Being Efficient is a Sin (?)

Semakin hari robot semakin menggantikan manusia dalam berbagai bidang kerja lantaran robot lebih efektif, efisien, dan mengurangi pajak tenaga kerja yang ditanggung perusahaan. Di Amerika Serikat sendiri tercatat setidaknya ada 80 juta pekerjaan yang berisiko digantikan oleh robot. Pekerjaan yang berpotensi dialihkan ke otomatisasi umumnya adalah pekerja yang diupah rendah. Selain itu, berdasarkan sebuah laporan yang dilansir Neowin, Minggu (19/2/2017), lebih dari setengah pekerjaan rentan digantikan oleh robot hanya dalam beberapa decade. Jumlah tersebut mewakili lebih dari USD 15 Triliun upah di seluruh dunia yang tidak akan dikenakan pajak.

Fenomena tersebut memicu Bill Gates untuk mengajukan usulan berupa pengenaan pajak bagi robot selayaknya pajak penghasilan bagi pekerja manusia. Bill Gates bukan satu-satunya orang yang menyarankan kewajiban pajak bagi robot. Di Eropa, telah dibuat rancangan undang-undang yang akan mengharuskan robot terdaftar dalam pemerintahan sehingga nantinya akan dimintai kompensasi atas kerugian pada pekerja manusia yang disebabkan oleh robot, termasuk kehilangan pekerjaan. Rancangan undang-undang ini juga merekomendasikan Komisi Eropa mengharuskan pemilik robot membayar pajak atau berkontribusi untuk jaminan sosial.

CotW-robot-800x533

“Pemerintah dapat menyalurkan uang pajak robot tersebut untuk membiayai pelatihan-pelatihan tenaga kerja manusia dan posisi pekerjaan yang membutuhkan empati plus pengertian seperti pengasuh anak dan orang-orang jompo. Sistem perpajakan bagi robot tidak akan mengganggu laju inovasi bahkan bakal membantu perkembangan inovasi teknologi”, terang Bill Gates. Menurut Bill Gates lebih lanjut, cara pengenaan pajak bagi robot selayaknya manusia yang berpenghasilan adalah dengan melihat dari dana penghematan dan efisiensi yang didapat pabrik atas penggunaan robot tersebut, sedangkan beberapa lainnya didapat dari tipe robot yang memang dikenai pajak.

Usulan ini tentu menjadi hal menarik untuk dikaji secara lebih lanjut mengingat bahwa proses otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi proses produksi sebuah perusahaan beberapa tahun terakhir memang menjadi bahan perdebatan dan kontroversi. Bill Gates mengajukan usul tersebut dengan tujuan untuk mengkompensasi social cost akibat tersingkirnya sejumlah pekerja manusia serta berkurangnya pemasukan negara yang berasal dari pajak penghasilan akibat perkembangan teknologi robot di bidang industri. Perlu diketahui bahwa robot dalam hal ini tidak sebatas hanya robot dalam bentuk fisik, melainkan juga berupa Artificial intelligence dan beberapa jenis software tertentu. Dalam tulisan kali ini, penulis akan membahas mengenai apakah usulan tersebut merupakan solusi yang tepat atas permasalahan yang dikhawatirkan Bill Gates.

Sejak kapan perdebatan ini muncul?

Perdebatan mengenai kekhawatiran akan tergantinya pekerja manusia sebenarnya sudah muncul sejak dahulu, mulai dari zaman dimana tenaga kuda mulai digunakan untuk menggantikan tenaga manusia dalam mengangkut barang, lalu berlanjut ke zaman dimana benda bernama roda ditemukan yang kemudian menggantikan kuda dalam bidang transportasi, lalu berlanjut lagi ke zaman dimana mesin uap menjadi salah satu penemuan terbesar dalam sejarah peradaban manusia yang pada awalnya banyak ditentang oleh sebagian pihak yang menganggap bahwa mesin uap akan menyebabkan pengangguran massal para pekerja manusia dan merusak lingkungan.

Kekhawatiran tersebut tentu tidak berhenti begitu saja, kekhawatiran itu terus berlanjut hingga ditemukannya teknologi komputer, mesin diesel, artificial intelligence dan sebagainya di masa sekarang. Satu pola menarik yang bisa kita lihat bahwa kekhawatiran tergantinya pekerja manusia selalu dipicu oleh berkembangnya suatu teknologi atau inovasi tertentu yang mampu membuat kegiatan produksi atau aktivitas manusia menjadi lebih efisien. Kekhawatiran akan perkembangan teknologi kini juga mulai dirasakan oleh sebagian masyarakat Indonesia yang bisa kita lihat pada fenomena penolakan Ojek Online yang baru-baru saja marak dibicarakan di negeri ini. Kita bisa melihat bahwa ada semacam adanya “Society Shock” yang dirasakan oleh para pelaku ojek konvensional yang merasa tersaingi dengan kemunculan ojek online tersebut.

Dalam kasus ojek online di Indonesia tersebut terlihat bahwa para ojek konvensional tidak setuju jika tarif ojek online lebih murah, padahal perlu diketahui bahwa ojek online mampu memberikan tarif yang lebih murah dikarenakan adanya efisiensi dalam penyediaan jasa layanan ojek. Hal ini membuat para pihak ojek konvensional merasa tidak mampu bersaing di tingkat tarif serendah itu sehingga menuntut agar tarif ojek online dinaikkan demi menjaga eksistensi ojek konvensional. Dalam usulan Bill Gates tersebut juga sebenarnya ditujukan untuk mengkompensasi social cost berupa tersingkirnya beberapa pekerja manusia sebagai dampak dari proses otomatisasi tersebut. Padahal tujuan perusahaan melakukan otomatisasi adalah untuk meningkatkan efisiensi produksi sehingga nantinya mampu menyediakan barang yang lebih murah dan berkualitas bagi konsumen secara keseluruhan.

Hal menarik yang patut dipertanyakan selanjutnya adalah, Apakah menjadi efisien merupakan suatu dosa dan kerugian besar bagi masyarakat? Tepatkah jika pihak yang mampu mengadopsi perkembangan teknologi tersebut justru harus mengkompensasi kerugian yang dirasakan oleh pihak lain? Atau mungkin ada solusi lain untuk mengimbangi dampak social cost yang muncul beriringan dengan perkembangan suatu teknologi? Ini yang bakal kita coba bahas dalam tulisan kali ini.

Apa pertimbangan industri untuk beralih ke tenaga mesin/robot (otomatisasi) atau bertahan menggunakan pekerja manusia secara dominan?

Analisis mikroekonomi sederhana mengatakan bahwa setiap entitas dalam memutuskan apakah menyewa lebih banyak pekerja atau kapital (mesin, robot) harus mempertimbangkan kurva penawaran dan permintaan dari kedua faktor produksi tersebut dan harga relatif diantara keduanya, apabila supply tenaga kerja di sektor tersebut melimpah maka tentu harga relatif pekerja terhadap kapital (mesin, robot) menjadi lebih rendah sehingga akan lebih efisien menggunakan banyak pekerja. Begitupun jika sebaliknya dimana penawaran (persediaan) pekerja di sektor tersebut sedikit sehingga akan lebih efisien beralih ke kapital (mesin, robot) karena harga relatif pekerja yang lebih mahal dari harga kapital (robot, mesin) di sektor tersebut.

Sumber biaya untuk memperoleh masing-masing faktor produksi tentu berbeda. Pada umumnya biaya untuk memperoleh tenaga kerja manusia lebih fluktuatif dibanding biaya untuk memperoleh mesin/robot. Hal ini dikarenakan pada dasarnya tenaga kerja manusia tidak memiliki biaya pengalihan hak, tenaga kerja manusia memiliki status disewa bukan dimiliki, sehingga tenaga kerja tidak memiliki nilai jual, hanya nilai sewa, sehingga tidak ada depresiasi. Selain itu biaya tenaga kerja manusia didasarkan pada kontrak antara pekerja dengan perusahaan, berbeda dengan mesin/robot yang biayanya “One Price Tag”. Biaya pada tenaga kerja manusia juga termasuk biaya gaji, tunjangan, asuransi, serikat pekerja hingga peraturan upah minimum ikut menjadi komponen dari biaya tenaga kerja manusia. Hal ini tentu berbeda jauh dengan robot/mesin yang tidak perlu tunjangan ataupun serikat pekerja. Selain itu, tidak seperti halnya mesin/robot yang setiap tahunnya mengalami depresiasi, pekerja manusia justru setiap tahunnya mengalami peningkatan upah (biaya bagi perusahaan) akibat meningkatnya pengalaman kerja atau kenaikan jabatan.

Analisis lebih lanjut bisa menggunakan kurva isocost dan kurva isoquant. Kurva isocost yaitu kurva yang menggambarkan biaya yang dikeluarkan oleh produsen dalam rangka berproduksi dengan menggunakan beberapa faktor input tertentu. Sementara ini kurva isoquant menggambarkan kombinasi dua macam input faktor produksi untuk menghasilkan output yang sama jumlahnya. Dan persinggungan kedua kurva ini menunjukkan kombinasi input faktor produksi yang sebaiknya digunakan perusahaan jika ingin berproduksi secara efisien, namun perlu diingat bahwa dalam konteks riil sulit terjadi dimana perusahaan menggunakaan hanya satu faktor produksi saja. Hal ini menunjukkan bahwa labor, teknologi, ataupun kapital bukan merupakan substitusi sempurna, melainkan sebagai komplementer. Analisis ini mendukung opini bahwa robot/mesin tidak bisa sepenuhnya menggantikan tenaga kerja manusia, masih ada pekerjaan-pekerjaan yang sebaiknnya dilakukan manusia seperti pekerjaan yang membutuhkan empati, feeling, inovasi, design, kreatifitas, dan sebagainya.

Analisis selanjutnya mengatakan bahwa tingkat upah atau sewa dari suatu faktor produksi ditentukan dengan tingkat marginal produktifitas faktor produksi dikali dengan harga barang/jasa terkait di pasar. Dan tingkat marginal produktifitas ini ditentukan oleh jumlah faktor produksi yang tersedia, kemudian disinilah berlaku law of diminishing return dimana penambahan faktor produksi pada titik tertentu akan mengurangi jumlah marginal output yang dihasilkan, bahkan pada titik lebih lanjut bisa berdampak pada nilai marginal product yang negatif. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah faktor produksi yang jarang ditawarkan memiliki produksi marginal dan harga yang lebih tinggi. Akibatnya ketika penawaran faktor-faktor produksi turun, keseimbangan harga faktor produksi akan meningkat. Akan tetapi, ketika penawaran setiap faktor produksi berubah, maka dampaknya tidak hanya dibatasi pada pasar faktor produksi tersebut. Karena pada dasarnya, faktor-faktor produksi digunakan secara bersamaan dalam cara tertentu sehingga membuat produktivitas masing-masing faktor produksi bergantung pada jumlah faktor produksi lainnya yang tersedia untuk digunakan.

Dari ketiga analisa diatas maka setidaknya sektor kegiatan produksi dibagi menjadi dua yaitu industri yang padat modal dan industri yang padat karya. Industri padat modal merupakan industri yang dalam proses produksinya cenderung menekankan dan tergantung pada penggunaan mesin-mesin dibandingkan dengan penggunaaan tenaga kerja manusia. Industri ini biasanya dijalankan oleh perusahaan besar yang telah mampu mengadopsi teknologi tinggi. Sementara industri padat karya yaitu industri yang lebih efisien jika menggunakan banyak tenaga kerja manusia dibanding mesin atau robot karena mungkin persediaan tenaga kerja manusia yang melimpah sehingga harga pekerja manusia relatif lebih rendah dibanding mesin atau robot.

Contoh negara dengan industri yang dominan bersifat padat karya yaitu Indonesia dimana otomatisasi itu masih jarang terjadi karena harga mesin/robot masih relatif mahal. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang melimpah, rasio kapital terhadap pekerja lebih tinggi pekerja sehingga harga kapital lebih mahal serta lebih efisien menggunakan pekerja. Contoh sederhananya yaitu pada pekerjaan di sawah, dimana lebih murah jika menyewa beberapa orang petani lalu dibekali dengan cangkul masing-masing dibanding harus membeli suatu mesin.

Lalu lantas apakah perkembangan teknologi perlu dikhawatirkan? Apakah manusia sepenuhnya akan tergantikan oleh robot/mesin?

Asumsi mendasar yang perlu diingat adalah robot bukan merupakan substitusi sepenuhnya dari pekerja manusia, tetapi di titik tertentu robot dan manusia bisa bersifat saling komplementer (melengkapi) karena ada pekerjaan baru yang muncul. Jika ada manusia yang tergantikan karena berkembangnya robot atau teknologi memang ada, dan itu sudah terjadi dari bertahun-tahun sebelumnya. Seperti pada penemuan kuda yang menggantikan tenaga manusia, kemudia penemuan roda yang menggantikan kuda, lalu penemuan mesin uap, komputer, hingga mesin injeksi yang menggantikan mesin diesel saat ini.

Di setiap pekermbangan zaman selalu ada yang namanya Technological Break, yaitu masa transisi akibat munculnya teknologi baru yang kemudian menggantikan teknologi lama. Selalu ada loser dan winner dalam setiap perkembangan teknologi. Yang menjadi winner yaitu orang memiliki keterampilan dan pendidikan tinggi serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan pada akhirnya high paid. Sebaliknya, yang menjadi loser yaitu orang yang kemampuan dan pendidikannya rendah serta tidak mampu beradaptasi dengan teknologi baru dan pada gilirannya diupah rendah. Yang harus menjadi perhatian yaitu bagaimana si winner ini mampu mengadaptasi teknologi lebih cepat. Pilihan selanjutnya adalah apakah kita mau mengkompensasi si loser? Seberapa banyak dan kenapa harus dikompensasi? Atau kita biarkan saja si loser ini nanti mengalami penyesuaian sendiri dengan kemungkinan antara ia tersingkir dari industri atau beralih ke sektor lain sehingga memunculkan sektor-sektor pekerjaan baru. Hal ini telah dibuktikan selama berabad-abad dimana perkembangan teknologi memang menghilangkan sejumlah lapangan pekerjaan, namun ternyata juga menciptakan sejumlah lapangan pekerjaan baru.

Ketika kita menemukan roda dan kuda yang jauh lebih murah dan efisien serta mampu menempuh jarak perjalanan lebih jauh, kita tidak lagi banyak menggunakan orang untuk mendorong/menarik kereta, artinya tadinya manusia yang mendorong kereta tidak lagi mempunyai pekerjaan, namun kemudian orang-orang tersebut belajar teknik menjinakkan kuda, memelihara kuda, ternak kuda ataupun mengendarai kuda sehingga memunculkan lapangan pekerjaan baru dan orang-orang yang kehilangan pekerjaan tersebut bisa beralih ke pekerjaan baru yang tentunya dengan beberapa penyesuaian.

Kemudian ditemukanlah mesin uap pada sejarah revolusi industri yang dimulai di Inggris pada abad kedelapan-belas masehi, pada masa itu mesin uap yang ditemukan mampu memproduksi barang dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif singkat. Pada masa itu muncul kekhawatiran akan terjadinya pengangguran massal dan pengrusakan lingkungan akibat penemuan tersebut. Namun memang benar jika dalam jangka pendek saat itu terjadi pemecatan massal tenaga kerja manusia, tapi di dalam jangka panjang tenaga kerja manusia tersebut mengalami penyesuaian baik dalam hal pendidikan atau keterampilan yang mendukung untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi tersebut. Pekerja manusia yang awalnya hanya mampu bekerja secara fisik, kini mulai belajar bagaimana cara merakit mesin, merawat mesin tersebut, hingga memastikan bahwa mesin tersebut beroperasi secara lancar. Manusia yang awalnya memproduksi pelana kuda, kini mulai belajar cara memproduksi baut serta kompartemen mesin lainnya.

Contoh bahwa bagaimana manusia dan robot bisa saling berdampingan (komplementer) juga bisa terlihat dalam ilustrasi berikut ini, ada sebuah perusahaan outsourcing yang menyewakan tenaga kerja seperti satpam. Di tahun lalu, ada PT A mendatangi perusahaan outsourcing tersebut untuk menyewa 10 orang satpam dengan kriteria yang spesifik seperti menguasai bela diri. Namun di tahun selanjutnya, PT A terebut kembali datang menyewa satpam, tapi kali ini hanya 6 orang satpam saja yang disewa. Kemanakah 4 orang lainnya? Ternyata PT A tersebut menambahkan kriteria baru terhadap satpam yang disewa yaitu yang mampu mengoperasikan komputer PT A juga kini memasang CCTV di setiap sudut perkantoran. Dalam ilmu ekonomi, hal ini dinamakan labor saving technology yaitu penerapan teknologi yang mampu menghemat tenaga kerja. Satpam yang dulu harus sering berpatroli membawa pentungan, kini cukup hanya duduk manis di depan layar monitor memperhatikan setiap sudut perkantoran melalui CCTV dan melakukan kontrol dari jauh.

Kemudian kita pasti bertanya, ada pengurangan dalam jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, lalu kemanakah 4 orang tersebut? Apakah mereka bakal menganggur? Ternyata tidak, pekerja manusia tetap dibutuhkan dalam jumlah yang sama dalam jangka panjang, namun bukan lagi sebagai satpam, tapi kini mereka dibutuhkan sebagai mekanik yang merancang sistem kontrol jarak jauh dengan CCTV kemudian memelihara dan memastikan sistem tersebut berjalan baik.  Tenaga kerja yang sebelumnya belajar bela diri untuk menjadi satpam, kini mulai belajar pemograman dan bagaimana membuat sistem standar keamanan yang terintegrasi.

Hal-hal diatas memang contoh kasus ekstrim dimana perkembangan teknologi menghilangkan sejumlah lapangan pekerjaan, bagaimana jika perkembangan teknologi tersebut hanya sekedar meningkatkan produktifitas tanpa menghilangkan suatu lapangan pekerjaan? Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat terlihat melalui ilustrasi berikut ini, suatu negara tertentu hanya memproduksi dua jenis barang yaitu sosis dan roti, yang dimana kedua barang tersebut bakal dikombinasikan untuk membuat hotdog. Ada 120 juta pekerja yang tersedia di negara tersebut, dimana dibagi dua secara rata yaitu 60 juta orang memproduksi sosis dan 60 juta lainnya memproduksi roti, butuh waktu 2 hari untuk menghasilkan 1 hotdog.

Sekarang bayangkan ada perkembangan teknologi yang memungkinkan produktivitas meningkat dalam pembuatan hotdog dimana lebih sedikit pekerja yang diperlukan untuk membuat roti, peningkatan produktivitas ini memungkinkan konsumen mendapatkan extra 33% hotdog. Memang ada pengurangan tenaga kerja pada pembuatan roti karena meningkatnya produktivitas, namun perlu diingat bahwa roti dan sosis diperlukan dalam jumlah yang sama (sepasang) untuk membuat hotdog, sehingga tidak efisien jika roti diciptakan lebih banyak. Karena proses produksi sosis membutuhkan peningkatan produktivitas untuk mengimbangi produktivitas pembuatan roti, maka caranya yaitu dengan menambah jumlah pekerja, dan alhasil sekarang ada 40 juta orang membuat roti dan 80 juta orang membuat sosis. Pengangguran massal memang akan terjadi jika keterampilan yang dibutuhkan untuk berpindah antar sektor produksi sangat spesifik sehingga membutuhkan waktu untuk penyesuaian. Tapi di dalam jangka panjang, perkembangan teknologi tidak akan meningkatkan pengangguran secara signifikan.

Apa dampak jika usul penerapan pajak bagi robot tersebut diterapkan?

Adopsi teknologi sampai saat ini belum semasif itu bahkan di era serba internet sekarang, contohnya yaitu teknologi transportasi online, berbagai pihak memilik respon yang berbeda-beda terkait perkembangan suatu teknologi. Pihak yang pro akan langsung menyiapkan peraturan perundang-undangan terkait guna mendukung perkembangan tersebut, pihak yang kontra akan langsung melarang dan memberhentikan perkembangan tersebut. Tapi itu semua hanya akan terjadi dalam jangka pendek, di dalam jangka panjang berdasarkan bukti empiris, perkembangan teknologi yang dirasa membawa manfaat cukup besar bagi masyarakat akan perlahan mulai diterima.

Contoh nyata yang telah terjadi di Indonesia yaitu pada tahun 2000 saat awal penggunaan teknologi VOIP (Voice Over Internet Protocol) yang dimana teknologi ini memungkinkan seseorang untuk komunikasi suara jarak jauh seperti menelpon melalui internet dengan biaya lebih murah dan kualitas jaringan lebih baik dibanding telepon pada masanya. VOIP tersebut membuat telepon yang seharusnya bertaraf interlokal alias Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) kemudian “disulap” menjadi bertarif lokal. Pada awalnya, penggunaan teknologi ini mendapat tentangan dari berbagai pihak provider telepon seperti Telkom saat itu. Namun setelah beberapa lama, tanpa disadari banyak pihak, Telkom mulai mengadopsi teknologi VOIP tersebut untuk menciptakan layanan dinamakan Telkomnet Instant dan memanfaatkannya sebagai sumber penghasilan baru. Pelajaran yang bisa diambil dalam contoh tersebut adalah wajar jika pada awalnya perkembangan suatu teknologi mengalami penolakan dari berbagai pihak, hal ini karena adanya Technological Break dan Society Shock, namun pada jangka panjang akan mengalami penyesuaian sendiri.

Dalam jangka pendek, dampak penerapan usulan ini tentu akan berbeda di setiap industri, hal ini bergantung pada apakah industri tersebut bersifat padat karya atau padat modal. Pada industri yang bersifat padat modal dimana penggunaan teknologi sudah cukup intensif, maka pemberlakuan pajak bagi robot ini akan memperlambat proses adopsi teknologi dari industri, berkurangnya intensif perusahaan mengadopsi teknologi serta perusahaan yang sebelumnya berniat untuk menambah faktor produksi berupa kapital dan teknologi harus berpikir ulang akan keputusannya. Sementara, bagi industri yang bersifat padat karya maka penerapan pajak ini tidak berpengaruh secara signifikan, karena mereka sejak awal sudah berproduksi secara lebih efisien dengan menggunakan pekerja manusia.

Penerapan pajak ini akan meningkatkan cost of capital dimana hal ini akan membuat demand terhadap faktor produksi kapital menjadi menurun dan meningkatkan demand terhadap faktor produksi tenaga kerja. Meningkatnya cost of capital akan membuat rasio labor terhadap capital menjadi lebih tinggi sehingga harga tenaga kerja (upah) relatif lebih murah dibanding harga kapital (sewa). Dalam jangka panjang, karena peningkatan permintaan terhadap labor yang tinggi membuat daya tawar pekerja di mata industri menjadi kecil sehingga upah pekerja pun akan menurun.

Selanjutnya, penerapan teknologi ini akan mengurangi social benefit pada masyarakat secara keseluruhan. Dimana sebelumnya proses produksi bisa dilakukan dengan lebih cepat, output berkualitas, dan biaya produksi yang lebih murah kini harus mengurangi efisiensi dari proses produksinya akibat pengenaan pajak tambahan tersebut. Peningkatan pada biaya produksi dan inefisiensi proses produksi tentu akan meningkatkan harga dari output yang dihasilkan, alhasil masyarakat yang sebenarnya bisa menikmati barang/jasa dengan harga lebih murah kini harus rela mengeluarkan uang lebih.

Pada umumnya, struktur biaya produksi dalam jangka pendek yang paling variable yaitu hanya pekerja, sementara biaya faktor produksi lain dianggap tetap (fixed). Tapi akibat dari pengenaan pajak bagi robot membuat struktur biaya pada faktor produksi kapital dan teknologi juga menjadi variable seperti halnya pekerja. Hal ini dikarenakan pajak dikenakan atas persentase tertentu dari suatu komponen sehingga marginal cost dari pengenaan pajak ini menjadi variable. Hal inilah yang nantinya berkemungkinan akan menghambat laju inovasi dalam masyarakat.  Dalam jangka panjang, baik pekerja maupun kapital sama-sama variable. Saat harga tenaga kerja lebih tinggi, maka secara rasional wajar jika industri beralih ke kapital. Namun apa yang terjadi saat perpindahan dari tenaga kerja ke kapital? Manusia akan meningkatkan human capacity melalui pendidikan, pelatihan, dan sebagainya sehingga nantinya tingkat efisiensi penggunaan tenaga kerja meningkat.

Kemungkinan lainnya yaitu teknologi mencari caranya sendiri, dimana ketika kita mengenakan pajak di suatu sektor, teknologi lalu bergerak ke sektor yang lain tanpa bisa diprediksi gerakannnya contoh Go-Pay, sehingga bisa disimpulkan bahwa kebijakan selalu lebih terlambat dari perkembangan teknologi. Dulu orang berjualan di internet merupakan hal yang biasa, lalu tiba-tiba muncul isu penarikan pajak terhadap Google, teknologi pun mengakalinya dengan beralih ke aplikasi-aplikasi smartphone yang belum dikenai pajak saat itu. Penulis mengibaratkan perkembangan teknologi seperti kutu loncat, sulit untuk menangkap atau memprediksi arah gerakannya. Selain itu, pengenaan pajak ini mungkin justru akan semakin meningkatkan laju inovasi dengan menciptakan teknologi yang sangat efisien sehingga walaupun dikenai pajak sekalipun tidak akan mempengaruhi nilai efisiensinya secara signifikan.

Apakah penerapan pajak bagi robot merupakan solusi yang tepat?

Asumsi mendasar yaitu laju inovasi teknologi tidak bisa dihentikan, yang bisa dilakukan hanyalah mempercepat proses adaptasi teknologi tersebut. Usulan Bill Gates ini memiliki tujuan yang mulia yaitu untuk meredistribusi profit perusahaan akibat penggunaan teknologi yang akan dialokasikan untuk biaya pelatihan tenaga-tenaga kerja yang tersingkir dengan tujuan untuk mempercepat proses adaptasi tenaga kerja tersebut terhadap perkembangan teknologi. Pertanyaan menarik selanjutnya adalah pelatihan seperti apa yang bisa diberikan oleh pemerintah?

Pada dasarnya ada dua jenis pelatihan yang dapat diberikan yaitu pelatihan oleh pemerintah yang bersifat umum dan pelatihan oleh perusahaan itu sendiri yang bersifat spesifik. Sumber pendanaan pelatihan oleh pemerintah yaitu berasal dari pajak yang dipungut, sedangkan sumber pendanaan pelatihan oleh perusahaan yaitu berasal dari profit yang mereka hasilkan. Pelatihan yang diberikan oleh pemerintah hanyalah hal-hal mendasar seperti pelatihan bagaimana mengoperasikan komputer, pengoperasian Microsoft Office, pemograman dasar, dan pelatihan mendasar lainnya.

Namun yang perlu diketahui bahwa nantinya robot/mesin akan mengalami spesialisasi tersendiri sama halnya dengan manusia. Pemograman standar keamanan, spesifikasi mesin yang dimiliki, pemograman robot, hingga sistem keuangan suatu perusahaan tentu berbeda dengan perusahaan lainnya. Pelatihan-pelatihan spesifik ini tidak bisa diberikan oleh pemerintah, perusahaan lah yang menyediakan pelatihan tersebut. Seorang akuntan, teknisi mesin, programmer sistem suatu perusahaan belum tentu bisa memakai keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki jika pindah bekerja ke perusahaan lain, sehingga mereka perlu dilatih ulang oleh perusahaan.

Poin terpentingnya adalah jangan sampai setelah pemerintah menarik pajak tambahan dan mengurangi profit perusahaan, namun kemudian alokasi pajak tersebut justru malah sia-sia akibat pelatihan yang diberikan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Tugas pelatihan tenaga kerja tersebut sebenarnya bisa diserahkan kepada perusahaan secara dominan, toh pada akhirnya juga perusahaan lah yang lebih mengetahui spesifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan untuk teknologi yang baru.

Selain itu terdapat juga kebingungan jika nantinya usulan ini akan diterapkan, terutama dalam hal teknis pelaksanaannya. Hal yang pertama yaitu terkait dengan objek pengenaan pajaknya, nilai mana yang ingin dikenai paja, apakah pada nilai gross yaitu saat harga pembelian atau pada nilai netto dimana setelah dikurangi biaya depresiasi, perawatan, dan sebagainya. Kebingungan selanjutnya adalah bagaimana cara mengukur dan memvaluasi tingkat kerugian/social cost yang ditimbulkan dari penggunaan teknologi tersebut.

Kebingungan lainnya yaitu mengenai pemajakan berganda yaitu pengenaan pajak saat pembelian kapital (mesin/robot), selanjutnya pengenaan pajak dari profit perusahaan, belum lagi ada pajak pertambahan nilai, dan apakah tidak memberatkan perusahaan jika harus menambah lagi dengan komponen pajak buat robot? Robot tidak memiliki penghasilan seperti halnya manusia, lalu jika mekanisme pengenaan pajakanya akan sama seperti pajak penghasilan maka mekanismenya tentu akan membingungkan.

Lalu apa yang mesti dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini?

Tidak sebaiknya proses adopsi ini diserahkan sepenuhnya pada pemerintah, pemerintah cukup membuat rules of the games nya, bukan hanya menentukan bagaimana proses redistribusi manfaat dari winner ke loser. Proses bahwa siapa yang mendapat keuntungan atau kerugian tersebut terjadi karena mekanisme pasar, tidak semua orang bisa mencapai puncak rantai produksi. Tugas pemerintah adalah memastikan bahwa orang yang mencapai puncak rantai produksi yaitu yang kompetitif, efisien, kemudian mereka yang mau beralih ke sektor lain diberikan kemudahan, jangan malah dibikin sulit oleh berbagai peraturan yang ada. Dalam meredistribusi resiko, jangan sampai pemerintah melahirkan hambatan baru di dalam indsutri itu sendiri. Peran pemerintah disini memang menjadi dilematis.

Apa yang diatur? Apa yang dilarang? Apa yang dipajakkin? Apa policy spesicificnya? Karena objeknya berbeda-beda dan social cost yang muncul pun beda-beda. Pemerintah harus mempertimbangkan setiap elemen masyarakat, kepentingan masyarakat tidak cuma menyangkut permasalahan tenaga kerja, dan memang benar jika selalu ada trade-off yang muncul, selalu ada pihak yang menang dan kalah dari setiap keputusan yang diambil, itu memang resiko.

Kesimpulan

Pengenaan pajak untuk robot saat ini penulis rasa belum saatnya untuk diterapkan, namun di dalam jangka panjang mungkin itu akan benar-benar diterapkan dan bahkan bisa menjadi sumber pemasukan baru bagi negara. Selain itu, penulis merasa bahwa fenomena tergantinya pekerja manusia oleh robot belum begitu mengkhawatirkan, dan seperti yang telah dikatakan bahwa selamanya robot tidak bisa menjadi substitusi manusia sepenuhnya, masih ada pekerjaan yang lebih baik jika dilakukan oleh manusia.

Mungkin ada baiknya jika teknologi robot atau sejenisnya dibiarkan saja berpenetrasi terlebih dulu di dalam masyarakat, lalu setelah sekian lama setelah sistemnya stabil baru memikirkan bagaimana kita bisa mengenakan pajak terhadap robot atau teknologi sejenisnya tersebut.

Permasalahan yang seharusnya diperhatikan yaitu mengenai bagaimana cara menggeser struktur labor yang ada saat ini dari unskilled labor menuju skilled labor. Dan bagaimana agar para tenaga kerja ini mampu mengadopsi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang ada. Solusi yang lebih tepat mungkin dengan menciptakan banyak lapangan pekerjaan baru terkait dengan perkembangan teknologi tersebut, pemerintah dan masyarakat itu sendiri harus mampu menangkap peluang dari perkembangan teknologi.

Kesimpulan selebihnya saya serahkan kepada pembacara yang budiman. Namun pertanyaan terakhir dari penulis, So, Being Efficient is a Sin?

SEKIAN

Referensi :

Acemoglu, D and D Autor (2011) “Skills, tasks and technologies: Implications for employment and earnings,” Handbook of Labor Economics, 4: 1043-1171.

Acemoglu, D and P Restrepo (2016) “The Race Between Machine and Man: Implications of Technology for Growth, Factor Shares and Employment” NBER Working Paper No. 22252

Acemoglu, D and P Restrepo (2017) “Robots and Jobs: Evidence from US Labor Markets” NBER Working Paper No. 23285

Autor, D H, F Levy and R J Murnane (2003) “The Skill Content of Recent Technological Change: An Empirical Exploration,” The Quarterly Journal of Economics, 118(4): 1279-1333.

Boston Consulting Group (2015) The Robotics Revolution: The Next Great Leap in Manufacturing.

Brynjolfsson, E and A McAfee (2014) The Second Machine Age: Work, Progress, and Prosperity in a Time of Brilliant Technologies, W. W. Norton & Company.

Chui, M, J Manyika, and M Miremadi (2016) “Where machines could replace humas and where the can’t (yet)”, McKinsey Quarterly, July

Ford, M (2015) The Rise of the Robots, Basic Books, New York.

Frey, C B and M A Osborne (2013) “The Future of Employment: How Susceptible are Jobs to Computerisation?” Mimeo. Oxford Martin School.

Graets, G and G Michaels (2015) “Robots at Work,” CEP Discussion Paper No 1335.

International Federation of Robotics (2014) World Robotics: Industrial Robots.

***

Penulis: Naufal Maulana, Wakil Kepala Departemen Kajian, Akuntansi, FEB, 2015.
Ilustrasi gambar: https://www.exoplatform.com/blog/2017/02/24/bill-gates-proposes-compensating-for-job-losses-adding-a-tax-on-robots