Konflik Kesukuan dalam Era Modern

Negeri kita semakin hari nampaknya tak surut diterpa berbagai masalah, permasalahan-permasalahan tersebut salah satunya adalah konflik antar kelompok masyarakat. Kita sebut saja konflik antara transportasi mode online dengan transportasi mode konvensional, konflik yang disebabkan oleh perkataan gubernur DKI Jakarta, hingga konflik PT. Semen Indonesia dengan petani Kendeng dan masih banyak lagi.

Konflik yang disebutkan diatas dampaknya sungguh kiranya kian hari kian meluas. Oleh karena itu, patutlah kita kaji permasalahan tersebut.

S__1884197

Rata-rata konflik di masyarakat tersebut terjadi melibatkan dua kelompok yang berbeda, masing-masing kelompok tersebut memiliki kedekatan yang cukup kuat antar anggota kelompoknya.

Seorang ahli antropologi bernama Kuper pernah mengatakan jika seorang  pria di sebuah desa membunuh seorang pria di desa lain, kedua desa tersebut akan menggerakkan masyarakatnya untuk melakukan pembalasan. Jika seorang pria di salah satu desa tersebut membunuh seorang pria dari distrik lain, kedua desa tadi akan bergabung dengan desa-desa lain dalam distrik mereka untuk melawan desa desa di distrik yang lain (1973:114)”.

Prinsip permusuhan yang tersegmentasi seperti ini mungkin bisa digambarkan dengan baik oleh pepatah Arab “Aku melawan saudara laki-lakiku: saudara laki-lakiku dan aku melawan saudara sepupuku, saudara laki lakiku dan aku melawan semua orang luar”. Dalam kondisi yang demikian, pada akhirnya setiap suku akan melawan musuh yang sama besar dan mungkin kekuatannya setara dengan suku yang lain.

Sesungguhnya konflik tidak terjadi antar dua kelompok saja, antar anggota di dalam kelompok pun dapat saling terlibat dalam konflik – kita dapat menyebutnya sebagai konflik internal. Namun karena kedekatan anggota dalam kelompok tersebut, maka tingkat kekerasan yang menimbulkan akibat fatal cukup kecil probabilitasnya. Kekerasan dan permusuhan yang berkepanjangan akan terus berkembang ketika konflik tersebut terjadi antar dua kelompok. Hal tersebut terjadi dikarenakan konflik melibatkan manusia yang tidak memiliki kedekatan yang erat baik kedekatan secara suku, ras, agama, maupun kedekatan lainnya.

Jika dilihat sekilas, pembaca mungkin heran mengapa konflik gubernur Jakarta dan konflik petani Kendeng oleh penulis dikelompokkan dalam kategori konflik suku. Cobalah perhatikan konflik yang dipicu oleh perkataan gubernur Jakarta, perkataan yang terlontar dari beliau dianggap melewati batas kewajaran oleh suatu kelompok. Hal tersebut pada akhirnya membuat beberapa orang dalam suatu kelompok tersulut amarahnya. Kemarahan beberapa orang tersebut mempengaruhi orang-orang terdekatnya, kemudian orang-orang terdekatnya mempengaruhi orang orang terdekatnya yang lain hingga berakhir pada kelompok yang sangat besar yang bergerak atas nama solidaritas satu agama. Hal tersebut kemudian turut memicu reaksi dari kelompok pendukung sang gubernur untuk turun membantu sehingga menyebabkan konflik semakin memanas dan belum berakhir sampai detik ini.

Sesungguhnya beberapa kasus yang terjadi dalam masyarakat dapat diselesaikan tanpa harus melibatkan kelompok sehingga tidak menjadi permalasahan besar yang merugikan banyak pihak. Namun sayangnya, masyarakat era modern masih selalu dididik dalam barisan kelompok, dan fanatisme kelompok yang berlebihan yang memunculkan kemarahan tanpa adanya acuan logis.

Sumber Rujukan:

Simon Coleman; Helen Watson. (1992). An Introduction to Anthropology. London: Tiger Book International.

Penulis: Muhammad Mahdi Ramadhan, Anggota Departemen Kajian, Fisika, FMIPA, 2015.
Penyunting: Naufal Maulana, Wakil Kepala Departemen Kajian, Akuntansi, FEB, 2015.
Ilustrasi gambar: Rendi Chevi Daffa Ulhaq, Anggota Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan, Teknik Elektro, FT, 2016.