Menakar Praktik Orientasi Mahasiswa Baru

Dunia pendidikan Indonesia lagi-lagi diselimuti elegi, tidak lain disebabkan meninggalnya mahasiswa baru asal Yogyakarta ketika mengikuti orientasi mahasiswa pecinta alam [1]. Ia mengalami kekerasan oleh senior yang menghabiskan diri sebagai pecinta alam namun disaat yang sama “memangsa” manusia yang notabene merupakan bagian dari alam. Hal tersebut bukanlah yang pertama jika kita mau mengingat kebelakang tuk sejenak, terdapat sederetan korban yang meninggal akibat mengikuti program orientasi mahasiswa baru. Terdapat kesamaan diantara korban tersebut, mereka tidaklah hanya dibunuh oleh senior yang culas dan bengis, lebih dari itu, mereka dibunuh oleh sistem. Suatu sistem yang sarat akan pemujaan di atas altar yang bernama senioritas, feodalisme, dan dogmatisme yang berselimut dengan nama orientasi mahasiswa baru yang dibenarkan atas dasar menggembleng mental dan melatih kedisiplinan.

95f59-b44gbyccyaelq9j2blarge

Sungguh ironi setelah mendapati bahwasanya cita-cita luhur bangsa Indonesia, yakni “.. penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” justru dilanggar oleh orang-orang yang menyandang titel mahasiswa, yang seyogyanya telah mendengarnya setiap hari Senin saat mengikuti upacara bendera selama dua belas tahun menempuh pendidikan di sekolah. Tindakan mereka justru seolah memainkan lakon dari skenario bernama Homo Homini Lupus, laiknya serigala beringas yang menerkam nyawa mahasiswa tak lupa beserta masa depannya.

Soe Hok Gie pernah mengutarakan, “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.“ [2]. Hal yang patut disayangkan bahwa perkataan yang berusia lima puluh tahun tersebut masih sangat relevan untuk menggambarkan dunia mahasiswa sekarang. Menandakan bahwa adanya lingkaran setan balas dendam yang tiada putus sampai saat ini.

Kekerasan adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang, baik secara fisik maupun mental (Berkowitz, 1993). Seringkali terdapat miskonsepsi dengan mengasosiasikan kekerasan hanya berupa fisik, padahal kekerasan verbal memiliki efek negatif yang sama besarnya dengan kekerasan fisik. Menurut Martin Teicher, seorang profesor di bidang psikiatri di McLean Hospital yang berafiliasi dengan Harvard University, mengatakan bahwasanya kekerasan verbal baik itu dalam bentuk memarahi, memaki, berteriak, menyalahkan, menghina, mengancam, mengejek, merendahkan, dan mengintimidasi memilki efek negatif yang sama bahayanya dengan kekerasan fisik. Bahkan dapat memberikan efek yang lebih lama jika dilakukan secara terus menerus sehingga menimbulkan post-traumatic stress disorder yang justru mengakibatkan gangguan mental pada seseorang [3]. Contohnya ialah hilangnya rasa percaya diri, kesulitan mengambil keputusan, rasa minder akan kemampuannya, kesulitan berkomunikasi, hingga trauma berkepanjangan [4]. Dampaknya tentu lebih dahsyat jika kekerasan verbal dan kekerasan fisik dikombinasikan dalam orientasi mahasiswa baru.

Oleh karena itu, penggunaan kekerasan baik itu berupa verbal maupun fisik sebagai instrumen mendidik dalam orientasi mahasiswa baru dengan dalih penguatan mental serta usaha “mensimulasikan kejamnya dunia” tidak dapat dibenarkan sebab terbukti justru mengakibatkan jatuhnya mental seseorang. Maka dari itu,  perubahan metode pendekatan dalam orientasi mahasiswa baru yakni dengan menghilangkan praktik kekerasan dan menggantinya dengan metode yang mampu membangun motivasi berprestasi mahasiswa baru merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Dibutuhkan dukungan dari semua pihak yang terkait guna menghilangkan praktik kekerasan di orientasi mahasiswa baru agar nantinya dapat melahirkan sarjana-sarjana yang mampu berpikir kritis dan terbebas dari belenggu pikiran sehingga dapat bahu-membahu membangun bangsa ini.

Catatan Kaki:

[1] Haryanto, Alexander. (2017). Jokowi Kecam Keras Diksar Mapala UII yang Tewaskan 3 Korban. “Jokowi Kecam Keras Diksar Mapala UII. “https://tirto.id/jokowi-kecam-keras-diksar-mapala-uii-yang-tewaskan-3-korban-chMz”, diakses pada tangal 18 Februari 2017.

[2] Gie, Soe Hok. 1968. Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Mahasiswa Indonesia/ Edisi Jabar, Minggu IV, Juni 1968.

[3] Cromie, William. 2007. Verbal Beatings Hurt as Much as Sexual Abuse. http://news.harvard.edu/gazette/story/2007/04/verbal-beatings-hurt-as-much-as-sexual-abuse/, diakses pada tanggal 18 Februari 2017.

[4] Kirnandita, Patresia. 2017. Ucapan Keras : Ketegasan atau Kekerasan Verbal. https://tirto.id/ucapan-keras-ketegasan-atau-kekerasan-verbal-ci4, diakses pada tanggal 18 Februari 2017.

Penulis: M. Fadhil Firjatullah, Staff Departemen Kajian, Ilmu Ekonomi, FEB, 2016.
Ilustrasi gambar: di sini