OA LINE, Nasibmu Kini…

LINE lebih dari televisi. Setidaknya itulah kalimat yang pas menggambarkan bagaimana eksistensi dan pengaruh LINE bagi kehidupan bermasyarakat saat ini. Bagaimana tidak? LINE menyediakan informasi apapun yang manusia butuhkan. Mulai dari bahan-bahan lelucon, berita kemesraan artis, prediksi ilmiah golongan darah yang akurat, foto-foto kucing, curhatan, cercaan, berita, hingga segala keburukan manusia bisa anda temui. Tak peduli itu adalah fitnah atau sedikit fitnah. Ya, LINE telah merambah sedemikian luas pengaruhnya bagi masyarakat. Rasa-rasanya manusia bisa bertahan hidup tanpa televisi selama seminggu, tapi akan gelisah jika LINE nya ke-reset.

Maraknya penggunaan sosial media yang satu ini lantas membuat manusia berlomba-lomba membuat OA LINE. Sedikit-sedikit dijadiin OA. Bahkan, di wilayah setingkat RT-pun dibikin OA. Ya tentu dapat ditebak isi postingannya tak jauh dari kegiatan sehari-hari ibu RT serta koleksi burung pak RT. Tak salah. OA LINE pun sempat menikmati masa-masa kejayaannya. Kolom chat hingga timeline dihiasi oleh postingan mereka. Ribuan likes mengalir pada setiap postingannya, kolom komentar pun selalu ramai. Tapi namanya manusia. Tidak cukup dengan popularitas, mereka masih ingin lebih, maka dibukalah “paid promote” dengan alasan “like & share” dari adders tidak mampu membuat mereka kenyang. OA yang awalnya konsisten memposting video-video amazing, kini tak lebih dari sekadar toko online obat pelangsing dan pembesar payudara.

Namun, nampaknya roda kehidupan itu bulat bukan datar, sehingga benar-benar berputar. OA LINE kini mendekati masa-masa kehancuran. Banyak OA yang telah ditinggalkan adders-nya karena dianggap mengganggu dan tidak lagi berfaedah. Sekarang, bukan postingan OA LINE lagi yang kerap kita temui di timeline, melainkan postingan-postingan viral dari akun personal. Ya, akun personal yang dulunya dianggap tidak berdaya menghadapi kedigdayaan OA LINE, kini telah menjelma menjadi suatu kekuatan baru. Postingan dari akun personal yang dulunya jumlah like-nya paling mentok hanya mencapai puluhan, kini bisa mencapai puluhan ribu! Ya, OA LINE mulai terkalahkan.

Tentu kita masih ingat kehebohan timeline dimulai sejak masa Pilkada DKI Jakarta. Setiap orang menyuarakan opininya. Membela yang satu menghujat yang lain. Perang opini tidak dapat dihindarkan. Kedua kubu memiliki pasukannya masing-masing yang akan siap sedia menolong jika salah satu kawannya sekarat di medan perang opini. Tak mau kalah, jika pasukan seberang membuat opini, maka beribu-ribu opini tandingan akan disiapkan. Tentu masalah data dan fakta di lapangan urusan belakangan. Banyak korban berjatuhan akibat perang ini. Hubungan suami-istri tidak lagi harmonis hanya lantaran memiliki pilihan berbeda di Pilkada, hingga anak menjadi durhaka kepada orang tuanya gara-gara tidak mau dipaksa memilih salah satu calon.

Yah, sesuai prinsip hidup saat ini: Beremosi-emosi dahulu, paham atau tidak itu masalah kemudian.

Tidak cukup sampai di situ. Tentu kita masih ingat bagaimana kehebohan audisi salah satu merek biskuit yang menampilkan anak-anak polos nan menggemaskan mencoba berakting layaknya orang dewasa. Video-video mereka diunduh dan ditonton ribuan kali. Para manusia pemuja ketenaran pun mengambil kesempatan dengan memposting video mereka agar mendapat ribuan like, sehingga bisa menjadi suatu pencapaian hidup tersendiri yang mungkin bisa menjadi nilai tambah ketika mencari pekerjaan kelak. Mungkin.

Ada keheranan tersendiri di hati saya ketika melihat begitu mudahnya postingan seseorang mencapai ribuan like, share, dan komentar. Jika dulu ingin mendapatkan like yang banyak, maka orang tersebut harus menitipkan konten jokes/tulisannya untuk diposting oleh suatu OA LINE yang adders-nya melebihi populasi masyarakat Bekasi.

Mengenai begitu mudahnya mendapat like, teman saya pernah mengatakan “Kalau kamu habis turun dari ojek online, jangan lupa foto pengemudinya. Lalu, siapkan caption berupa kisah-kisah sedih mengenai pengemudi tersebut, dan postinglah di timeline. Pasti setidaknya ada ratusan yang nge-like.

Atau “Kalau lagi musim ujian di kampus, postinglah video-video lucu yang menggambarkan betapa depresinya kamu menghadapi ujian. Maka bisa dipastikan namamu akan dikenang seketika di lingkungan kampus, atau paling sialnya kamu dibilang trapper.” (Trapper merupakan orang yang berperilaku kebalikan dari apa yang sebenarnya. Seperti pura-pura tidak bisa mengerjakan soal ujian padahal nilainya A. Orang seperti ini benar-benar menjengkelkan).

1497786662124

Beberapa hari terakhir, akhirnya saya menemukan jawaban atas keheranan mengapa saat ini postingan di akun personal bisa lebih viral dibanding postingan OA LINE yang memiliki adders banyak.

Citra dari OA LINE tersebut

Branding suatu OA dibentuk sebagai hasil akumulasi dari setiap postingannya. OA yang sering memposting humor receh maka akan memiliki citra OA receh. Akan kepintaran rasanya jika tiba-tiba OA tersebut memposting infografis hasil penelitian. Namun terkadang, tanpa disadari, beberapa OA membentuk citra yang kurang baik bagi sebagian masyarakat. Dan citra yang kurang baik ini membuat beberapa orang enggan dan sedikit jijik untuk nge-like maupun nge-share postingan OA tersebut.

X: Eeeh lihat deh, postingan terbaru OA Amazing Dinosaur, video bayi dinosaurusnya lucu banget.

Y: Lucu sih, tapi gue nggak mau nge-like apalagi nge-share, ah.

X: Kenapa? Bukannya lo yang paling sering nge-share video-video lucu ke grup angkatan?

Y: Malu ah, gue. Soalnya OA Amazing Dinosaur itu kesannya alay-alay gitu. Selama ini bahkan lebih sering posting kata-kata galau buat hati-hati yang labil. Kalau gue like atau share, entar kan ketahuan di timeline teman-temen dekat gue. Fix malu banget sih. Kesannya kayak remaja labil aja nge-add OA gituan. Iyuuhh.

X: Iya. Apalagi kalo OA tersebut suka nge-spam, pasti gue langsung hide dari timeline biar gak nyampah

Kolom komen di OA LINE yang fasilitasnya seperti WC Umum, kurang memadai.

Ya, fitur di kolom komen untuk akun personal memang berbeda dengan OA LINE. Kolom komentar di OA LINE tidak menyediakan fitur “Like & Comment” dan “Mention”. Dan terkadang hal ini membuat adders menjadi enggan untuk komen di postingan OA Line. Terkadang, kehadiran kedua fitur tersebut bisa membuat kolom komentar menjadi interaktif.

X: Eeh, lo gak niat buat komen di postingan OA Plastic Holic yang tadi siang tentang harga-harga keresek gitu?

Y: Nggak, ah. Percuma gue komen bagus-bagus dan panjang-panjang, tapi gak bisa di-like sama yang lain. Kan kesannya kacang gitu… Kalo komen di akun personal, gue mau deh. Lumayan kan kalo komen kita bagus terus bisa di-like banyak orang. Apalagi kalo postingannya viral, bisalah numpang popularitas.

X: Elaah, lo cuma ngejar popularitas doang dah.

Y: Nggak gitu juga. Hal lain yang bikin gue mager untuk komen di postingan OA itu juga karena gue nggak bisa mention teman atau orang lain. Kan jadi ribet gitu kalo gue mau ngajak teman-teman gue untuk nimbrung komen di sana. Ribet juga kalo gue mau bales-balesan komen dengan yangg lain.

Anonimitas Admin OA LINE

Seringkali admin OA menyembunyikan identitasnya agar tidak diketahui oleh adders. Jikalau harus muncul ke publik, maka nama samaran atau inisial yang digunakan. Admin seperti ini benar-benar nurut dengan apa yang dikatakan Shakespeare mengenai apalah artinya sebuah nama. Selain itu, karena mengelola suatu OA yang memiliki adders berekor-ekor, membuat dirinya sibuk sampai lupa membalas komen adders di setiap postingannya.

X: Eeeh, gue kesel banget deh sama admin OA Fucking True. Komen gue nggak pernah dibales-bales. Sombong banget dia, sok-sokan anonim lagi padahal namanya Budi.

Y: Hihihi… Udah jangan kesal mulu ah. Mungkin adminnya lagi sibuk bernapas.

X:Kalo kayak gini mah, mending gue komen di postingan akun personal dah. Komen gue lebih sering dibales. Terus ngapain juga gue komen kalo adminnya aja nggak jelas siapa. Gak kenal. Itusih sama aja kayak jatuh cinta sama orang yang belum pernah ketemu, yang ada cuma sakitnya doang.

Y: Iya, gue juga pasti akan lebih seneng komen di postingan orang yang gue kenal. Berinteraksi dengan anonim itu sih interaksi yang semua.

Insentif langsung ketika nge-post di akun personal.

Ya, namanya manusia. Rasa serakah dan ingin menguasai pasti muncul. Daripada, ribet ngirimin konten ke OA LINE yang kenikmatan popularitasnya tidak bisa dirasakan langsung, mending nge-post di akun sendiri. Sehingga, ketenaran pun bisa dirasakan langsung tanpa melalui perantara. Terkadang, ketika mengirimkan konten ke OA, kita takut kelicikan admin muncul dengan tidak mencantumkan sumber agar dikira ide postingannya benar-benar orisinil, maka kalau itu terjadi tentu kita hanya bisa mendumel dalam hati.

Akun personal terkadang lebih peka dengan fenomena yang terjadi dibanding admin OA LINE

Namanya manusia pasti memiliki keterbatasan, begitu pula dengan admin OA. Admin OA bukanlah perangkat Google yang bisa tahu apa saja. Admin OA juga bukan tikus yang berkeliaran dimana saja. Maka maklumilah jika terkadang mereka tidak responsif menanggapi suatu isu.

Ya, begitulah sekiranya opini dari penulis. Semoga dengan tulisan ini, para admin OA serta para penggiat pemasaran via media sosial agar bisa lebih peka terhadap hal-hal kecil namun tidak sepele seperti yang telah disebutkan. Sehingga eksistensi OA tidak semakin tenggelam dengan viralnya postingan akun personal. Perlu diingat bahwa ini adalah tulisan opini, tidak bisa sepenuhnya dipercaya. Jika terjadi kesamaan nama tokoh atau OA LINE itu hanyalah kebetulan yang disengaja.

Penulis: Naufal Maulana, Wakil Kepala Departemen Kajian, Akuntansi, FEB, 2015.
Penyunting: Puji P. Rahayu, Pengurus Inti, Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, 2014
Ilustrasi gambar: Technewstoday.com.