Toleransi dalam Memilih Pemimpin

Toleransi merupakan kata yang tidak asing bagi setiap orang pada umumnya. Kata yang sering kali kita dengar dari kita masih kecil, remaja, hingga beranjak dewasa. Tidak hanya sering kali kita dengarl kata toleransi juga begitu melekat pada diri kita, bagaimana kita begitu meyakini bahwa sudah lah kita hidup bertoleransi kepada orang-orang di sekitar kita mengenai suku, adat istiadat, agama, warna kulit, dan lain-lain. Merupakan kata yang memiliki makna bahwa harus lah kita menghargai satu sama lain, menghargai perbedaan-perbedaan yang ada pada diri kita dengan orang-orang di sekitar agar terjalin hubungan yang baik serta erat. Namun, pada kenyataannya masih sering ditemukan fakta bahwa kita belum benar-benar memahami apa arti kata dari toleransi sebenarnya, bahwa kita masih belum dapat menunjukan bahwa kita sudah bertoleransi.

IMG_0196

Contoh sederhana dan sangat sensitif adalah mengenai agama. Agama merupakan sesuatu hal yang sangat sensitif karena agama menyangkut dengan kepercayaan dan keyakinan yang kita miliki serta merupakan suatu hal yang kita junjung tinggi. Namun bukankah agama juga termasuk dalam hal yang harus kita toleransikan dalam hidup? Seperti yang kita ketahui, di Indonesia terdapat enam agaman yang diakui, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Dimana keenam agama tersebut tercampur menjadi satu di berbagai wilayah di Indonesia, maka penting serta dibutuhkannya sikap toleransi antarumat beragama. Sikap saling menghargai agama yang diyakini satu sama lain, berserta dengan tradisi dan kebiasaan yang di akukan antar umat beragama. Seperti umat Islam yang akan merayakan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kemudian umat Kristiani yang akan merayakan Natal, Paskah, dan lain sebagainya.

Seharusnya sikap tersebut juga berlaku pada saat kita menentukan pemimpin kita. Bagaimana kita bersikap toleransi terhadap antarumat beragama untuk saling menghargai satu sama lainnya. Namun, kenyataannya masyarakat masih belum dapat bersikap toleransi sepenuhnya. Hal tersebut dapat kita lihat bagaimana kita masih belum dapat menghargai serta menerima mungkin saja nanti pemimpin kita memiliki agama yang berbeda dari apa yang kita inginkan. Sikap tidak menghargai dan menerima ini ke depannya mungkin saja akan mengakibatkan perpecahan antarumat beragama.

Sikap tidak menghargai dan menerima ini ke depannya mungkin saja akan mengakibatkan perpecahan antar umat beragama.

Meski kita merasa keberatan jika pemimpin kita memiliki agama yang berbeda dari apa yang kita inginkan, namun bukankah kita juga harus melihat dari kriteria kepantasan dari seorang pemimpin? Kita tidak hanya memerlukan pemimpin yang memiliki agama yang sama seperti kita, namun juga kita memerlukan pemimpin yang memiliki sikap tegas, berani, serta intelektual yang baik dan kriteria lainnya yang diperlukan seorang pemimpin. Akan terasa percuma jika kita hanya memiliki pemimpin yang memiliki agama yang sama dengan apa yang kita inginkan namun tidak memiliki kriteria yang lain yang pada akhirnya akan menjatuhkan bangsa kita sendiri. Tidak hanya melihat dari segi agama namun juga kriteria lain yang diperlukan.

Sikap tidak menghargai dan menerima ini perlu kita hindarkan untuk dilakukan, karena seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa agama merupakan suatu hal yang sensitif. Mungkin saja penganut agama yang lain merasa tersinggung dengan kita tidak menghargai serta menerima jika pemimpin kita memiliki agama yang sama dengan mereka.

Penulis: Shendy Haerunnisa Resnanda, Anggota Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia, Akuntansi Sektor Publik, Vokasi, 2015.
Penyunting: Puji P. Rahayu, Pengurus Inti, Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, 2014.
Ilustrasi gambar: Rendi Chevi Daffa Ulhaq, Anggota Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan, Teknik Elektro, FT, 2016.