Melawan Intoleran: Semua Berawal dari Diri Sendiri

Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia sebagai negara kesatuan menjadi sebuah negara yang mengusung perbedaan sebagai kekuatan nasional. Kekuatan persatuan yang diimplementasikan dengan semangat gotong royong yang merupakan panji-panji pembangunan bangsa dan negara menuju visi dan misi negara yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Namun, semboyan negara terus dibuat goyah dengan maraknya perilaku dan sikap intoleran yang terjadi sejak masa kemerdekaan hingga masa kini. Diperlukan berbagai cara untuk mempromosikan toleransi dan melawan perilaku dan sikap intoleran sehingga Bhinneka Tunggal Ika terus mengalir dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Diperlukan berbagai cara untuk mempromosikan toleransi dan melawan perilaku dan sikap intoleran sehingga Bhinneka Tunggal Ika terus mengalir dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Melawan sikap intoleran membutuhkan hukum. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan diharapkan mampu menciptakan hukum yang melarang perilaku intoleran, dan mewadahi serta mendukung perilaku toleransi. Lebih spesifiknya, pemerintah bertanggung jawab untuk menegakkan peraturan HAM serta melarang dan menolak perilaku yang mengandung unsur kebencian (hate crime) dan diskriminasi terhadap kaum minoritas, baik itu yang dilakukan oleh pemerintah, organisasi masyarakat, maupun individual. Akses terhadap pengadilan dibutuhkan oleh korban perilaku intoleran, beserta pendampingan untuk melalui proses hukum. Pemerintah juga harus memberikan keadilan serta bersikap tegas dalam proses pengadilan atas perilaku intoleran. Sehingga masyarakat tidak akan bermain hakim sendiri dan melakukan kekerasan untuk menyelesaikan perselisihan.

IMG_0191

Hukum dibutuhkan untuk melarang dan menindak perilaku intoleran, namun tidak cukup untuk mencegah perilaku dan sikap intoleran seseorang. Perilaku intoleran pada umumnya lahir dari penolakan dan ketakutan, atas ketidakpahaman dalam menyikapi perbedaaan budaya, bangsa, dan  agama. Ketidakpahaman tersebut menggiring individu untuk bersikap arogan dan melebih-lebihkan diri atau kelompoknya. Gagasan tersebut diajarkan dan dipelajari di masa kecil dari lingkungan, baik itu sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Oleh sebab itu, dibutuhkan pendidikan yang mengajarkan anak untuk berpandangan terbuka dan tertarik untuk memahami perbedaan yang ada. Terlebih untuk menghindari pemaksaan terhadap anak untuk bersikap toleran, namun ditekankan pada realitas perbedaan yang ada. Sehingga anak dapat belajar memahami perbedaan di kehidupan sekitar dan belajar untuk bersikap toleran tanpa harus adanya pemaksaan. Pendidikan toleransi juga dibutuhkan semua umur, mengingat pendidikan tidak hanya di bangku sekolah saja. Namun bisa diterapkan di rumah, organisasi masyarakat, pelatihan kerja, penegakan hukum, hiburan masyarakat, dan lini informasi.

Akses atas informasi juga bisa menjadi alat untuk melawan perilaku intoleran. Perilaku dan sikap intoleran akan sangat berbahaya jika digunakan untuk ambisi politik dan kekuasaan oleh individu maupun kelompok. Politik yang bersifat memecah belah tersebut diawali dengan memanfaatkan sentimen-sentimen di masyarakat. Pemahaman publik berpotensi disesatkan dengan pemberian argumen-argumen yang mengandung kebencian. kebohongan atas data statistik, dan manipulasi opini publik dengan informasi yang menyesatkan dan mengandung prasangka buruk. Langkah untuk melawan dan meminimalisasi adanya politik pecah belah dan kebencian itu adalah dengan mengembangkan kebijakan yang menghasilkan serta mempromosikan kebebasan pers dan pers yang mengusung nilai-nilai pluralisme. Hal tersebut akan memberikan akses atas informasi yang kredibel dan akuntabel kepada masyarakat. Sehingga masyarakat dapat menentukan antara fakta dan opini, serta hal-hal yang mengandung konten SARA, untuk menghindari perilaku intoleran di masyarakat.

Perilaku intoleran di masyarakat merupakan hasil gabungan perilaku intoleran dari tiap individu yang merupakan anggota masyarakat.

Perilaku intoleran di masyarakat merupakan hasil gabungan perilaku intoleran dari tiap individu yang merupakan anggota masyarakat. Banyak perilaku intoleran yang individu lakukan secara sadar maupun tidak sadar. Perilaku intoleran yang dilakukan secara individu bisa berupa prasangka buruk, stereotip, stigma, hinaan, maupun gurauan berbau SARA (racial jokes). Kenyataannya, perilaku intoleran melahirkan perilaku intoleran lainnya (intolerance breeds intolerance). Maksud kalimat tersebut ialah perilaku intoleran yang dilakukan oleh seseorang akan memunculkan keinginan untuk membalas dendam. Untuk melawan perilaku intoleran tersebut, masing-masing individu harus mempertimbangkan perilaku intolerannya di masyarakat yang akan menciptakan rasa saling tidak percaya dan perselisihan. Sebuah perjalanan berawal dari satu langkah kecil. Kita harus bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah saya seorang yang toleran? Masihkah saya memiliki sterotip tentang mereka? Masihkah saya melakukan penolakan terhadap mereka yang berbeda? Apakah saya menyalahkan ‘mereka’ atas permasalahan saya?

Kebanyakan dari masyarakat berasumsi bahwa perilaku intoleran telah mewabah secara masif secara nasional maupun global. Namun, sedikit dari kita yang menyadari bahwa solusi atas permasalahan nasional maupun global tersebut bermula dari tindakan yang diambil oleh masyarakat lokal, bahkan individu sekalipun. Baik itu di lingkungan rumah, RT/RW, sekolah, lingkungan kerja, universitas, dan lainnya. Ketika berhadapan dengan semakin maraknya perilaku intoleran, janganlah kita menunggu pemerintah atau institusi untuk bergerak mengatasinya. Kita semua bagian dari solusi. Perilaku intoleran bisa dilawan dengan aksi damai, tindakan yang membawa pesan arti kehidupan pluralisme yang sebenarnya dengan semangat persatuan. Aksi damai tersebut bisa berupa tindakan yang mengajak masyarakat untuk melawan intoleran bersama-sama, mengorganisasi jaringan pergerakan, menunjukkan serta mendemonstrasikan solidaritas kepada korban perilaku intoleran, menolak propaganda kebencian. Tindakan-tindakan tersebut bisa dilakukan semua orang jika ingin mengakhiri perilaku intoleran, kerusuhan dan kebencian. Apakah kita bagian dari masalah atau bagian dari solusi?

Referensi :

  • White, Michael. 2011. Intolerance Breeds Intolerance-No Matter What Race or Religion You Are. Diakses pada tanggal 21 Februari 2017 pukul 19.00 dari https://www.theguardian.com/politics/blog/2011/jan/10/gabrielle-giffords-usa
  • 2016. Promoting Tolerance. Diakses pada 21 Februari 2017 pukul 20.00 dari http://www.unesco.org/new/en/social-and-human-sciences/themes/fight-against-discrimination/promoting-tolerance/
  • Holmes, Kathlene, Marcus Johnson dan Jennifer Keys Adair. 2015. How to Teach Diakses pada tanggal 21 Februari 2017 pukul 20.00 dari https://news.utexas.edu/2015/02/10/how-to-teach-tolerance

Penulis: Irsyad Hadi Prasetyo, Anggota Departemen Kajian, Ilmu Administrasi Fiskal, FIA, 2016.
Penyunting: Puji P. Rahayu, Pengurus Inti, Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, 2014.
Ilustrasi gambar: Rendi Chevi Daffa Ulhaq, Anggota Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan, Teknik Elektro, FT, 2016.