Absurdnya Dikotomi TNI dan Polri

Menarik untuk mengetahui bahwa doktrin pertahanan keamanan rakyat telah dipecah menjadi dua. Pertama, pertahanan terhadap ancaman musuh dari luar secara fisik frontal yang disebut menjadi tugas TNI. Kedua, keamanan dan ketertiban dalam negeri yang disebut menjadi tugas Polri. Pertanyaannya, jika sampai puluhan atau ratusan tahun yang akan datang Indonesia tidak mendapat serangan atau musuh yang akan menyerang Negara Indonesia, lantas apa tugas dan urgensi TNI? Apakah segala bentuk anggaran dan pelatihan yang dikeluarkan negara kepada TNI hanya untuk menjadikannya “centeng” yang hanya menunggu musuh masuk?

57175

57176

57177

Pemisahan tugas yang absurd semacam ini pada dasarnya telah membodohi rakyat dan TNI itu sendiri akan potensi dan apa yang seharusnya dilakukan oleh rakyat serta TNI. Pada saat ini, sekiranya serangan musuh tidak lagi seperti pada masa perang yang secara tegas menghantam dengan pedang, memberondong dengan peluru dari senapan, atau menyerbu dengan tank dan rudal-rudal panas yang menghancurkan. Serangan musuh saat ini adalah serangan yang jauh lebih subtil atau halus–jauh lebih canggih. Serangannya dengan memasuki, mempengaruhi, dan membentuk agen-agen lokal melalui unsur-unsur ideologi, politik, ekonomi, dan sosial-budaya yang melemahkan sistem ketahanan nasional. Dengan demikian, serangan musuh terhadap pertahanan negara saat ini adalah untuk memecah negara dari dalam secara perlahan melemahkan ideologi dan etos pemersatu negara.

Untuk menghadang bahaya subtil semacam itu, yang bahkan tidak disadari tentu sangat absurd untuk menyebut itulah tugas TNI atau Polri semata. Jika ingin vulgar menyebut, tentu merupakan suatu kebodohan yang cukup tinggi jika 200 juta rakyat Indonesia memangku tangan dan meminta perlindungan kepada anggota TNI ataupun Polri yang tidak seberapa jumlahnya. Tentu begitu absurd untuk semata-mata menyalahkan institusi TNI atau Polri jika terdapat serangan-serangan subtil semacam itu berhasil menggoyahkan ketahanan nasional. Namun, bukan berarti dengan pernyataan ini saya menegaskan institusi TNI dan Polri dapat membebastugaskan dirinya, sama sekali tidak!

Sekiranya apa yang dimaksud dengan pelindung ketahanan nasional adalah setiap warga negara menjadi tentara profesional. Maksudnya adalah bukan dengan mendaftar menjadi anggota TNI ataupun Polri, melainkan dengan melatih dan menempa diri dalam ilmu kemiliteran dan ilmu-ilmu pendukung yang sekiranya berguna untuk mempertahankan keutuhan negara. Hal ini sesuai dengan Falsafah Pancasila dan Demokrasi Pancasila yang tidak mengenal dikotomi atau perbedaan sipil dan militer. Demokrasi Pancasila mewariskan budaya “kebersamaan” dan “gotong-royong”, dan menempatkan TNI sebagai rakyat, warga negara yang dilatih dan dipersenjatai, sebagai pejuang yang ikut membangun bangsa dan segenap kapasitas yang dimilikinya.

Mengutip pesan Marsekal Muda TNI (Purn) Teddy Rusdy dalam bukunya Jati Diri, Doktrin dan Strategi TNI, sebagai berikut “Para pemikir reformis, saya berharap dengan intelektualitas kita semua, segera sadar untuk dibawa oleh unsur-unsur asing, konsepsi asing yang akan menghancurkan Negara-Bangsa NKRI”. Harus dipahami dan diulang-ulang dalam benak serta pikiran setiap warga negara bahwa penaklukan suatu bangsa tidak hanya melalui sarana kekuatan militer, melainkan juga melalui sarana non-militer. Sebagai warga negara Indonesia, sudah sepantasnya kita ikut terlibat secara nyata dan kontinu demi terjaganya kesatuan dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan sampai NKRI bernasib sama seperti negara-negara lainnya yang telah hancur karena tidak mampu mendeteksi ancaman-ancaman subtil yang menghancurkan. Merdeka!!!

57178

57179

Daftar Pustaka:
Rusdy, Teddy. 2016. Jati Diri, Doktrin dan Strategi TNI. Jakarta: Kertagama.
Tuomela, Raimo. 2007. The Philosophy of Sociality: The Shared of Point. Oxford: Oxford University Press.

***

Penulis: Musfi Romdoni, Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi, FIB, 2015.
Ilustrasi Gambar: Yuhana Kinanah, Kepala Departemen Media, Informasi, dan Penerbitan, FF, 2016.