembuatan ulang film animasi Aladdin ke dalam bentuk live-action. Sebagai hasil penceritaan ulang terhadap dongeng, film karya Disney tersebut seakan tampil sebagai karya mewah yang innocent. Apalagi dibalut dengan komedi yang segar serta lagu-lagu indah di sepanjang film seperti Arabian Nights, A Whole New World, Friend Like Me, dan Speechless, film Aladdin tak ayal banyak dinikmati, dipersepsi, dan dinilai hanya sebagai hiburan menyenangkan belaka. Namun, sebuah karya tidaklah muncul dari ruang hampa. Film, selain karena menghibur, dapat diterima oleh khalayak karena di dalamnya terdapat “refleksi atas kecemasan dan kerinduan manusia, serta ekspresi atas masalah-masalah yang dihadapi manusia dalam sejarah” (Miles, 1996 dalam Rahayu, et al., 2015: 25). Film adalah kristalisasi berbagai asumsi dan persepsi atas agama, ideologi, atau nilai dan norma yang hidup di tengah manusia. Sebaliknya, sebagai produk budaya, film juga secara efisien membentuk persepsi konsumennya atas definisi realitas (Rahayu, et al., 2015: 25). Meminjam istilah Goffman, dalam narasi suatu film terdapat frames —definisi bersama atas realitas— yang dibagi (Williams, 2002: 155). Framing atau proses pembuatan frames berhubungan dengan fokus isu suatu media tertentu yang diletakkan dalam kesatuan makna-makna (field of meanings). Arowolo (2017) memaparkan framing sebagai cara pikiran media merepresentasi, menginterpretasi, dan simplifikasi —jika tidak mau disebut manipulasi— pada realitas. Frames dalam film Aladdin dapat secara jelas kita lihat sebagai kristalisasi asumsi dan persepsi Barat atas Timur, terutama bangsa Arab. Frames tersebut muncul dari berbagai macam pergulatan sejarah antara Barat dan Timur, baik dari segi sastra, budaya, ataupun politik. Kisah Aladdin sendiri diadaptasi dari dongeng Seribu Satu Malam (alfu laylah wa laylah) khususnya dari sebuah kisah berjudul hampir serupa yaitu علاء الدين(Ala’uddin) (Eddarif, 2016). Dongeng Seribu Satu Malam kemudian dipopulerkan di Barat oleh seorang sastrawan Prancis bernama Antoine Galland pada tahun 1704 dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris pada tahun 1706 dengan adaptasi judul Arabian Nights (Rahayu,et al., 2015). Namun, kisah Aladdin sejatinya bukan asli dari dongeng Seribu Satu Malam. Konon, kisah tersebut ditambahkan sendiri oleh Galland pada tahun 1721 yang dia dapat dari sastrawan Aleppo bernama Hanna Dyab (Zamzami, 2019). Akan tetapi, kisah itu pun mengalami banyak distorsi hingga sampai pada versi filmnya saat ini. Zamzami (2019) menyebutkan distorsi pertama terjadi pada tahun 1940, saat kisah Aladdin diadaptasi oleh Hollywood dengan film berjudul Thief of Baghdad. Dalam film tersebut, kisah Aladdin berlatar belakang sepenuhnya di Timur Tengah, yaitu Baghdad. Padahal, versi kisah asli menceritakan bahwa kisah Aladdin terjadi di Cina. Aladdin sendiri adalah keturunan etnis Cina yang akrab dengan budaya Timur Tengah dan berlanjut kisahnya dengan kedatangan penyihir dari Afrika. Kisah asli Aladdin tersebut tentu menggambarkan pertemuan ragam budaya yang sangat luas. Hal yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, mengingat Aleppo, sekarang salah satu kota di Suriah, —tempat asal usul Hannah Dyab— saat itu adalah kosmopolitan tempat bertemunya berbagai macam budaya di dunia. Aleppo sebelum menjadi salah satu dari kota negara Suriahpernah diperintah oleh kerajaan Het, Assyiria, Arab, Mongol, Mamluk, hingga Ottoman. Di dalamnya terdapat benteng tua Aleppo yang berdiri sejak sebelum masehi, gereja abad 6 M, masjid atgung abad 12 M, dan berbagai bangunan klasik abad 16 dan 17 M berupa istana-istana, pemandian  para raja dan pemandian umum, madrasah-madrasah, penginapan dan berbagai bangunan abad pertengahan lain yang menggambarkan campur baur budaya yang kaya. Tidak heran,jika Aleppo masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO (whc.unesco.org, n.d.). Dari uraian tersebut, versi Aladdin yang ditampilkan Disney baik pada versi animasi (1992) ataupun live-action (2019) tampak telah mengalami serangkaian distorsi dan reduksi yang cukup manipulatif. Terjadinya berbagai distorsi dan reduksi tersebut kiranya dapat kita nalar menggunakan konsep orientalisme ala Edward Said. Orientalisme secara sederhana dapat diartikan sebagai pengetahuan mengenai dunia Timur yang menempatkan segala sesuatu yang bersifat Timur dalam berbagai studi, wacana,dan narasi (Said, 2016: 60). Bagi Said, orientalisme adalah kekuatan budaya yang bukan hanya menghasilkan pemisahan Barat-Timur secara geografis, tetapi juga dikotomi menyeluruh atas aspek-aspek Barat dan Timur. Timur, dengan demikian, direpresentasikan sebagai segala sesuatu yang bukan Barat (McLeod, 2010: 39). Kritik Said atas orientalisme terutama menekankan pada tujuan Barat untuk ‘menundukkan Timur’ melalui generalisasinya yang berlebihan, representasi yang sewenang-wenang, dan prasangka-prasangka yang imajinatif. Hasilnya, Timur hanya menjadi dunia imajiner yang menarik untuk ditonton, dan Barat adalah imajinator yang menonton. Namun, meskipun dibuat dengan penuh prasangka dan imajinasi, orientalisme bukan berarti tidak berdampak pada realitas Timur. Kajian-kajian orientalisme yang sudah dikukuhkan sebagai institusi melalui studi-studi ilmiah tak pelak lagi menghasilkan, apa yang diistilahkan oleh Foucault sebagai, knowledge. Orientalisme yang sudah menjadi institusi pengetahuan inilah yang pada selanjutnya mengukuhkan legitimasi dominasi Barat atas Timur. Timur yang ‘mistis, irasional, gaib, dan barbar’ itu harus ‘ditolong’ oleh Barat yang ‘ilmiah, rasional, maju dan beradab’. Sekarang, mari kita tengok bagaimana narasi Orientalisme bermain di berbagai alur cerita Aladdin ala Disney. Dibuka dengan laguArabian Nightsoleh Will Smith, Arab —setting dari film ini— secara gamblang direpresentasikan sebagai ‘this mystical land of magic and sand’ yang berada di ‘faraway place’  dan dengan kebudayaan yang dapat membuat Anda ‘caught in a dance, lost in the trance’. Sejak awal, Arab dengan sewenang-wenang direpresentasikan sebagai tanah asing yang penuh sihir, kegaiban, dan pasir. Arab adalah tanah eksotis yang aneh bagi Barat. Bagi Barat, eksotisme Arab, dan Timur pada umumnya, adalah ‘a whole new world, a new fantastic point of view, a dazzling place I never knew’. Timur digambarkan begitu reduksionis sebagai tanah misteri yang hanya dipenuhi sihir dan pasir. Tentu saja, berbeda dari Barat sebagai peradaban masyhur yang ilmiah dan dipenuhi teknologi. Selain dari penggambaran setting, kita juga dapat melihat bagaimana framing yang dilakukan Disney melalui dikotomi protagonis-antagonis figur karakternya. Di pihak protagonis, adalah tokoh Aladdin sebagai ‘pencuri yang cerdik’ yang mengejar ‘kecantikan’ Jasmine. Jasmine sebagai seorang putri Raja digambarkan sebagai perempuan yang ‘terbebas dari belenggu tradisi patriarki’ serta ‘peduli pada rakyat’, tetapi tertindas dan tidak mampu mengungkapkan pikirannya. Kebungkaman Jasmine bukan karena sebab, melainkan terhalang oleh Jafar yang ‘jahat dan licik’, seorang Wazir dari sang Raja yang ‘baik tetapi bodoh’ (UKEssays, 2018). Saya tidak akan menuduh sepihak bahwa para protagonis adalah representasi Barat dan para antagonis adalah representasi Timur dan Arab, tetapi konstruksi figur tersebut secara jelas menyampaikan betapa jahat, licik, dan kolotnya budaya Arab kala itu sehingga perlu ‘dicuri’ dan ‘dibebaskan’. Berbagai frames, narasi, dan representasi dalam film Aladdin tersebut adalah bukti kuatnya pengaruh ‘mitos-mitos orientalisme’ yang sewenang-wenang mereduksi Arab dalam generalisasi yang terlalu luas. Hal tersebut juga didukung oleh; pertama, representasi Arab dalam satu simplifikasi kota bernama Agrabah. Kedua, setting waktu tidak dijelaskan secara gamblang. Kota Agrabah yang awalnya merupakan kota Baghdad —diubah menjadi Agrabah karena pada tahun 1992 terjadi invasi Amerika Serikat atas Irak— menjadi kota fiksi yang secara samar dapat merepresentasikan Arab di wilayah manapun dan zaman apapun. Padahal, jika mau konsisten pada realitas sejarah, Baghdad baru menjadi kota besar pada masa Dinasti Abassiyah yang pada saat itu sedang mengalami zaman keemasannya dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan budaya. Jika settingwaktu terjadi sebelum masa Islam, maka Baghdad yang sudah silih berganti dikuasai oleh Persia, Romawi, hingga Yunani memiliki peradaban dan kebudayaan yang berbeda dari jazirah Arab lainnya (republika.co.id.,7 Januari 2019). Berbeda pula Mesir, berbeda pula Syam, berbeda pula Yaman. Berbagai uraian tersebut menguraikan pada kita representasi orientalisme yang banyak mengandung ketidakadilan, bahkan setelah pembuatan ulang film Aladdin 27 tahun semenjak produksi pertamanya. Sepotong uraian Fitriyan Zamzami dalam republika.co.id (2 Juni 2019) kiranya cukup menggambarkan kecurangan narasi yang dibangun dalam film Aladdin: “Katakanlah, “Aladdin” hanyalah sejam lebih sekian hiburan. Tapi ia juga bukan lahir tiba-tiba dari dan ke dunia yang kosong nilai. Ia melestarikan kesalahpahaman yang sekian lama dipelihara para orientalis soal dunia Islam yang monolitik, yang satu warna semata. Mengabaikan ratusan tahun saling-silang dan toleransi kebudayaan. Simplifikasi menyedihkan seperti itu, bisa disayangkan pada masa-masa seperti ini. Saat narasi “kita lawan mereka” diumbar sedemikian banal untuk rerupa kepentingan.” Nah, setelah membaca ini, apakah Anda berpikir bahwa film semacam Aladdin layak dipertontonkan? Tentu, karena itu buatan Disney!
DAFTAR PUSTAKA [1] Arowolo, Olasunkanmi. 2017. Understanding Framing Theory. Ojo: Lagos State University. [2] Eddarif, Hajar. 2016. Beauty and the (B) East: A Postcolonial Reading of Disney‟s Arab Woman. International Journal of New Technology and Research (IJNTR), ISSN:2454-4116, Volume-2, Issue-6, June 2016 Pages 61-65. [3] McLeod, John. 2010. Beginning Postcolonialism Second Edition. Manchester: Manchester University Press. [4] Rahayu, Mundi, Abdullah, Irwan, dan Udasmoro, Wening. 2015. “ALADDIN” FROM ARABIAN NIGHTS TO DISNEY: THE CHANGE OF DISCOURSE AND IDEOLOGY. LiNGUA Vol. 10, No. 1, Juni 2015 • ISSN 1693-4725 • e-ISSN 2442-3823. [5] Republika.co.id. 7 Januari 2019. Baghdad, Kota Metropolis Abad Pertengahan. Diakses di https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/dunia/pkyjmp313/baghdad-kota-metropolis-abad-pertengahan pada 23 Juni 2019 pukul 23.00 WIB. [6] Said, Edward W. 2016. Orientalisme; Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai Subjek. Yogyakarta: Pustaka Belajar, terjemahan atas Said, Edwar W. 1978. Orientalism. New York: Vintage Books. [7] UKEssays. November 2018. Theory Of Orientalism And Disneys Aladdin Film Studies Essay. [online]. Available from:https://www.ukessays.com/essays/film-studies/theory-of-orientalism-and-disneys-aladdin-film-studies-essay.php?vref=1[Accessed 23 June 2019]. [8] Williams, Seven D. 2002. Tracking the New World Order; Films, Frames, and Geopolitical Performance. space & culture vol. 5 no. 2, may 2002 152-168. [9] Zamzami, Fitriyan. 2 Juni 2019. Aladdin, Cina, dan Orientalisme. Diakses di https://senggang.republika.co.id/berita/senggang/unik/psgfhc349/aladdin-cina-dan-orientalisme pada 23 Juni 2019 pukul 09.16 WIB. [10] whc.unesco.org, n.d. Ancient City of Aleppo. Diakses di https://whc.unesco.org/en/list/21pada 29 Juni 2019 pukul 18.54 WIB.
Editor: Prilyana Fajria (Staf Departemen Hubungan Masyarakat, FKM 2017) Ilustrator: Frederik Agnar Widjaja (Wakil Kepala Departemen Hubungan Masyarakat, FH 2017)
Salam, KSM Eka Prasetya UI Bernalar Membangun Negeri
Categories: KajianCUK