Perempuan dan Tafsirnya

Sufi terbesar sepanjang sejarah, Jalaluddin Rumi suatu ketika berkata, mahluk ghaib nomor satu adalah Perempuan, nomor dua baru Tuhan. Kalimat barusan tentu tidak bisa sembarangan kita tafsirkan tapi setidaknya ada satu hal yang bisa kita tarik. Bagi Rumi, perempuan bukanlah sekadar jenis kelamin ataupun peran gender. Lebih dari itu, perempuan mengandung segala hal yang seringkali para lelaki atau bahkan perempuan itu sendiri luput dalam melihatnya.

mahluk ghaib nomor satu adalah Perempuan, nomor dua baru Tuhan.

Rumi mendefinisikan perempuan bukan dengan sesuatu yang terang disertai tafsir yang tunggal melainkan sebaliknya: perempuan itu multitafsir, susah didefinisikan, dan maka dari itu ia sebut perempuan sebagai mahluk ghaib. Uniknya, pernyataan Rumi ini ternyata sedikit banyak bisa menggambarkan hakikat perempuan, lebih-lebih di zaman kekinian.

INTERNATIONAL WOMEN DAY

Kalau Anda berpikir perempuan adalah kaum penurut yang mudah ditaklukkan laki-laki, bagaimana dengan Cut Nyak Dien yang baru mau menerima lamaran Teuku Umar dengan syarat ia diperbolehkan ikut perang melawan Belanda?

Mungkin bagi Cut Nyak Dien, cukup Belanda saja yang bisa menjajahnya, laki-laki jangan berharap. Cut Nyak Dien sudah janda kala itu, tapi ia menetapkan standar yang sangat tinggi bagi laki-laki yang ingin menikahinya. Akhirnya Teukur Umar gugur dalam pertempuran. Tapi kematian Teuku Umar tidak sia-sia, ia gugur atas nama cinta yang merobohkan pondasi patriarki.

Kalau Anda berpikir perempuan adalah kaum yang habitatnya hanya berkutat pada kawasan dapur dan kasur, coba anda tengok ibu-ibu dari Pegununan Kendeng, Rembang, yang membuat suaminya bingung karena mereka tidak ditemukan di dapur ataupun di kasur. Mereka di jalanan. Para perempuan tangguh itu sengaja keluar dari dapurnya untuk menggadaikan nyawanya demi keadilan. Jangankan laki-laki, kalau sudah berlaku sewenang-wenang, korporasi nasional pun dilawannya!

Kalau Anda berpikir perempuan adalah gender nomor dua yang dalam perjalanan sejarah selalu menjadi figuran, mungkin Anda perlu tahu kisah Kartini.

Kalau Anda berpikir perempuan adalah gender nomor dua yang dalam perjalanan sejarah selalu menjadi figuran, mungkin Anda perlu tahu kisah Kartini. Pada tahun 1899, Kartini dengan gagah berani saling surat-menyurat dengan temannya, orang Belanda, untuk memperjuangkan nasib kaumnya yang memprihatinkan. Dalam budaya patriarkis yang kental di Jawa, ditambah kebijakan kolonialisme yang merantai hak asasi perempuan dalam tatanan sosial, Kartini memilih untuk menjadi bagaimana perempuan seharusnya.

Kepada Stella Zeehandelaar, sahabat penanya, Kartini meramalkan jika apa yang ia perjuangkan – perempuan mempunyai hak sosial politik yang sama dengan laki-laki – mungkin akan berhasil walaupun harus menunggu sekitar empat sampai lima keturunan lagi. Terbukti pada tahun 1955 dalam Pemilu pertama Indonesia, perempuan memiliki suara yang sama nilainya dengan laki-laki.

Dan ternyata, bukan laki-laki yang bisa memukul mundur aparat kepolisian yang hendak membubarkan demonstrasi. Pasukan polisi lengkap bersenjata bubar jalan bukan karena tangguhnya kaum pria, tapi disebabkan ibu-ibu yang nekat bugil demi memperjuangkan haknya. Para polisi itu, jangankan menyemprot gas air mata, mereka hanya bisa menutup mata kemudian mundur teratur.

Jadi, sebenarnya, perempuan itu apa ya?

Kalau Anda tanya Hillary Clinton, mungkin ia akan menjawab perempuan milenial tidak bisa dikalahkan dengan mudah dalam percaturan politik. Clinton selangkah lagi akan mengguncangkan dunia dengan terpilihanya ia menjadi perempuan presiden AS pertama sebelum dikalahkan oleh Donald Trump. Bagaimanapun, kekalahan Clinton atas Trump ini tidak bisa kita baca sebagai kekalahan perempuan atas laki-laki di pentas politik. Sebab, ada beberapa orang yang tidak setuju apabila Donald Trump digolongkan sebagai laki-laki akibat kebijakannya yang kerap kali tidak jantan.

Kartika Jahja lain lagi. Baginya, perempuan adalah mereka yang bebas mendefinisikan dan menentukan otoritas tubuhnya. Klipnya yang viral di YouTube dengan judul “Tubuhku Otoritasku” adalah bentuk perlawanan yang nyata atas diskriminasi dan stigma terhadap tubuh perempuan selama ini.

Begitu pula tafsir perempuan yang berbeda akan kita dapatkan jika kita bertanya ke Dian Sastro, Megawati, Julia Perez, Sri Mulyani, almarhumah Marsinah, almarhumah Marlyn Monroe, hingga almarhumah Suzanna.

Kami laki-laki merasa inferior dan cemburu kepada perempuan.

Namun dari sekian banyak tafsir tentang perempuan, ada satu hal yang bisa kita sepakati bersama. Kami laki-laki merasa inferior dan cemburu kepada perempuan. Sebab, ternyata, usaha kami dalam menguasai segala aspek kehidupan selama ini ternyata tidak membuahkan hasil. Segiat apapun usaha kami, sekokoh apapun budaya patriarki kami, tetap saja kami tidak bisa mendirikan Kementerian Pemberdayaan Laki-Laki, Komnas Laki-Laki, apalagi Hari Pria Internasional.

Pada akhirnya, penulis memohon maaf apabila pembaca tidak mendapatkan tafsir yang jelas atas eksistensi mahluk bernama perempuan ini. Jalaluddin Rumi yang notabene sudah berada pada level tertinggi ilmu hakikat saja gagap ketika diharuskan mendefinisikan perempuan. Apalagi penulis yang hanya penggemar berat JKT48.

Mungkin, satu-satunya tafsir yang paling bisa menjelaskan hakikat perempuan adalah dari penyair W.S Rendra. Dalam syairnya, Rendra berkata,

“Perempuan bagai belut

Meski telah kau kenali segala lekuk liku tubuhnya,

Sukmanya selalu luput dalam genggaman!”

Penulis: Berlian Triatma, Kepala Departemen Kajian, Psikologi, F.Psi, 2016.
Penyunting: Puji P. Rahayu, Pengurus Inti, Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, 2014.
Ilustrasi gambar: Startian Bonata, Kepala Departemen Media, Informasi, dan Penerbita, Geografi, FMIPA, 2014.