Toleransi Memiliki Empati

Oleh, Khaira Abdillah

Anggota Departemen Penelitian, KSM Eka Prasetya UI 2017

Ilmu Ekonomi, FEB, 2015

… mengindikasikan adanya sesat pikir di mana konsep toleransi hanya diartikan sebatas isu agama.

Belakangan ini ketika kita berbicara perihal isu toleransi. Tak jarang lawan bicara kita akan berpikiran bahwa kita merupakan pendukung paslon cagub-cawagub dengan pose dua jari. Hal tersebut tentu saja mengindikasikan adanya sesat pikir di mana konsep toleransi hanya diartikan sebatas isu agama. Padahal, toleransi berlaku untuk pelbagai isu. Sering orang lupa bahwa toleransi bisa menjadi pencegahan suatu permasalahan. Dengan kata lain, suatu masalah bisa saja tidak terjadi jika yang bersangkutan bertoleransi. Dengan bertoleransi, kita tidak akan menganggap apa yang sebelumnya kita anggap sebagai masalah, menjadi masalah. Mungkin Anda berpikir saya salah kaprah antara toleransi dengan kesabaran. Namun menurut saya toleransi dan kesabaran adalah dua hal yang berbeda yang dalam praktiknya sulit untuk dipisahkan. Keduanya memiliki hubungan yang saling menguatkan satu sama lain.

post ksm2

Toleransi dalam praktiknya diwakilkan oleh sikap saling menghormati dan menyayangi sebagai sesama manusia. Ada humanisme dalam toleransi. Sementara kesabaran dalam konteks humanisme, yang seterusnya akan saya bahas adalah bentuk upaya manusia untuk memaafkan kesalahan atas pemahaman, ucapan, atau tindakan orang lain. Sebelum kita bahas lebih lanjut, pemahaman kita tentang kesalahan orang lain perlu ditinjau kembali.

Apa yang sebenarnya kita sebut sebagai kesalahan orang lain?

Seseorang kita anggap melakukan kesalahan ketika apa yang dipikirkan atau dikatakan atau dilakukan bertentangan dengan prinsip, nilai, atau dogma yang kita miliki. Ketika kita bersabar akan suatu hal, belum tentu kita bertoleransi. Pernyataan berikut ini saya gunakan sebagai contoh, “Saya hanya bisa bersabar atas apa yang dia katakan tentang saya di khalayak umum.” Hal tersebut dapat diartikan bahwa saya menganggap apa yang dikatakan oleh orang tersebut tentang saya di khalayak umum adalah salah, dan saya memaafkannya.

Lebih jauh lagi, kesabaran dapat diklasifikasikan berdasarkan motivasinya menjadi  dua jenis, yakni ketika manusia tidak bisa melakukan sesuatu (tidak berdaya) untuk membuat perbaikan, dan ketika manusia berpikir ke depan, dimana ia mempertimbangkan konsekuensi besar yang perlu ditanggung jika ia menuruti amarah atau melakukan satu tindakan ceroboh.

kesabaran tidak bisa mencegah masalah, namun bisa dengan segera mengatasi masalah.

Melalui penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa, kesabaran tidak bisa mencegah masalah, namun bisa dengan segera mengatasi masalah. Sebab sebagaimana yang telah saya katakan, sabar berarti memaafkan suatu kesalahan. Anda menemukan masalah, dan Anda memaafkannya, lantaran Anda tidak berdaya atau anda cukup visioner dan dewasa, sehingga Anda tidak menuruti amarah anda.

Bagaimana dengan toleransi? 

Dengan memosisikan diri sebagai orang lain, perspektif seseorang dalam memandang suatu permasalahan tidaklah sempit, sehingga apa yang ia anggap sebagai masalah sebelumnya bisa jadi tidak menjadi masalah.

Bertoleransi tidaklah mudah. Untuk bisa bertoleransi, kita tidak hanya membutuhkan kesabaran, namun juga empati. Empati agaknya yang akan lebih ditekankan dalam bertoleransi. Dengan adanya empati dalam toleransi, menyebabkan seseorang tidak dengan mudah menjustifikasi perihal pemahaman, ucapan, atau tindakan orang lain yang berlainan dengan prinsip, nilai, atau dogma yang dianutnya. Hal tersebut lantaran empati memungkinkan seseorang untuk berpikir dari sudut pandang orang lain. Dengan memosisikan diri sebagai orang lain, perspektif seseorang dalam memandang suatu permasalahan tidaklah sempit, sehingga apa yang ia anggap sebagai masalah sebelumnya bisa jadi tidak menjadi masalah.

Penulis: Khaira Abdillah, Anggota Departemen Penelitian, Ilmu Ekonomi, FEB, 2015.
Penyunting: Puji P. Rahayu, Pengurus Inti, Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, 2014.
Ilustrasi gambar: Yuhana Kinanah, Anggota Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan, Farmasi, FF, 2016.