Catcalling Bukan Pujian, Bosqu!

 (Sebuah Tinjauan Feminisme Eksistensialis Terhadap Pengalaman Perempuan Sebagai Korban Catcalling dalam Rangka Memperingati Hari Kartini 2017)

E-Card Kartini

“Gue sebel deh, Rin, kalo misalnya lewat di jalanan tempat biasa gue lewatin kalo ke kampus. Soalnya di sudut jalan suka banyak cowok nongkrong trus gue belum lewat di depan mereka aja udah disiul-siulin dari jauh. Padahal waktu itu gue lagi pake pakaian yang panjang dan tertutup kok. Apalagi pas gue lagi pake celana dan baju lengan pendek.”

Kalimat di atas tadi adalah sepenggal cerita dari salah satu teman yang sempat mengeluh kepada saya mengenai pengalamannya yang kurang menyenangkan dan cukup sering dialaminya di dekat tempat ia tinggal. Tidak hanya dia, saya pun pernah mengalami hal-hal seperti itu. Pernah dinyinyirin ketika lewat di depan beberapa lelaki pekerja bangunan di dekat tempat tinggal saya dan sering mendapat tatapan yang membuat saya merasa kurang nyaman ketika sedang berjalan kaki pulang ke kost.

Tidak hanya saya dan teman saya, pastinya masih banyak sekali perempuan di luar sana yang mengalami hal serupa. Dalam rangka memperingati Hari Kartini, mari kita menilik sedikit mengenai fenomena catcalling terhadap perempuan yang (sepertinya) sudah cukup mendarah daging di dalam masyarakat kita saat ini.

Fenomena catcalling atau verbal street harassment merupakan sesuatu yang hampir selalu dialami atau disaksikan oleh setiap orang di dalam kehidupannya dengan perempuan sebagai korban sementara laki-laki cenderung untuk tidak diobjektifikasi secara seksual oleh orang-orang asing [1]. Meski demikian, bukan berarti saya ingin mengatakan bahwa laki-laki terbebas dari ancaman sexual harassment. Baik laki-laki maupun perempuan sama berpotensinya menjadi korban sexual harassment namun di dalam tulisan kali ini saya ingin membahas kecenderungan perempuan untuk menjadi korban catcalling.

Dua dari ilmuwan pertama yang mempelajari mengenai fenomena street harassment, Benard dan Schlaffer (1981) menemukan bahwa para perempuan ketika berada di jalanan di Wina mengalami pelecehan dan tidak memperhatikan umur, berat badan, pakaian yang dikenakan, atau ras oleh laki-laki yang berasal dari latar belakang berbagai ras dan level sosio-ekonomi [2].

Seorang peneliti bernama Gardner (1995) pun menemukan bahwa pengalaman perempuan yang mendapatkan pelecehan di jalan dan mendapat lontaran-lontaran komentar yang bersifat seksis oleh laki-laki asing di jalan membuat mereka merasa lebih rentan dan merasa bahwa tubuhnya bagaikan objek parade untuk dinikmati atau terdegradasi oleh laki-laki asing. [3]

Salah satu bentuk dari street harasshment yang sudah sangat sering dialami oleh perempuan adalah harasshment dalam berbentuk verbal seperti catcalling. Bentuk riil dari perbuatan catcalling adalah berupa melakukan hal-hal bertendensi seksual, entah bersifat implisit maupun eksplisit, diantaranya yang sering terjadi adalah bersiul, berseru, memberi gestur atau komentar yang biasanya cenderung ditunjukkan kepada perempuan walaupun tidak menutup kemungkinan kalau laki-laki juga dapat saja menjadi korban. Tetapi, yang banyak terlihat di dalam masyarakat kita adalah siulan dan komentar-komentar bernada seksis yang ditunjukkan kepada perempuan di ruang publik. Entah itu halte bis, stasiun kereta api, pinggir jalan raya, maupun di kompleks perumahan. Biasanya ucapan-ucapan tersebut seperti, “Neng cantik mau kemana?”, “Mau ditemenin ga neng?”, “Hai, cantik”, “Duh, judes banget sih mukanya neng”, atau bahkan dalam bentuk ucapan yang lebih ekstrem lagi seperti, “Duh, (maaf), dadanya boleh lah tuh,”, “Seksi banget sih”, “Pakai baju seksi kayak gitu mau kemana sih, Neng? Sini abang temenin” dan ucapan-ucapan bernada seksual serta melecehkan lainnya. Dan bila perempuan yang menjadi target catcalling sedang menggunakan hijab serta berpakaian tertutup, ucapan-ucapan bernada serupa juga tetap dilontarkan seperti “Assalamualaikum, Bu Haji, mau kemana?”, “Neng, mau pergi pengajian ya?” dan ucapan-ucapan tersebut biasanya diikuti oleh tatapan yang bersifat melecehkan dan membuat perempuan menjadi merasa tidak aman dan merasa kehilangan harga dirinya sebagai manusia yang sedang menunjukkan kebebasan berekspresinya. Saya sendiri pun sejak SMP cukup sering mengalami street harassment seperti demikian sehingga terkadang saya merasa tidak nyaman untuk berjalan melewati sekumpulan laki-laki di jalanan meski pada akhirnya saya berusaha untuk tidak mempedulikan mereka.

Walaupun hal-hal seperti ini sudah sangat sering terjadi, bukan berarti kita dapat memaklumi tindakan tersebut. Bukan pula merupakan sesuatu yang patut dibanggakan karena catcalling sama sekali bukan merupakan sebuah pujian. Apalagi merupakan sesuatu yang dapat didiamkan begitu saja. Masih suburnya fenomena catcalling pertanda bahwa masih kuatnya objektifikasi terhadap perempuan. Bila melihat fenomena ini melalui sudut pandang feminisme eksistensialis, analisis dari Meredith Tax, seorang aktivis gerakan pembebasan perempuan di Amerika Serikat memberi penjelasan bahwa perempuan dipaksa untuk membiasakan diri dengan siulan atau komentar seksual dari laki-laki ketika perempuan berjalan di jalanan umum [4]. Memperkuat dari analisis Tax, Sandra Bartky mengamati bahwa fenomena siulan dan komentar seksual laki-laki seperti catcalling menunjukkan betapa meratanya objektifikasi perempuan pada masyarakat kita. Ke mana pun perempuan pergi, tampaknya tidak akan dapat melepaskan diri dari pandangan laki-laki [5]. Tidak peduli saat itu perempuan tersebut sedang menggunakan pakaian yang seperti apa karena pelaku catcalling akan tetap melakukan perbuatan tersebut karena ingin menunjukkan kepada siapapun di lingkungan sekitarnya dan yang mendengar ucapannya bahwa mereka lebih berkuasa, jantan, dan ruang publik tersebut merupakan milik mereka [6]. Pada akhirnya, hal seperti ini bermuara kembali pada ketimpangan gender yang diakibatkan oleh kuatnya konstruksi patriarki di dalam masyarakat. Perempuan diperlakukan sebagai objek dan diperlakukan sebagai manusia subordinat di bawah laki-laki. Padahal menurut seorang feminis eksistensialis, Simone de Beauvoir, perempuan juga sama seperti laki-laki, yaitu bersifat subjek daripada objek. Perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki untuk mewujudkan kebebasan berekspresi dalam kehidupan kesehariannya. Termasuk dalam hal berpakaian. Sangat kurang tepat bila mengaitkan peristiwa catcalling dengan menyalahkan pakaian yang dikenakan perempuan karena mau berpakaian seperti apapun, perempuan tetap akan rentan menjadi korban catcalling dari lingkungan di sekitarnya. Apapun motivasi pelaku terhadap korban, perbuatan catcalling tetap harus diminimalisasi dan direduksi intensitasnya agar perempuan dapat memiliki rasa aman dalam menunjukkan kebebasan berekspresi dan juga tidak menjadi rentan terhadap street harasshment lainnya selain catcalling.

Dalam rangka memperingati Hari Kartini ini, saya ingin mengatakan kepada semua orang yang sedang membaca tulisan ini, tidak peduli apakah kalian laki-laki atau perempuan, marilah kita memaknai Hari Kartini sebagai pembebasan kepada perempuan untuk berekspresi karena terkadang yang membatasi perempuan untuk berekspresi justru sesama perempuan itu sendiri dengan menunjukkan sikap sinis terhadap perempuan yang ingin bereskpresi melalui pakaiannya sehingga hal ini dapat menjadi suatu pembenaran sendiri bagi laki-laki yang melakukan catcalling kepada perempuan. Seharusnya, perempuan dengan berlatar belakang apapun memiliki hak untuk menunjukkan kebebasan berekspresinya yang salah satunya melalui pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Selain itu, seharusnya juga cara perempuan berpakaian tidak dijadikan sebagai suatu alasan dan pembenaran bagi siapapun untuk melakukan catcalling terhadap mereka. Ironis sekali, di saat R. A. Kartini pada masanya berjuang atas emansipasi dan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, di masa kini kita masih saja menemukan adanya ketimpangan hak antara laki-laki dan perempuan termasuk dari hal-hal yang sederhana seperti berpakaian.

Terakhir, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Kartini bagi seluruh perempuan di Indonesia! Semoga perempuan Indonesia semakin terbebas dari objektifikasi. Semoga setiap perempuan di Indonesia dapat memperjuangkan hak-haknya dengan caranya masing-masing.

Catatan Kaki

[1] Creswell, Ceridwyn. Reaction to Objectification: Interviews on Emotions Regarding Catcalling. [Online] diakses melalui https://sites.evergreen.edu/socialanimal/wp-content/uploads/sites/172/2016/03/TheSocialAnimalCatcalling.pdf

[2] Sullivan, H. B. (2011). ” Hey Lady, You’re Hot!” Emotional and Cognitive Effects of Gender-Based Street Harassment on Women.

[3] Ibid.

[4] Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Though: A More Comprehensive Introduction, Second Edition (Westview Press: Colorado, 1998)

[5] Ibid.

[6] The Daily Dot. 2016. Why Do Men Continue to Defend Catcalling. [Online] diakses melalui https://www.dailydot.com/irl/men-defend-catcalling/

***

Penulis: Arini Ayatika Aprilya Fidthy, Kepala Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kriminologi, FISIP, 2014.
Ilustrasi gambar: Startian Bonata; Kepala Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan; Geografi;  FMIPA; 2014.