Mengenal Tuhan dalam Filsafat

Tulisan ini semata-mata merupakan bentuk notulensi dari diskusi taman lingkar yang diadakan oleh Kajian Akhir Zaman pada Kamis, 16 Maret 2017. 

Konsep akan Tuhan, dapat dikatakan sangat kontroversial. Berbagai macam diskursus telah disampaikan mengenai keberadaan Tuhan. Terkadang, perbedaan diskursus yang diikuti pun menimbulkan berbagai macam sentimen negatif mengenai masing-masing pihak. Pada diskusi taman lingkar perdana dari Kajian Akhir Zaman, para peserta diajak untuk memahami lebih lanjut bagaimana seorang teis dan ateis memandang pilihan masing-masing. Untuk mendalami lebih lanjut, Kajian Akhir Zaman mengundang dua pembicara, yakni Samuel Vincenzo (FIB) dan Kala Sanggurdi (F.Psi). Keduanya mencoba untuk memaparkan lebih lanjut bagaimana pandangan masing-masing, dari sisi teis dan ateis mengenai Tuhan itu sendiri.

S__8945694

Macam-macam Konsep dan Pengertian Teisme dan Ateisme

Pemaparan pertama mengenai konsep Tuhan dari filsafat teisme disampaikan oleh Samuel Vincenzo. Secara sederhana, maka yang disebut dengan teisme adalah kepercayaan terhadap Tuhan. Dalam filsafat, diskusi akan Tuhan pada dasarnya sudah berkembang sejak lama. Bahkan, permasalahan ketuhanan secara filosofis sudah muncul sejak filsafat itu sendiri ada. Socrates pun dalam pemikirannya sudah mulai mempertanyakan mengenai kesalehan. Sehingga, teisme sendiri, bukanlah suatu hal yang aneh. Sedangkan ateisme diyakini muncul sebagai respons dari gereja.

Sehingga, teisme sendiri, bukanlah suatu hal yang aneh.

Terkadang, apabila kita membicarakan tentang kesalehan, maka yang terpikir oleh kita adalah, pergi ke gereja setiap minggu, ibadah setiap hari, dan lainnya. Akan tetapi, pada dasarnya, hal-hal tersebut tidak dapat menjelaskan kesalehan itu sendiri. Pada akhirnya muncul pula pertanyaan-pertanyaan mengenai what is good?

Dalam hal ini, teisme yang dibahas adalah teisme yang condong ke kepercayaan terhadap Tuhan secara personal. Teisme memercayai bahwa Tuhan dapat diketahui. Mereka tidak melihat Tuhan sebagai suatu hal yang diciptakan. Sehingga, Tuhan bukanlah suatu konsep yang dibuat-buat. Hal yang cukup menarik diangkat oleh Samuel adalah, banyak cendekiawan yang memilih untuk menjadi seorang teis.

Pada akhirnya, Samuel menyatakan bahwa diskusi soal Tuhan itu masih perlu karena mereka percaya bahwa diskusi tentang teisme membawa ontologi, identitas, makna hidup, moralitas, dan juga takdir. Tentunya, kelima hal tersebut memengaruhi kehidupan kita.

Berbeda dari Samuel, Kala Sanggurdi mencoba untuk menjelaskan bagaimana konsep Tuhan dari filsafat ateisme. Sebelumnya, Kala dalam perkenalannya, menyatakan bahwa ia adalah seorang pasca-teisme. Menurut Kala, membicarakan Tuhan bukan sekadar tentang percaya atau tidak. Dalam mengonsepkan sesuatu yang sebesar Tuhan, maka akan muncul banyak perdebatan.

Dalam mengonsepkan sesuatu yang sebesar Tuhan, maka akan muncul banyak perdebatan.

Pada dasarnya, dalam teis, ada bayak sekali tanggapan mengenai Tuhan. Bahkan, varian-variannya pun beragam. Politeisme mempercayai bahwa Tuhan itu banyak. Lalu, ada monoteisme yang percaya bahwa Tuhan hanya ada satu. Panteisme menganggap bahwa semuanya adalah Tuhan, Tuhan adalah semua.  Panenteisme percaya bahwa semua yang ada di dunia ini adalah bagian dari Tuhan. Bisa jadi kaki, badan, bahkan jari kita merupakan bagian neuron dari Tuhan. Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa banyak sekali konsep Tuhan yang diterapkan.

Beralih pada ateisme. Ateisme sendiri lingkupnya lebih kecil dari teisme dan non-teisme.  Secara umum, ateisme berarti ketidakpercayaan akan Tuhan. Dalam ateisme, terdapat apateisme dan antiteisme. Apateisme berarti ketidakpedulian terhadap Tuhan itu sendiri. Mau Tuhan itu ada ataupun tidak, mereka tidak akan peduli. Kemudian, berdasarkan antiteisme, Tuhan itu harus tidak ada dan tidak boleh ada.

Berlanjut pada non teisme. Dalam non teisme, terdapat agnostisisme, pasca-teisme, dan trans-teisme. Agnostisisme merupakan sebuah konsep yang menganggap bahwa pertanyaan tentang Tuhan merupakan hal yang tidak dapat diketahui. Entah tidak dapat dijawab atau emang tidak dapat diketahui. Pada dasarnya, manusia adalah agnostik karena sejak masih kecil mereka tidak tahu apa-apa tentang Tuhan.

Sedangkan, pasca-teisme berarti sebuah konsep yang menyatakan bahwa diskusi ketuhanan itu sudah usang. Sudah bukan lagi zamannya. Masih ada diskusi-diskusi lain yang lebih besar dan penting untuk dibahas. Terakhir, ada transteisme yang memercayai bahwa Tuhan hanyalah satu dari sekian banyak hal yang dapat dibahas. Ada sesuatu yang lebih besar yang dapat dibahas.

Pada akhirnya, orang-orang ateis mulai mempertanyakan apakah itu Tuhan? Apakah Tuhan itu seperti yang dikatakan oleh teis? Apakah Tuhan dapat dipersepsikan dengan hal lain? Apakah Tuhan itu bisa sangat sederhana?

apabila seseorang mengaku dirinya sebagai ateis, maka ia harus tahu terlebih dahulu ateis seperti apakah dirinya itu.

Kala Sanggurdi menyatakan bahwa apabila seseorang mengaku dirinya sebagai ateis, maka ia harus tahu terlebih dahulu ateis seperti apakah dirinya itu. Karena, bagaimanapun konsep dari ateisme itu sendiri sangatlah luas. Sehingga, tidak dapat disederhanakan. Pada akhirnya, muncul suatu simpulan bahwa ateis adalah orang-orang yang menunggu satu titik saat Tuhan dapat diobservasi.

ateis adalah orang-orang yang menunggu satu titik saat Tuhan dapat diobservasi.

Dalam menjelaskan pandangannya, Samuel menyatakan bahwa klaim ateis mengenai ketidakberadaan Tuhan bermasalah secara epistemologis. Membuktikan sesuatu yang tidak ada akan jauh lebih sulit daripada membuktikan suatu hal yang ada. Sehingga, untuk membuktikan sesuatu itu tidak ada, seseorang dituntut untuk menunjukkan semuanya terlebih dahulu.

Dari Kala sendiri, ia menyatakan bahwa kebenaran itu harusnya bersifat objektif. Sehingga, kebenaran mutlak itu tidak ada. Kebenaran itu ada ketika manusia itu ada. Sehingga, apabila manusia tidak ada, maka belum tentu kebenaran itu ada.

 

Pilihan Samuel Vincenzo menjadi Teis

Mengutip Russel, Samuel menyatakan bahwa semua hal itu berakhir di kubur. Sebagai seorang teis, Samuel percaya bahwa ia harus mempertanggungjawabkan kehidupannya secara rasional. Dulunya, Samuel mengaku ia adalah seorang ateis-praktis. Ia beranggapan pembicaraan mengenai Tuhan bukanlah suatu hal yang penting. Selama  ia menikmati hidup, yaa kenapa tidak. Akan tetapi, ada satu momen, semacam mengalami Pascal’s Wager, tiba-tiba semua pandangan yang ia percayai itu berubah. Ia pun mempertanyakan, kenapa Tuhan menjadi begitu penting dalam hidupnya. Samuel pun mengakui bahwa ia bukanlah orang yang baik. ia hanya dapat memberikan hal yang terbaik. Sampai pada satu titik, daripada kita marah kenapa Tuhan tidak memunculkan diri-Nya di hadapan kita, kita harus berterima-kasih karena dia telah menunjukkan keberadaan-Nya lewat ciptaan-Nya. Namun demikian, Samuel berkata bahwa meskipun seorang teis percaya akan Tuhan, bukan berarti ia tidak meragukannya. Pada dasarnya, keraguan itu menjadi penting.

daripada kita marah kenapa Tuhan tidak memunculkan diri-Nya di hadapan kita, kita harus berterima-kasih karena dia telah menunjukkan keberadaan-Nya lewat ciptaan-Nya.

Pilihan Kala Sanggurdi menjadi Ateis

Menjadi ateis itu tidak mudah. Ada banyak proses yang harus dilalui sebelumnya. Sejak kecil, Kala mengaku ia sudah melontarkan pertanyaan-pertanyaan filosofis apakah Tuhan itu ada? Dulunya, Kala adalah seorang muslim. Saat sekolah dasar, ia masuk ke SD islam. Di sana, Kala tidak pernah menemukan perspektif lain selain dari perspektif islam. Hingga pada akhirnya saat sekolah menengah pertama, Kala masuk ke sekolah negeri. Dari sinilah, perspektif Kala mulai terbuka. Ia bertemu dengan orang Hindu, Kristen, Buddha, bahkan ateis itu sendiri.

Secara teknis, Kala Sanggurdi mengaku ia menjadi ateis karena begitu banyak interpretasi akan Tuhan dan agama.

Secara teknis, Kala Sanggurdi mengaku ia menjadi ateis karena begitu banyak interpretasi akan Tuhan dan agama. Di dunia  ini saja, ada 4200 agama. Pada akhirnya, Kala menarik kesimpulan bahwa kebenaran, bahkan Tuhan pun, merupakan suatu hal yang subjektif. Suatu ketika, Kala mengalami solipsis. Dengan demikian, ia melihat bahwa semua dunia hanya ada karena kita ada. Selama kita belum lahir atau sudah mati, maka dunia itu tidak ada. Semua salah-benar, baik-buruk, itu hanya ada di pikiran masing-masing.  Pikiran solipsis inilah yang membuat Kala menjadi seorang ateis.

Apabila ditanya apakah seorang Kala masih memercayai Tuhan atau tidak, maka yang kemudian ditanyakan kembali, Tuhan yang mana yang dimaksud?

Menjadi seorang ateis merupakan langkah yang besar. Terkadang, banyak yang mempertanyakan datang dari mana moral? Datang dari mana kebaikan? Pada akhirnya pun, Kala mempertanyakan kembali, memangnya mengapa kalau kita hidup tanpa moral? Tanpa tujuan? Apa salahnya seseorang hidup seperti biasa? Apa salahnya menjadi manusia biasa?

Pada dasarnya, perdebatan ateis dan teis terus terjadi karena memang adanya perbedaan pendekatan dalam memahami konsep ketuhanan yang digunakan oleh kaum teis dan kaum ateis.

Pada dasarnya, perdebatan ateis dan teis terus terjadi karena memang adanya perbedaan pendekatan dalam memahami konsep ketuhanan yang digunakan oleh kaum teis dan kaum ateis. Pendekatan yang digunakan oleh kaum ateis yaitu pendekatan materialis yang menuntut bahwa Tuhan harus dapat diobservasi dengan menggunakan mata fisik. Sedangkan kaum teis meyakini bahwa Tuhan itu tentu berbeda dengan makhluknya, ada hal mengenai Tuhan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, karena memang akal manusia tidak mampu mencapai hal itu. Konsep “ada” yang diyakini kaum teis pun sederhana, menurut mereka sesuatu tetap dianggap ada walaupun itu hanya berada dalam pikiran seseorang, apabila kita bisa memikirkan sesuatu hal tersebut maka hal tersebut pun tentu ada.

Pendekatan ilmiah dan materialis oleh kaum ateis pun ternyata baru muncul ketika masa modern, sebelum itu para kaum ateis tidak selalu menggunakan pendekatan tersebut. Karl Marx merasa prihatin dengan kondisi masyarakat saat itu dan merasa bahwa ketika seseorang hendak berpindah dari suatu kelas sosial ke kelas sosial lainnya yang mereka lakukan bukanlah berusaha melainkan justru berdoa dan hanya pasrah kepada Tuhan. Oleh karena itu Karl Marx menyatakan bahwa “agama adalah sebuah candu” karena tingginya rasa ketergantungan seseorang kepada Tuhannya.

Karl Marx menyatakan bahwa “agama adalah sebuah candu” karena tingginya rasa ketergantungan seseorang kepada Tuhannya.

Pada dasarnya, pembicaraan akan Tuhan akan terus diperdebatkan. Apakah Ia benar-benar ada atau tidak. Pemikiran-pemikiran ini lah yang pada akhirnya memengaruhi kehidupan manusia. Bagaimanapun, keputusan seseorang dalam memersepsikan Tuhan, kembali lagi pada masing-masing individu. Tidak ada seorang pun yang dapat memaksakan kehendak mereka terhadap keputusan yang diambil. Pada akhirnya pun, penjelasan mengenai konsep Tuhan akan berbeda-beda. Hal ini bergantung dari pendekatan yang digunakan. Apakah melalui pendekatan teis, atau non teis.

Notulen: Puji P. Rahayu, Pengurus Inti, Ilmu Hubungan Internasional, FISIP 2014.
Penyunting: Naufal Maulana, Wakil Kepala Departemen Kajian, Akuntansi, FEB, 2015.
Ilustrasi gambar: Startian Bonata, Kepala Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan, Geografi, FMIPA, 2014.