GERWANI Sebagai Sejarah Pergerakan Perempuan Indonesia: Resmi atau Tidak?

Tanggal 8 Maret hari ini, berbagai statement mengenai hak-hak perempuan menggelora di berbagai sosial media dalam rangka memperingati International Women’s Day. Tapi, sudahkah kita mengetahui sejarah dari pergerakan wanita di Indonesia? Jangan-jangan kita hanya berlagak membela wanita dan mengaku sebagai seorang feminist tanpa mengetahui sejarah dari pergerakan wanita di Indonesia. Di sini penulis ingin mengulas secara singkat mengenai sejarah dari pergerakan wanita di Indonesia.

Anggota GERWANI tidak hanya mengalami kekerasan melainkan juga mendapatkan fitnah berupa tuduhan melakukan pesta pora seksual

Kembali pada masa orde baru, mereka yang disiksa dan dikalahkan adalah bagian dari PKI (Partai Komunis Indonesia) atau salah satu dari anggota keluarga PKI, salah satunya adalah GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia). Anggota GERWANI tidak hanya mengalami kekerasan melainkan juga mendapatkan fitnah berupa tuduhan melakukan pesta pora seksual. Konotasi rendah mengenai GERWANI telah dikampanyekan dan meracuni pola pikir masyarakat. Organisasi feminis, seperti Kalyanamitra dan Solidaritas Perempuan yang muncul pada tahun 1980-an dianggap membangun GERWANI baru dan mendapat kecaman dari masyarakat maupun aparat. Setelah jatuhnya masa Soeharto, GERWANI mulai bisa mematahkan fitnah yang telah beredar pada masa orde baru. Pada bulan Desember 1998, sejarah GERWANI mulai didiskusikan dalam konferensi Perempuan Indonesia di Yogyakarta. Para anggota Federasi organisasi perempuan Kowani dan anggota organisasi perempuan lain yang hadir saat itupun terkejut mengetahui fakta yang terjadi sebenarnya.

INTERNATIONAL WOMEN DAY

Sebelum memiliki nama GERWANI, organisasi ini bernama GERWIS (Gerakan Wanita Sedar) yang didirikan pada tahun 1950. GERWIS  bukan merupakan organisasi perempuan pertama, melainkan Poetri Mardika yang didirikan pada tahun 1912. Poetri Mardika membangkitkan semangat terbentuknya organisasi-organisasi perempuan lainnya. Mereka mengangkat seputar masalah-masalah perempuan pada zaman itu, seperti masalah pendidikan dan peningkatan gaji buruh perempuan. Semangat para perempuan tersebut membawa mereka pada kongres perempuan Indonesia nasional pertama yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 1928. Organisasi-organisasi perempuan tersebut terus berkembang pesat hingga masa pendudukan Jepang pada tahun 1942 yang melarang semua bentuk organisasi perempuan yang ada di Indonesia. Hanya ada satu organisasi yang diperbolehkan pada masa itu, yaitu Fujinkai. Fujinkai bergerak di bidang pemberantasan buta huruf dan berbagai pekerjaaan sosial. Organisasi tersebut didominasi oleh para istri pegawai negeri. Selain itu, Fujinkai juga dimanfaatkan Jepang agar para perempuan mau bekerja secara suka rela untuk membantu Jepang selama masa perang dunia ke-2. Berawal dari hal tersebut akhirnya sekelompok perempuan membentuk organisasi bawah tanah yang bernama GWS (Gerakan Wanita Sosialis).

Setelah masa kependudukan Jepang, hak-hak hukum dan politik kaum wanita mulai mendapat perhatian kembali. Kongres-kongres perempuan mulai digencarkan. Namun setelah tahun 1950, semua gerakan-gerakan perempuan tersebut berangsur-angsur hancur. Kemudian sejak berkembangnya pengaruh PKI dan PNI yang berhaluan kiri dua organisasi penting mendapatkan kedudukan penting, yakni GERWANI dan Wanita Marhaen. GERWANI mengambil peran aktif dalam kampanye-kampanye pemilihan umum parlementer. GERWANI juga memfokuskan diri pada pendidikan peningkatan kesadaran kaum perempuan pada masa itu. Jadi sebenarnya organisasi-organisasi pergerakan wanita di Indonesia sudah menggelora sejak lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Persoalan GERWANI merupakan organisasi resmi atau tidak sebenarnya bukan menjadi masalah

Persoalan GERWANI merupakan organisasi resmi atau tidak sebenarnya bukan menjadi masalah, jelasnya perjuangan mengenai hak-hak perempuan telah diperjuangkan sejak lama, kita sebagai bangsa penerus hendaklah meneruskan perjuangan tersebut. Segala pernyataan di berbagai sosial media akan menjadi sia-sia apabila tidak didampingi dengan aksi nyata. Salam perempuan!

Sumber Rujukan

Wafa, Kanzul. 2016. Gerakan Perempuan Indonesia dari Masa ke Masa. http://www.qureta.com/post/gerakan-perempuan-indonesia-dari-masa-ke-masa, diakses pada tanggal 8 maret 2017/

Wieringa, S.E. 2010. Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI https://books.google.co.id/books?id=v6pQAYkVVFgC&printsec=frontcover&dq=pergerakan+perempuan+di+Indonesia&hl=en&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=pergerakan%20perempuan%20di%20Indonesia&f=false, diakses pada tanggal 8 Maret 2017.

Penulis: Muniha Addin M., Anggota Departemen Kajian, Sastra Belanda, FIB, 2016.
Penyunting: Puji P. Rahayu, Pengurus Inti, Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, 2014.
Ilustrasi gambar: Startian Bonata, Kepala Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan, Geografi, FMIPA, 2014.