Memudarnya Toleransi di Indonesia: Sebuah Tanda Tanya

Abdurrahman Wahid pernah berkata, “Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin besar rasa toleransinya”. Toleransi atau tenggang rasa menjadi topik yang sedang hangat dibicarakan saat ini. Mengingat semakin maraknya berbagai macam kasus intoleransi di Indonesia. Indonesia memiliki semboyan yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Hal ini dapat diartikan bahwa Indonesia memiliki rasa toleransi yang tinggi antar warga negaranya. Namun, apakah saat ini semboyan tersebut telah pudar?

Namun, apakah saat ini semboyan tersebut telah pudar?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa arti kata toleransi berarti sifat toleran. Kata toleran sendiri didefinisikan sebagai bersifat atau bersikap tenggang rasa (menghargai, membolehkan) pendirian (pendapat, atau keyakinan) yang berbeda atau bertentangan dengan diri sendiri. Sedangkan, intoleransi berarti tidak bersifat toleran.

post ksm3

Kasus intoleransi di Indonesia yang sedang hangat dibicarakan adalah tentang kasus penistaan agama oleh Ahok, gubernur DKI Jakarta. Kasus ini membuka mata saya akan sikap toleransi rakyat Indonesia saat ini. Bayangkan, seorang pejabat publik yang merupakan seorang pemimpin saja sudah bersikap intoleran, bagaimana dengan rakyatnya? Kembali terdapat kasus penistaan budaya dan juga pelecehan lambang negara Pancasila oleh Rizieq Sihab, seorang pemimpin organisasi FPI (Front Pembela Islam).

Sebenarnya, kasus intoleransi di Indonesia sudah lama terjadi. Baik dari kalangan kecil, menengah, atau pun besar. Saya sendiri pernah mengalami kasus intoleransi tersebut. Setamat sekolah menengah, saya pernah mecoba melamar pekerjaan di suatu perusahaan. Saya mampu mengikuti setiap tes yang ada. Namun, saat sesi wawancara berlangsung, pihak perusahaan meminta saya berkomitmen jika saya diterima di perusahaan tersebut, perusahaan tidak mengizinkan saya untuk menggunakan atribut keagamaan apa pun di lingkungan perusahaan tersebut. Hal ini menunjukan segelintir contoh dari sikap intoleransi yang ada di Indonesia.

Dapat dikatakan, Indonesia memang sedang mengalami krisis toleransi. Namun, tidak menutup kemungkinan kasus-kasus seperti yang saya sebutkan di atas hanyalah ulah dari beberapa oknum semata. Warga negara Indonesia masih banyak yang menjunjung tinggi semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, seperti aksi damai yang dilakukan oleh warga muslim di DKI Jakarta dan beberapa aksi-aksi lainnya.

Dengan memiliki pemahaman atau pengetahuan dan juga rasa empati, seseorang akan dapat menilai setiap perkataanya dari sudut pandang orang lain sehingga rasa toleransi atau tenggang rasa dapat dibangun.

Melihat dari pembahasan di atas, sebaiknya kita mengacu kembali pada kutipan awal dari KH. Abdurrahman Wahid. Hendaknya, bangsa Indonesia memiliki pemahaman atau pengetahuan terlebih dahulu sebelum berkata atau pun bertindak. Rasa empati pun harus dibangun. Dengan memiliki pemahaman atau pengetahuan dan juga rasa empati, seseorang akan dapat menilai setiap perkataanya dari sudut pandang orang lain sehingga rasa toleransi atau tenggang rasa dapat dibangun.

Referensi:

Hukum Online. “HAM dan kebebasan beragama di Indonesia.”  http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl6556/ham-dan-kebebasan-beragama-di-indonesia (17 September 2010)

Marzuki, Chafid. “Pengertian Toleransi”. http://www.academia.edu/15352887/pengertian_toleransi (23 Februari 2017)

Prakasa, Aditya. “Apa kabar kasus sampurasun yang jerat Rizieq Shihab?”  http://regional.liputan6.com/read/2824721/apa-kabar-kasus-sampurasun-yang-jerat-rizieq-shihab (17 Februari 2017)

Simanjuntak, Afrido Rico. “Pernyataan Ahok bikin kasus intoleransi makin mencuat,” https://nasional.sindonews.com/read/1148779/15/pernyataan-ahok-bikin-kasus-intoleransi-kembali-mencuat-1476953444 (20 Oktober 2016)

Penulis: Yuli Herawati, Anggota Departemen Penelitian, Fisika, FMIPA, 2016.
Penyunting: Puji P. Rahayu, Pengurus Inti, Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, 2014.
Ilustrasi gambar: Yuhana Kinanah, Anggota Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan, Farmasi, FF, 2016.