Imagine There’s No Countries

Tulisan ini semata-mata merupakan bentuk notula dari diskusi publik “Distorsi” yang diadakan oleh Kajian Akhir Zaman, KSM Eka Prasetya UI pada Jumat, 12 Mei 2017. 

Imagine sebagai sebuah lagu yang diciptakan oleh artis sekaliber John Lennon dapat dimaknai sebagai curahan hati manusia dalam melihat berbagai macam bentuk ketidakadilan, kezaliman, serta usaha-usaha manusia yang bersifat merusak dan menghancurkan bumi sebagai tempat tinggal yang layak. Dengan menggali lebih dalam makna dari lagu tersebut, para pendengarnya disadarkan akan sebuah perumpamaan atau setting mengenai sebuah bentuk kehidupan yang bersumber atas dasar dimana nantinya kemanusiaan dilandaskan oleh perasaan cinta dan kasih sayang yang bersifat universal. Dengan demikian kita dapat meninggalkan segala bentuk kepercayaan-kepercayaan lama (berbentuk suku, agama, ras/etnis, serta ideologi politik maupun ekonomi) yang dianggap menghambat usaha-usaha manusia dalam menyatukan kemanusiaan dalam satu tujuan mencapai kemakmuran dan kebahagiaan bersama.

Dengan demikian kita dapat meninggalkan segala bentuk kepercayaan-kepercayaan lama yang dianggap menghambat usaha-usaha manusia dalam menyatukan kemanusiaan dalam satu tujuan mencapai kemakmuran dan kebahagiaan bersama.

Pada diskusi publik yang diberi nama ‘DISTORSI’ dari Kajian Akhir Zaman, Departemen Kajian KSM Eka Prasetya UI mengajak peserta untuk mendalami lebih lanjut hingga tuntas mengenai diskursus-diskursus yang berkembang serta disajikan oleh pemaknaan yang telah disampaikan oleh lagu tersebut melalui berbagai macam dimensi pengetahuan yang ada (sejarah, sosial-politik, budaya, dan ekonomi). Selanjutnya, diskusi ini menghadirkan tiga pembicara, yakni: Agus Setiawan, Ph.D. (Sejarawan serta Dosen Sejarah, FIB UI), lalu Dave Lumenta Ph.D. (PUSKA Antropologi UI), dan Dr. Fithra Faisal Hastiadi S.E., MSE., M.A. (Dosen FEB UI) yang menggantikan Yose Rizal Damuri (Kepala Departemen Ekonomi CSIS). Ketiganya mencoba untuk memaparkan serta menggali lebih lanjut kemungkinan penerapan konsep dari lagu ini melalui perspektif bidang keilmuan masing-masing.

189412

Serba-Serbi Alunan Nada dalam Imagine

A. Imagine dalam Sejarah

Pemaparan pertama mengenai makna dari lirik lagu tersebut disampaikan oleh Agus Setiawan, Ph.D. dengan mengupas sisi historis dari sang penyanyi. Awalnya, John Lennon sebelum berkarir solo, hidup dan mendapatkan ketenaran melalui The Beatles (band beraliran classical rock kampiun musik dunia tahun 60-an). Lennon bersama partnernya, Paul McCartney, merupakan dua tokoh yang dapat dibilang mendominasi pembuatan serta bersama-sama membentuk jati diri band tersebut melalui keunikan lagu-lagunya hingga sekarang.

musik adalah cara mengekspresikan kegelisahan diri, tidak boleh tunduk oleh otoritas atau selera yang diinginkan oleh industri maupun pendengar.

Lennon jika dibandingkan dengan McCartney memiliki sikap yang ‘berbeda’ dalam memandang musik sebagai sebuah bentuk seni, Lennon berpendapat bahwa musik adalah cara mengekspresikan kegelisahan diri, tidak boleh tunduk oleh otoritas atau selera yang diinginkan oleh industri maupun pendengar. Hal ini berbeda jika dibandingkan oleh McCartney yang menganggap musik adalah bentuk seni yang dinamis dan harus mampu beradaptasi dengan selera atau kebutuhan. Dengan kepribadian unik tersebut, Lennon ditengarai telah menciptakan beberapa kontroversi yang membuat sisi religiusitas dirinya dipertanyakan oleh publik di masa itu. Salah satu pernyataannya yang kontroversional adalah ketika tour di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 60-an, Lennon menyatakan bahwa ‘The Beatles lebih terkenal daripada Yesus Kritus’. Hal tersebut dianggap publik  pada masa itu sebagai pernyataan yang  sangat melecehkan Kristen sebagai agama mayoritas di sana, sehingga beberapa saat kemudian dia meminta maaf serta mengklarifikasi bahwa pendapatnya hanya sebagai ‘self-opinion’ terhadap remaja Amerika Serikat pada umumnya (terutama penggemar The Beatles).

Kontroversi tersebut banyak dianggap sebagai bentuk degradasi moral oleh banyak pemimpin negara bercorak agamis serta sosialis. Dalam perkembangannya, banyak negara yang melarang pemutaran lagu tersebut. Di Indonesia sendiri, Bung Karno menyatakan The Beatles sebagai bentuk seni yang bertentangan dengan nilai budaya bangsa Indonesia (beliau menyebutnya sebagai musik ngak-ngik-ngok). Pada dasarnya Bung Karno tetap mempertahankan pandangannya hingga akhir hayatnya.

Diakhir tahun 60-an Beatles melalui berbagai macam masalah internal yang pada akhirnya menjadi penyebab berakhirnya masa gemilang grup musik tersebut selama satu dasawarsa penuh, sehingga awal tahun 70-an nama The Beatles sudah hilang dari panggung musik dunia. Awal 1970 Lennon yang mulai bersolo karir, dia (bersama istrinya, Yoko Ono) berhasil menciptakan “Imagine”, dimana saat itu dunia sedang dilanda kekhawatiran akan munculnya konflik bersenjata yang lebih luas di belahan dunia lainnya. Setahun sebelumnya, Amerika Serikat telah melancarkan serangannya ke wilayah Vietnam Utara yang berpahaman serta disokong oleh negara-negara berideologi komunisme. Rangkaian aksi militer tersebut pada akhirnya berkembang menjadi Vietnam War, dan lagu tersebut segera menjadi ‘hits dan booming’ di kalangan pendengarnya, sehingga Lennon diganjar penghargaan tertinggi dalam bidang musik  di negeri Paman Sam (American Music Award).

Selain pujian, muncul berbagai macam kontroversi yang berasal dari penggalan lirik lagu tersebut. Secara tersirat lirik ‘there’s no religion too’ menggambarkan sikap Lennon yang menentang dan non-konformatif dalam melihat ajaran-ajaran agama. Kepercayaan dalam bentuk agama dianggapnya sebagai penghambat utama bagi terciptanya kehidupan yang bersatu padu yang digambarkannya dalam lirik ‘and the world will be as one’. Selain pandangannya mengenai agama, Lennon juga memiliki pandangan mengenai perlunya eksistensi (keberadaan) negara bagi manusia, dalam hal tersebut dia menjawab ‘imagine there’s no country’ yang menekankan posisinya sebagai seorang anarkis.

Negara dapat dimatikan jika tidak ada ideologi, karena masyarakat hanya memiliki rasa nasionalisme yang diartikan bahwa rasa tersebut hanya sebagai identitas dalam komunitasnya, bukan ideologi politik atau falsafah sebuah bangsa.

Pada akhirnya, Agus Setiawan menyimpulkan bahwa posisi Lennon sebagai seorang anarkis dapat diartikan ke dalam sebuah bentuk pengidealan, yaitu negara (disimbolkan oleh adanya pemerintahan a.k.a. government) dapat dimatikan jika tidak ada ideologi, karena masyarakat hanya memiliki rasa nasionalisme yang diartikan bahwa rasa tersebut hanya sebagai identitas dalam komunitasnya, bukan ideologi politik atau falsafah sebuah bangsa.

B. Imagine dalam Sosial, Politik, dan Budaya

Selanjutnya Dave Lumenta membuka pemaparannya dengan menegaskan bahwa Imagine dirilis (lebih-kurang) di saat masa-masa tumbuh kembangnya generasi muda. Saat itu generasi muda sedang mencoba-coba mencari bentuk kehidupan ideal-nya, disebabkan oleh timbulnya rasa ketidakpercayaan terhadap kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh negara (khususnya di negara-negara barat). Hal ini menyebabkan timbulnya sikap serta pandangan yang sifatnya militan (pada saat itu). Munculnya budaya kaum hippies, fenomena Woodstock di Amerika Serikat, serta revolusi bunga sepanjang dekade tahun 60-an hingga tahun 70-an merupakan beberapa contoh bentuk militansi tersebut. Menurut Dave, saat ini masyarakat lebih suka mengonotasikan bentuk militansi (mengkritisi, mempertanyakan, serta menolak) kebijakan negara sebagai hal yang buruk, bahkan sampai meletakkan nasibnya dibawah naungan negara. Dave menyatakan sampai kapan kita harus mempercayai negara (state) yang faktanya, dalam praktiknya selalu ada metode-metode yang salah dalam usaha mengatasi masalah warganya.

Dave juga melihat, dengan naiknya partai-partai yang membawa nama negara serta melabeli dirinya dengan identitas agama tertentu (seperti Partai Kristen di Amerika, yang mengklaim dirinya sebagai pembawa nilai-nilai kristiani) tidak akan menyelesaikan permasalahan. Dave menambahkan bahwa ilmu pengetahuan juga tidak dapat menyelesaikan berbagai masalah yang menjadi penghambat bagi terwujudnya perdamaian serta kebahagiaan warga dunia. Hal tersebut dapat dilihat (contoh berupa) dengan gagalnya sains dalam menyelesaikan permasalahan krisis energi dan pangan di wilayah yang pada mulanya merupakan daerah penghasil pangan yang subur serta produktif. Dengan kondisi tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa negara (state) tidak serius dalam menghadapi serta menyelesaikan masalah di bumi.

menurut Dave Lumenta, menjadi utopis (membayangkan suatu hal yang hampir mustahil bahkan mustahil, menjadi sebuah kenyataan) merupakan hal yang perlu untuk dilakukan.

Lebih lanjut, menurutnya menjadi utopis (membayangkan suatu hal yang hampir mustahil bahkan mustahil, menjadi sebuah kenyataan), merupakan hal yang perlu untuk dilakukan, sama seperti dimana tidak ada definisi orang Indonesia, yang ada adalah definisi bagaimana menjadi orang Indonesia.

Dave menjelaskan bahwa, menjadi orang Indonesia (secara ironis, menurutnya) adalah menyumbangkan perdamaian, berorientasi terhadap basis kosumsi pribadi, serta jauh/tidak acuh dalam memandang masalah kemanusiaan. Dan hal tersebut merupakan peninggalan dari pemerintahan orde baru.

C. Imagine dalam Ekonomi

Fithra Faisal Hastiadi (menggantikan Yose Rizal Damuri) mengawali pembicaraan dengan menekankan bahwa tema yang diangkat serta dibicarakan merupakan sebuah imajinasi bahwa kita semua ini merupakan komunitas terbayang. Menurut Fithra, sekarang ini apabila berbicara mengenai tren perdagangan dunia, maka arus tersebut sudah menuju pada global value change dan great convergen. Hal tersebut dipicu oleh beberapa faktor seperti: efisiensi rantai roduksi, industri maya (tidak diperlukan bentuk industri secara fisik), serta revolusi industri yang disokong oleh perkembangan teknologi. Khusus dalam perkembangan industri berbasis teknologi, Fithra menjelaskan adanya bentuk kekhawatiran dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tidak sesuai (incompatible) dengan minimnya kualitas pendidikan tenaga kerjanya akan menyebabkan pengangguran besar-besaran di tahun 2030.

Menurutnya penguasaan teknologi sangat diperlukan untuk menghindari krisi semacam ini. Lebih lanjut dia menceritakan salah satu penelitiannya mengenai pengemudi ojek online dengan tingkat pendidikan yang rendah mampu menjalankan teknologi berbasis aplikasi dalam smart-phone yang mereka miliki. Jenis kemampuan tersebut dianggap dapat meningkatkan peluang keberhasilan seseorang dalam survive di bursa tenaga kerja pada masa yang akan datang.

Dalam hal yang berbeda, Fithra menyatakan bahwa ketika kita membicarakan tentang ‘imagine di bidang ekonomi’, maka yang terjadi adalah investasi ekonomi serta mobilitas tenaga kerja yang tanpa sekat. Beliau memaparkan ada salah satu contoh yang menarik, yaitu: Malaysia yang ingin membuat kebijakan impor substitusi, begitupun juga dengan Thailand. Pada dasarnya koneksi ekonomi akan menguntungkan negara. Slogan ‘negara yang berdaulat dengan dirinya sendiri’ sudah relevan dengan globalisasi yang berjalan saat ini, sehingga dengan adanya kegiatan ekspor-impor, konektivitas antar negara akan menghasilkan perdagangan yang bersifat saling menguntungkan (comparative advantage trade). Di akhir penjelasannya, beliau menutup dengan menyatakan sebuah frase akan perlunya “import in indirect, country without border” yang akan memudahkan negara dalam memenuhi kebutuhan warganya.

import in indirect, country without border” menjadi penting karena dapat memudahkan negara dalam memenuhi kebutuhan warganya.

E. Pandangan mengenai Peran Negara (State)

Melalui pertanyaan “Apakah mungkin tanpa adanya negara (state)?”, Dave menjawab hal tersebut mungkin saja terjadi. Sebagaimana Somalia dengan komunikasi dan mekanisme pasar yang tetap berjalan tanpa adanya state. Sehingga terdapat implikasi mengenai apakah untuk menjalankan sebuah pasar dibutuhkan adanya negara atau tidak, dan ternyata tanpa adanya negara, mekanisme pasar tersebut tetap dapat berjalan.

Adanya modernisasi teknologi justru membuat pemutusan hubungan antara manusia dengan sistem sosial/relasi sosial yang ada di dalamnya. Banyak bagian dari dunia yang terlihat kabur dari konsep state. Ada era saat mereka tidak mau dikuasai oleh suatu hal, dalam hal ini negara, agama, ideologi, dan lainnya. Hal tersebut juga pernah di lakukan di Paris pada abad 20-an. Dan pada intinya adalah untuk membentuk sebuah solidaritas tidak diperlukan adanya embel-embel identitas negara.

untuk membentuk sebuah solidaritas tidak diperlukan adanya embel-embel identitas negara.

Pertanyaan selanjutnya mengenai apakah ekonomi mempengaruhi pengambilan kebijakan dalam skala dunia, Agus menerangkan bahwa beberapa revolusi di dunia terjadi pada bidang ekonomi, seperti kerugian pajak Raja Inggris Ketiga yang dilatarbelakangi oleh adanya sistem ekonomi berkembang yang menyebabkan adanya persaingan pasar dan sumber daya pada perang dunia, dan menyebabkan persaingan produk antara Inggris dan Perancis.

Ketika sebuah bangsa telah mengidentifikasikan diri sebagai sebuah entitas politik, maka negara tersebut akan membuat kebijakan untuk masa depan negaranya.

Melalui pertanyaan “Apakah ekonomi yang mempengaruhi politik ataukah sebaliknya politiklah yang mempengaruhi ekonomi?”, Fithra menyatakan bahwa ekonomi mempengaruhi politik, namun dapat juga saling mempengaruhi secara dua arah. Bila melihat kasus di Indonesia, maka menunjukkan kecenderungan ekonomilah yang mempengaruhi politik.

Selanjutnya, “Untuk apa kita memberikan bantuan kepada negara-negara lain yang kekurangan, sedangkan ironis sekali melihat kondisi Indonesia yang masih kekurangan?”. Indonesia dari yang mulanya hanya sebagai penerima, kini mulai menjadi penyumbang. Segala bentuk pemberian yang diberikan oleh suatu negara, mempertimbangkan dampak positif dan negatif bagi negara penyumbang. Terdapat keuntungan yang jelas bagi negara penyumbang, dalam hal ini adalah Indonesia. The decision making is based on the analysis of cost and benefit, how the decision will give the benefit for Indonesia in the future.

The decision making is based on the analysis of cost and benefit, how the decision will give the benefit for Indonesia in the future.

Kemudian, “Apakah adanya konvergensi dalam dunia ekonomi menandakan adanya pengisapan nilai?”. Pada era sekarang ini, negara maju tidak dapat lagi berbuat semena-mena seperti dahulu, sehingga adanya konvergensi tidak menandakan adanya pengisapan nilai. Adanya konvergensi menyebabkan sistem menjadi partnership with same level for all the country, it should make us be more confidence in international forum negotiation, so our bargaining power should be greater, and the government should prepare more for that.

“Empowering the basis of international trading is important to achieve better position for Indonesia’s future international trading.”

Lalu Bagaimana terbentuknya Terminology of Nationalism yang berbeda-beda di setiap negara? Dalam konteks nasionalisme Indonesia yang tidak terkait dengan primordialisme padahal di negara lain, seperti di Amerika dan negara lainnya di Eropa yang menganggap nasionalisme berhubungan erat dengan primordialisme, menunjukkan adanya proses historis yang panjang dalam pembentukan masing-masing negara yang tentunya berbeda-beda pula. Adanya perbedaan ini menyebabkan Terminology of Nationalism yang berbeda-beda bagi masing-masing negara. Terminology of Nationalism tersebut sesuai dengan tujuan utama pembentukan negara, dimana ketika adanya peran negara dipertanyakan.

Dan “apakah nasionalisme serta patriotisme masih bersifat rasional dalam era kehidupan sekarang ini?” Mempertahankan negara memang harus dilakukan oleh penduduknya, maka dalam hal bela negara, nasionalisme dan patriotisme jelas diperlukan. Hal tersebut dikembalikan pada hak dan kewajiban kita sebagai warga negara, dan negara sendiri terikat dengan pemenuhan hak serta kewajiban kepada warga negaranya. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan timbal-balik antara negara dengan warga negaranya. Sebagai warga negara, ketika eksistensi individual atau kelompok terancam, baik karena kondisi ekonomi, sosial atau sebagainya, maka akan muncul perlawanan untuk mempertahankan eksistensi tersebut.

Ide lari dari batasan negara pada dasarnya telah ada sejak zaman dahulu kala dimana seseorang mengaburkan identitas negara tersebut. Alternatif yang dapat dilakukan terkait ide Imagine there’s no country dalam penggalan lagu “Imagine”- John Lennon adalah mengatur ulang peradaban dari awal ketika tidak ada batasan negara itu sendiri, serta mendekonstruksi negara atau mensintesis negara baru menjadi negara yang sesuai seperti yang diinginkan atau seperti yang diimajinasikan, yakni menjadi negara yang memenuhi seluruh ekspektasi manusia.

Notulen: Esa Bayu Rianto, Anggo Departemen Kajian, Ilmu Politik, FISIP 2016.
Penyunting: Muniha Addin M.Anggota Departemen Kajian, Sastra Belanda, FIB, 2016.
Ilustrasi gambar: Yuhana Kinanah, Anggota Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan, Farmasi, FF, 2016.