Ujian Nasional, Ujian Kita Semua

Ujian Nasional (UN) setiap tahunnya rutin menjadi penyebab sakit perut berjamaah bagi banyak siswa tingkat akhir di SD, SMP, atau SMA. Meski sejak tahun 2015 UN tidak lagi menjadi syarat kelulusan, tetap saja banyak siswa yang dilanda sakit perut di detik-detik menjelang hari H. Umumnya, para siswa mengantisipasi gejala sakit perut dadakan ini dengan berbagai macam obat penangkal, mulai dari bocoran kunci jawaban hingga joki ujian.

Pertanyaanya, jika UN selalu menjadi sumber “penyakit” bagi siswa, mengapa hingga kini tetap dipertahankan? Atau jika kita lanjutkan, memangnya sepenting apa sih UN? Apa manfaatnya?

S__1917392

Kemanfaatan UN itu Fiktif

Selama ini beredar pendapat klise bahwa UN tak ubahnya multitester yang bisa mengukur banyak hal sekaligus, mulai dari kompetensi guru, pencapaian siswa, hingga kualitas sekolah. Ditambah lagi, berdasarkan PP. 13 Tahun 2005, dijelaskan bahwa ujian nasional diadakan untuk menjadi alat pemetaan mutu program pendidikan sekolah.  Tapi nyatanya, menurut profesor matematika ITB, Iwan Pranoto, UN sama sekali tidak terbukti kemanfaatannya sebab desain karakter soal UN tak bisa dijadikan alat pemetaan ataupun parameter yang mengukur kualitas pendidikan. Ini bisa dilihat dari sebaran nilainya.

Menurut Prof. Iwan, jika UN dijadikan alat pemetaan, seharusnya sebaran nilainya berbentuk lonceng yang simetris ke kiri dan ke kanan atau distribusi normal. Artinya, jumlah soal yang sangat sulit dan sangat mudah harus seimbang. Alhasil, UN dapat menunjukkan mana sekolah yang baik dan mana sekolah yang buruk dengan asumsi hanya siswa pandai saja yang dapat menjawab soal sulit. Tapi kenyatanyaannya, jumlah siswa yang lulus UN tiap tahunnya adalah sama seperti jumlah netizen yang mengklik tombol dislike di video kuda-kudaannya Awkarin: buanyak banget!

Pada tahun 2014 misalnya, presentase kelulusan SMA mencapai 99,54%. Bayangkan, 99,54%. Tentunya dengan hasil seperti ini mustahil UN bisa dijadikan alat pemetaan. Bahkan di berbagai daerah pelosok pun presentase kelulusannya masih tinggi. Dengan mengacu pada fakta tersebut, UN selama ini malah condong sebagai tes penentu kelulusan. Jumlah yang lulus dan bernilai baik sangat banyak, layaknya ujian SIM yang memang karakteristik ujiannya dirancang untuk itu.

Belum lagi jasa bimbingan belajar bisa menyulap siswa menjadi terlatih menjawab soal dalam hitungan bulan. Terlatih tentu saja berbeda dengan paham. Sampai di sini, UN gagal membedakan mana siswa yang paham dan tidak. Padahal diferensiasi itu adalah dasar sebuah alat pemetaan.

Selama ini para birokrat selalu berdalih dengan alasan “alat pemetaan” ketika ditanya tujuan diadakannya UN. Tapi perlu diingat, sudah lebih dari 10 tahun UN dimaksudkan sebagai alat pemetaan. Lantas, untuk apa selama ini data-data itu? Pemerintah terlalu banyak data, kurang aksi. Dan jika memang UN hanya untuk pemetaan yang sifatnya evaluatif maka seharusnya tidak wajib dilakukan setiap tahun.

UN dan Mental Pelajar Kita

Selain tidak terbukti kemanfaatannya, UN ternyata mempunyai banyak kritik. Salah satunya, UN membuat motivasi siswa belajar hanya karena takut tidak lulus ujian. “Jika tidak ada UN, para siswa pasti malas belajar.” Begitu ucap salah satu petinggi Kemdikbud di sebuah portal berita online.

Mentalitas ini tentu berseberangan dengan teori belajar yang menyatakan belajar harus didasari oleh motivasi intrinsik yang bersumber dari diri sendiri. Seharusnya, bahan bakar yang menjadi pemicu seseorang belajar adalah rasa keingintahuan yang murni berasal dari diri sendiri, bukan dari luar. Jika belajar hanya untuk UN lalu tidak belajar setelah lulus, maka wajib belajar 12 tahun adalah omong kosong.

Pendidikan yang baik seharusnya bisa menumbuhkan hasrat belajar siswa. Tidak hanya untuk sekarang tapi juga terus berkelanjutan di kemudian hari. Mentalitas yang lahir dari pendidikan yang “oke” adalah yang membuat siswa menjadi suka belajar hal baru walaupun tidak ada yang menyuruhnya. Ini adalah modal utama untuk menyambut masa depan bangsa dengan segala permasalahan yang menanti.

Kritik UN selanjutnya, mirip dengan kritik grup band Pink Floyd terhadap sistem pendidikan kala itu. We don’t need a thought control! Begitulah protes Pink Floyd melalui lagunya Another Brick in The Wall.

UN dengan pelajaran yang itu-itu saja sebenarnya adalah akumulasi dari usaha kontrol pemikiran serta penyeragaman minat dan kemampuan siswa. Hal ini tentu tak bisa dilepaskan dari kapitalisasi dan industrialisasi pendidikan yang memang menempatkan pendidikan hanya sebagai pabrik penghasil buruh-buruh intelektual. Padahal sejatinya pendidikan ialah alat pembebasan yang membebaskan. Pendidikan harus bisa menuntun manusia untuk mengembangkan potensi dirinya semaksimal mungkin sesuai dengan fitrah minat dan bakatnya.

Maka kini kita tidak perlu terlalu emosi ketika melihat gerombolan anak SMA yang mencoret-coret bajunya di pesta kelulusan. Bisa jadi, mereka sedang merayakan kebebasan karena selama ini “kebebasan” itu direnggut sistem pendidikan yang memenjarakan.

Ujian Nasional, Ujian Kita Semua

Seperti namanya, Ujian Nasional sukses membuat panik nasional. Ujian nasional adalah ujian kita semua.  Sebab tidak hanya para siswa yang pusing. Orang tua, sanak famili, para guru, hingga para tokoh nasional pun dibuat pusing. Mereka yang tidak ikut pusing dan justru tertawa di atas fenomena ini mungkin adalah para sindikat pembocor kunci jawaban, pemilik bimbingan belajar, dan orang-orang jahanam yang bermain di megaproyek ini.

Dengan alasan itulah, Presiden Republik Jancukers, Sujiwo Tejo dalam bukunya Jiwo J#ncuk, tidak sepakat jika perhelatan pendidikan tiap tahun ini disebut ujian nasional. Ujian Nasional akan terdengar lebih catchy jika kita sebut sebagai Cobaan Nasional. Sebab dibalik setiap cobaan terdapat hikmah yang bisa dijadikan pelajaran.

Oke, pendapat profesor matematika sudah, pendapat Pink Floyd sudah, pendapat budayawan pun sudah. Sebagai pertanyaan penutup, kira-kira, siapa lagi yang patut kita tanyai perihal Ujian Nasional ini ya?

Hmmm, saran penulis, sih, siapapun dia oke-oke saja asalkan bukan MC kondangan yang sangat termasyur itu. Sebab apa? Yak, betul!

Sebab mohon bersabar, ini ujian.

***

Penulis: Berlian Triatma, Kepala Departemen Kajian, Psikologi, FPsi, 2016.
Ilustrasi gambar: Rendi Chevi Daffa Ulhaq, Anggota Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan, Teknik Elektro, FT, 2016.